Korem 152 Mengajak Masyarakat Waspadai Ancaman ISIS

Ternate (WartaMerdeka) – Meningkatnya ancaman ISIS yang sudah menduduki Kota Marawi, Filipina Selatan. Sudah sepantasnya Indonesia sebagai negara tetanggam, perlu waspada, dari kemungkinan infiltrasi maupun eksfiltrasi dari kelompok maupun simpatisan ISIS di wilayah Indonesia. Oleh karenanya, jajaran Kodim 1508/Tobelo melaksanakan berbagai upaya pencegahan salah satunya melalui pendekatan dan sosialisasi terhadap masyarakat yang berada di pedalaman dan perbatasan (22/6).
Kondisi geografis Pulau Morotai yang terletak di bibir Pasifik serta secara historis memiliki jejak hubungan dengan nelayan Filiphina pada zaman dahulu, menjadikan masyarakat dari kedua negara leluasa keluar masuk dan melaksanakan perdagangan di Morota. Oleh karena itu Dandim 1508/Tobelo Letkol Arh Herwin Budi Saputra didampingi sejumlah pimpinan FKPD, Camat dan perangkat Desa di jajaran Pemkab. P. Morotai gencar melakukan pertemuan dan sosialisasi bahaya faham radikal serta mengantisipasi adanya upaya infiltrasi dari kelompok tersebut khususnya ISIS dari Marawi Filiphina di Desa terluar dan terpisah seperti Pulau Rao, Pulau Ngele-Ngele, Pulau Galo-Galo, Pulau Koloray.
Dalam setiap pertemuan dengan masyarakat, Dandim beserta sejumlah pejabat terkait memberikan pemahaman tentang jati diri Bangsa Indonesia yang dibentuk dalam keberagaman suku, ras dan agama serta pentingnya persatuan dan kesatuan antar seluruh komponen bangsa guna mempertahankan NKRI. Saat ini RI menghadapi dua ancaman nyata, pertama adalah Faham Komunis dimana sejarah mencatat PKI telah melakukan serangkaian pengkhianatan kepada Bangsa dimulai dari 1926, 1948 dan 1965. Setelah vakum cukup lama saat ini gerakan tersebut telah mulai muncul ke permukaan dan menyusun kembali kekuatan untuk memberontak kepada NKRI serta mengganti Dasar Negara Pancasila menjadi Komunis. Mereka sengaja menggiring berbagai opini bahwa Pancasila sudah tidak relevan dengan kehidupan modern. Perlu diketahui bersama bahwa Pancasila disusun berdasarkan semangat dan falsafah hidup bangsa Indonesia yang merupakan jati diri bangsa, dan Pancasila selamanya akan tetap menjadi Ideologi NKRI yang tak lekang oleh zaman.
Kedua adalah adanya Faham Fundamentalis yaitu faham berdasarkan agama tertentu untuk dijadikan sebagai dasar Negara. Kekalahan kelompok ISIS di Suriah hingga terdesak dan menguasai Marawi di Filiphina dan posisinya saat ini kian terpojok serta berusaha melarikan diri ke Negara-Negara tetangga termasuk Indonesia. Oleh karenannya Pulau Morotai sebagai wilayah yang berbatasan dengan Negara Filipina patut diwaspadai sebagai sasaran Infiltrasi dari kelompok ISIS Filiphina.
Saat ini aparat keamanan tengah meningkatkan pengamanan dengan melakukan patroli di daerah pesisir dan pulau terpencil. Tetapi dihadapkan dengan jumlah wilayah yang sangat luas dengan personel maupun alutsista yang terbatas sehingga diperlukan peran serta dari seluruh masyarakat untuk turut serta mencegah wilayahnya disusupi kelompok radikal tersebut dengan cara mewaspadai Nelayan-nelayan dari Filiphina, Juga melaksanakan pendataan warga baru dan pendatang, agar tidak mudah terpengaruh dengan ajaran sesat yang tidak sesuai dengan ajaran agama masing-masing serta melaporkan kepada aparat kemanan baik TNI maupun Polri setiap ada kegiatan yang mencurigakan.
Dandim 1508/Tobelo menekankan bahwa kegiatan sosialisasi di wilayah-wilayah tersebut guna mengantisipasi adanya upaya penyusupan dari kelompok radikal. Selain itu juga membangun early warning system sehingga setiap adanya indikasi pergerakan dari kelompok tersebut dapat segera terdeteksi dan dapat diambil tindakan segera guna menciptakan wilayah Morotai dan Halut yang kondusif (bp).
Foto: Penrem 152/Babullah
Share:

Baca Buku Gratis di Motor Pustaka

Metrotvnews.com, Jakarta: Bagi Sugeng Hariyono, bisa berbagi buku bacaan dan melihat anak-anak di sekelilingnya tersenyum saat menggenggam buku bacaan yang dicari, memberikan kepuasan tersendiri. Melalui Motor Pustaka yang digagasnya sejak 2014, Sugeng bergerilya menebarkan semangat baca di tanah rantaunya, Lampung.

“Yang saya dapatkan adalah sebuah kenikmatan. Ketika anak-anak tersenyum mendapat buku yang mereka ingin, ini kepuasan tersendiri bagi saya. Saat berkeliling meminjamkan buku, saya melihat ada interaksi anak dengan orang tua mengenai buku bacaan yang pas,” kata Sugeng di program acara Mata Najwa Metro TV, beberapa waktu lalu.

Pria asal Ponorogo, Jawa Timur, ini bercerita awal mula mendapatkan inspirasi menggagas Motor Pustaka. Sugeng yang kesepian di tanah rantau, Lampung, ingin mengusir sepi dengan membaca buku. Ia mencari perpustakaan dan bertanya kepada penduduk setempat di mana lokasi perpustakaan terdekat. Namun, jawaban yang didapatnya mengiris hati.

“Bapak itu malah tanya, ‘Perpus (perpustakaan) itu apa ya, mas?’ Dalam hati saya bilang, ‘Perpus saja tidak tahu, apalagi mau baca buku.’ Sejak saat itu, saya bertekad, harus punya perpus sendiri walaupun saat itu saya tidak mungkin bisa punya bangunan atau gedung, tapi saya ingin sekali. Akhirnya, pelan-pelan bisa membuat Motor Pustaka. Orang bisa pinjam buku, gratis,” tutur Sugeng.

Kemudian, untuk mewujudkan Motor Pustaka, Sugeng yang kala itu bekerja sebagai tukang tambal ban di sebuah bengkel, mendatangi pedagang rongsokan. Di sana, dia menjumpai seonggok motor yang hanya terdiri dari sasis dan mesin.

“Saya tabung uang dari hasil tambal ban Rp500 ribu. Di tempat jualan rongsok itu saya bisa beli motor rongsok yang setelah ditimbang harganya Rp450 ribu. Saya senang sekali. Motor itu diservis pelan-pelan oleh yang punya bengkel tempat saya bekerja. Akhirnya, mulai 2014 bisa dipergunakan,” kata Sugeng, mengenang.

Motor sudah ada. Sugeng lalu putar otak untuk mendapatkan wadah yang akan digunakan mengangkut buku bacaan. Tak sengaja, dia melihat seorang ibu penjual makanan yang membawa dagangan menggunakan tas. Sugeng lalu membeli tas serupa dan menjadikannya wadah menampung 120 buku di atas motornya.

“Tas itu saya jahit pakai rafia. Tidak apa-apa, itu menjadi semangat bagi saya,” ucap pria yang istrinya juga pegiat literasi, Centhul Pustaka.

Motor dan wadah membawa buku sudah di tangan. Lalu, bagaimana cara Sugeng memeroleh buku bacaan? Rupanya, buku pun didapat dari pedagang barang rongsok tempatnya membeli motor tadi. Buku sebanyak 60 buah ditimbang oleh si pedagang barang rongsok, dan dihargai Rp15 ribu. Tak perlu berpikir dua kali, Sugeng langsung membelinya dengan suka cita.


Sugeng Hariyono ketika berbagi kisah inspiratif Motor Pustaka di program acara Mata Najwa, MetroTV

Pada bulan pertama menjajakan buku bacaan gratis dengan Motor Pustaka, belum banyak orang yang tertarik membaca. Sebab, Sugeng dikira berjualan buku. Tak putus asa, dia berupaya agar orang mengenal Motor Pustaka. Kini, upayanya itu berbuah manis.

“Itu sesuatu bagi saya. Lalu saya berupaya untuk menambah buku, keliling ke 200 rumah warga, dapat 42 buku. Itu juga saya dapat cacian, mereka bilang mau-maunya punya kegiatan yang tidak ada hasilnya. Saya dibilang, ‘Hidup saja masih menumpang, makan tiap hari saja sudah bersyukur, kerja saja yang benar biar sukses.’ Tapi ini justru memotivasi saya,” kata Sugeng.

Sugeng lalu mencari cara untuk menambah koleksi buku bacaan melalui donatur buku. Dengan keterbatasan alat teknologi, akhirnya dia berhasil mendapatkan donatur.

“Ponsel saya tidak canggih. Lalu, saya pinjam camera digital dan fotonya saya unggah ke Facebook. Itu pun membutuhkan waktu lama, satu foto memakan waktu dua jam upload. Alhamdulillah, ada yang merespons. Namanya Mbak Fitri, dari Riau,” kata Sugeng.

Kini, jumlah buku yang tersedia di Motor Pustaka sebanyak 3.600 judul. Semua buku itu tak cuma ada di Motor Pustaka, melainkan tersebar di Armada Pustaka Lampung, yang terdiri dari Onthel Pustaka, Perahu Pustaka, Centhul Pustaka, Pustaka Jalanan, Matic Pustaka, dan Ransel Pustaka.

Itu adalah kisah inspiratif dari Sugeng, penggagas Motor Pustaka di Lampung. Apakah Anda terinspirasi dengan semangat dan kegigihan Sugeng untuk menularkan semangat membaca?

Jangan ragu untuk berbuat baik. Apalagi, pada bulan Ramadan seperti sekarang ini. Jika Anda merasa belum mampu berbuat seperti Sugeng dengan Motor Pustaka, Anda bisa memulai langkah kecil dengan mendukung gerakan #BukuUntukIndonesia.

Gerakan #BukuUntukIndonesia mengajak masyarakat berbagi kebaikan dengan memberikan buku gratis ke pelosok negeri.

Awali langkah kebaikan Anda dengan mengunjungi tautan www.BukuUntukIndonesia.com.  Klik tombol “berbagi” di website Buku Untuk Indonesia. Kemudian, Anda akan diarahkan ke laman Blibli.com untuk memilih paket berbagi yang diinginkan.

Dengan berbagi minimal Rp100 ribu saja Anda sudah berpartisipasi untuk mewujudkan generasi penerus bangsa yang lebih baik. Nantinya, dana yang terkumpul melalui gerakan #BukuUntukIndonesia akan dikonversi menjadi buku dan disalurkan ke berbagai daerah di Indonesia.

(ROS)

Copyright : metrotvnews.com
Share:

Berkah Lebaran, Penjualan Mobil Bekas Melonjak 30 Persen

Metrotvnews.com, Jakarta: Jelang Idulfitri banyak masyarakat yang membutuhkan kendaraan, baik kondisi baru atau pun bekas, untuk di bawah mudik ke kampung halaman. Bahkan sebuah data menunjukan permintaan mobil bekas meningkat hingga 30-50 persen.

Menurut data yang dikumpulkan tim Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Carmudi.co.id, menunjukan para pemain mobil bekas mendapatkan berkah di sepanjang bulan Ramadhan. Faktor persiapan mudik dan pemberian uang tunjungan hari raya (THR) menjadi pemicu utama banyak masyarakat mengambil mobil baru.


 “Jelang lebaran tahun ini penjualan kita naik. Kalau dihitung-hitung naik sekitar 30 persen. Kalau bulan bulan biasa rata-rata terjual 15 unit, sekarang saya sudah berhasil menjual kurang lebih 22 unit,” tulus Pemilik Showroom Tiluf Mobiliondo di Bekasi, Agus Agustyady, melalui keterangan resminya.

Jika menilik jenis mobil bekas yang banyak terjual, masyarakat masih banyak mencari mobil untuk keluarga seperti multi purpose vehicle (MPV) seperti Toyota Avanza, Daihatsu Xenia, dan sejenisnya. Selanjutnya mobil murah atau low cost green car seperti Toyota Agya, Daihatsu Ayla, atau Honda Brio Satya juga banyak di buru peminat mobil bekas.

Pembelian mobil bekas LCGC tentu karena harganya yang terjangkau. Bahkan dengan down payment Rp10 juta, konsumen sudah bisa membawa pulang Brio Satya atau Agya.

Tak cuma di area Jabodetabek, perputaran bisnis mobil bekas juga cukup tinggi di Semarang Jawa Tengah. Bahkan litbang Carmudi mancatat penjualan mobil bekas mencapai 110-120 unit per bulan.


Bahkan peluang ini coba dimanfaatkan oleh website jual mobil bekas tersebut dengan membangun sentra penjualan mobil bekas Carsentro Semarang. Lokasinya berada di Jalan Ahmad Yani no 189 Semarang dianggap cukup strategis, dan diharapkan dapat membantu meningkatkan penjualan mobil bekas di Semarang dan sekitarnya.

Kemudian melihat sudut pandang metode pembelian mobil bekas, lembaga pembiayaan BCA Finance mencatat 70 persen dilakukan dengan cara kredit. Pemicu utama pembayaran DP karena adanya THR yang di terima jelang lebaran.

(UDA)

Copyright : metrotvnews.com
Share:

“Kita Menjadi Bangsa yang Mundur jika Masih Mempersoalkan Perbedaan”

Metrotvnews.com, Jakarta: Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Republik Indonesia Oesman Sapta Odang menyerukan rakyat Indonesia untuk memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa, serta menjaga kebersamaan demi membangun bangsa. Kebersamaan yang dimaksud adalah ikut mewujudkan suksesnya pembangunan tanpa membedakan suku, agama atau golongan.

“Perbedaan adalah rahmat. Kita menjadi bangsa yang mundur dan ketinggalan peradaban jika masih mempersoalkan perbedaan yang ada di antara kita,” kata Oesman Sapta.

Oesman Sapta berharap khususnya kepada seluruh warga Minang untuk tetap menunjukkan jati dirinya sebagai masyarakat yang mudah bergaul.

“Saya juga berpesan agar masyarakat Minang senantiasa merawat Kebhinnekaan dan memperkuat persatuan,” kata Oesman Sapta, pada acara buka puasa bersama yang diselenggarakan oleh Gerakan Ekonomi dan Budaya Minang (GEBU MINANG) di Jakarta, Minggu, 18 Juni 2017.


Ketua DPD RI Oesman Sapta Odang (Foto:Dok.DPD RI)

GEBU MINANG merupakan organisasi yang didirikan dalam rangka memperkuat tali silaturahmi dan persaudaraan masyarakat Minang. Organisasi yang telah berusia lebih dari 27 tahun ini diketuai Oesman Sapta, sejak 2016. Tokoh yang hadir, di antaranya Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon, Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar, tokoh Polri Prof.Dr. Awaloedding Djamin, Yusril Ihza Mahendra, Wakil Gubernur Sumatera Barat, Wakil Wali Kota Padang, Rektor Universitas Andalas, dan Rektor UMP.

(ROS)

Copyright : metrotvnews.com
Share:

Noken Pustaka, Pegiat Literasi dari Timur Negeri

Metrotvnews.com, Jakarta: Mendengar kata noken, identik dengan kehidupan di Papua. Ya, masyarakat Papua kerap memanfaatkan tas berbahan kulit kayu ini untuk membawa banyak benda. Di Manokwari, ada seorang guru yang memanfaatnya untuk membuat Noken Pustaka.

Noken Pustaka merupakan prakarsa dari seorang guru bernama Misbah Surbakti. Upayanya menyewakan buku gratis kepada anak-anak di sana, tak lepas dari hati nurani yang mulia agar menjadikan anak Indonesia, Papua pada khususnya cerdas dan berpengetahuan luas.

Ini berangkat dari rasa prihatin ketika murid-muridnya tak bisa mengerjakan soal ujia. Penyebabya adalah kurang buku bacaan, lalu membuat hatinya terketuk.

“Sebagai guru, saya punya beban moril. Sudah dilaporkan tapi tidak ada respons, kami ajukan perbaikan sudah 10 tahun. Daripada menyalahkan orang lain, lebih baik ambil jalan tengah. Bersama relawan,kami kumpulkan buku. Kita mulai gerakan ini. Saya aplikasikan pada kegiatan Pramuka. Saya bikin program Ayo Membaca,” kata Misbah, menjelaskan.

Namun sayang, gerakan itu tak semulus apa yang ada dalam angannya. Akhirnya dia pun kembali memutar otak, bagaimana agar para siswanya bisa terampil membaca. Kemudian barulah dia mencetuskan untuk menyediakan buku, sumbernya dari lingkungan civitas akademik sekolah tempatnya bekerja.

“Buku dari kita-kita saja. Nah anak-anak yang mampu membuat ringkasan-ringkasan dari buku yang mereka baca kita jadikan relawan. Jadi mereka kami minta untuk berbagi mengajari membaca temannya. Jadi mulanya hanya untuk di sekolah, tapi saya tidak menyangka bisa seperti sekarang,” kenang pria asal Brastagi, Sumatera Utara ini, dalam program Mata Najwa Metro TV.

Noken Pustaka kini telah berkembang dan punya sekitar 40 lebih relawan, yang tiap periode tertentu berkorban keliling desa dan ‘naik turun gunung’ untuk menyewakan buku bacaan bagi anak-anak. Ada pula beberapa armada lain, seperti perahu pustaka, motor pustaka dan ojek pustaka.

“Saya tidak kepikiran akan menjadi banyak. Alhamdulillah, ada niat baik dan bertemu orang baik. Kita punya sedikit pengorbanan, ternyata ada orang yang punya lebih ingin membantu. Alhamdulillah, ketemu Nirwan Arasuka, yang membukakan jaringan. Lalu, kita bikin Facebook,” ucapnya, mengenang.

Salah satunya relawan Noken Pustaka adalah Agus Mandowen, yang telah bergabung dengan Noken Pustaka sejak Desember 2014. Dia semula berprofesi sebagai petugas keamanan di sekolah tempat Misbah mengabdi mengajar.

Melihat betapa antusiasnya anak-anak meminjam buku, nurani Agus terbuka. Agus merasa terisnpirasi dari gerakan yang diprakarsai Misbah ini. “Saya lihat adik-adik bawa buku ke rumah untuk dipinjamkan kepada kawan-kawan di kompek rumah mereka. Sedangkan saya badan besar dan kuat, kenapa tidak (melakukan hal yang sama)?” ujar pria yang juga atlet angkat berat ini.

Dirinya pun tak merasa keberatan menggendong noken berisikan 30 buku, setiap kali berjalan kaki, seminggu dua kali, menempuh jarak 1 kilometer. Ditambah lagi, awal dia membawa Noken Pustaka, tak sedikit yang mencibirnya.

Banyak yang memandang upaya Agus ini sia-sia, karena pekerjaan ini tidak menghasilkan keuntungan. Namun demikian tak menjadi halangan bagi Agus. D balik ini semua, dia punya misi mulia, yakni melihat anak-anak Papua bisa mendapatkan buku bacaan.

“Di kampung saya dibilang, ‘Kau gila kah? Karena ini pekerjaan tidak menghasilkan.’ Saya cuma jawab dalam hati, saya rasa puas ketika lihat adik-adik saya, kulit hitam, rambut keriting, bisa pegang buku. Walaupun tidak bisa membaca, hanya bisa lihat gambar terus tersenyum. Itu sudah membuat saya rasa senang, itu lebih dari uang,” tutur Agus.

Upaya Noken Pustaka membuka akses mendapatkan buku bagi anak-anak di pedalaman Papua, sangat menginspirasi. Tidakkah hati Anda tergerak untuk berbuat kebaikan serupa? Anda juga bisa memberikan sumbangsih memfasilitasi buku bacaan yang berkualitas bagi anak-anak di pelosok negeri.  Caranya, dengan bergabung di gerakan #BukuUntukIndonesia.

Gerakan ini bertujuan mengajak masyarakat peduli akan ketersediaan buku di daerah, dengan berdonasi Rp100ribu. Uang tersebut akan dikonversi menjadi buku untuk disalurkan kepada anak-anak di sejumlah daerah di Indonesia.

Bila Anda juga tertarik untuk berdonasi dan turut menumbuhkan minat membaca buku di Tanah Air, silakan klik www.bukuuntukindonesia.com. Yuk, mulai langkah kebaikan Anda, hari ini!

(ROS)

Copyright : metrotvnews.com
Share:

Industri RI-Tiongkok Investasi USD1,63 Miliar di Morowali

Metrotvnews.com, Jakarta: Kementerian Perindustrian (Kemenperin) telah aktif mendorong investor Tiongkok agar menambah mitranya dengan pengusaha lokal serta penanaman modalnya di Indonesia terutama guna mendukung pembangunan kawasan industri di luar Pulau Jawa.

“Kami mengapresiasi adanya kerja sama B to B (Business to Business) kedua negara, yang diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pendalaman struktur serta peningkatan daya saing industri nasional. Bahkan juga mampu memacu pemerataan pembangunan dan kesejahteraan di Indonesia,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, dalam siaran persnya, Sabtu 17 Juni 2017.

Komitmen tersebut terealisasi melalui penandatanganan MoU antara Tsingshan Group dan Delong Group dengan PT Indonesia Morowali Industrial Park tentang kerja sama pembangunan pabrik carbon steel di kawasan industri Morowali, Sulawesi Tengah dengan kapasitas mencapai 3,5 juta ton per tahun dan total nilai investasi sebesar USD980 juta.

Selain itu, ditandatangani pula MoU antara Tsingshan Group dengan Bintang Delapan Group dan PT Indonesia Morowali Industrial Park tentang kerja sama pembangunan pembangkit tenaga listrik di kawasan industri Morowali, Sulawesi Tengah dengan kapasitas 700 megawatt (mw) dan total nilai investasi sebesar USD650 juta.

Menurut Airlangga, kerja sama tersebut merupakan salah satu tindak lanjut pertemuan bilateral antara Presiden RI Joko Widodo dan Presiden RRT Xi Jinping terkait peningkatan kerja sama ekonomi Indonesia-Tiongkok pada Belt and Road Forum for International Cooperation di Beijing, Tiongkok, Mei 2017.

“Terkait Belt and Road Initiative, Kemenperin juga telah mendorong peningkatan kerja sama investasi Tiongkok di kawasan industri Tanah Kuning, Kalimantan Utara, serta kawasan industri prioritas lainnya seperti di Sumatera Utara dan Sulawesi Utara,” paparnya.



Penandatanganan MoU ini dilakukan di sela pelaksanaan China-Indonesia Cooperation Forum: Belt and Road Initiative and Global Maritime Fulcrum di Beijing, Tiongkok, 16 Juni 2017. Turut menyaksikan kesepakatan kerja sama tersebut, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Trikasih Lembong, dan Duta Besar Indonesia untuk Tiongkok Sugeng Rahardjo.

Selanjutnya, hadir pula mewakili Menteri Perindustrian, yakni Dirjen Ketahanan dan Pengembangan Akses Industri Internasional (KPAII) Kemenperin Harjanto serta Dirjen Pengembangan Perwilayahan Industri (PPI) Kemenperin Imam Haryono. Dalam rangkaian kegiatan China-Indonesia Cooperation Forum, Imam Haryono memberikan pemaparan mengenai potensi kerja sama investasi serta beberapa fasilitas infrastruktur yang akan dibangun di kawasan industri di Kalimantan Utara, Sumatera Utara dan Sulawesi Utara.

Di samping itu, Harjanto menyampaikan kebijakan industri nasional yang mengarah kepada kerja sama pengembangan kawasan dan investasi di luar Pulau Jawa serta pemberian insentif yang menarik bagi calon investor. Di kesempatan berbeda, delegasi Indonesia melakukan pertemuan dengan China Communications Constructions Company Ltd. (CCCC). Diharapkan, CCCC dapat turut berpartisipasi dalam kerja sama pengembangan kawasan industri di luar Pulau Jawa serta mampu menarik unit-unit usahanya untuk berinvestasi pada sektor manufaktur di Indonesia.

Menurut Harjanto, pihak CCCC mengakui, Indonesia merupakan mitra potensi yang strategis bagi mereka terutama dalam pengembangan proyek infrastruktur, seperti pembangkit tenaga listrik, jembatan, dan jalur kereta api. “Salah satu unit usaha CCCC, yakni China Harbour secara spesifik menyatakan tertarik pada pengembangan kawasan industri di Kuala Tanjung dan kerja sama di sektor pelabuhan,” ujarnya.

Kemenperin mencatat, investasi Tiongkok di Indonesia menduduki peringkat ke3 sebagai PMA pada sektor manufaktur dengan nilai mencapai USD2 miliar, yang tersebar pada 594 proyek. Nilai ini meningkat 839 persen dibanding periode yang sama di 2015. Selama 2014-2016, konsentrasi investasi manufaktur Tiongkok di Indonesia, yaitu pada sektor logam, mesin dan elektronik, mineral nonlogam, kimia dan farmasi, serta makanan.

(AHL)

Copyright : metrotvnews.com
Share:

Masih Alinejad, perempuan Iran penggagas gerakan lepas hijab



Perempuan Iran 
Para perempuan di Iran mengenakan pakaian serba putih pada hari Rabu dan membuang hijabnya sebagai bentuk protes terhadap kewajiban berpakaian di negara itu.

Sebuah kampanye baru di media sosial yang menentang kewajiban berhijab bagi kaum perempuan di Iran meraih banyak dukungan di negara itu.

Dengan menggunakan tanda pagar bertuliskan #whitewednesdays, para netizen mengunggah berbagai foto dan video mereka yang mengenakan hijab berwarna putih atau pakaian serba putih sebagai ungkapan protes.

Gagasan ini dikemukakan oleh Masih Alinejad, pendiri My Stealthy Freedom, sebuah gerakan daring yang menentang kewajiban berhijab di Iran.

Sebelum revolusi Islam pada tahun 1979, banyak perempuan Iran mengenakan pakaian ala barat, termasuk memakai rok mini dan atasan lengan pendek, namun semua ini berubah ketika mendiang Ayatollah Khomeini berkuasa.

Kaum perempuan di Iran bukan hanya dipaksa untuk menutupi rambut mereka sesuai dengan suatu tafsir atas suatu aturan Islam, tapi mereka juga berhenti memakai riasan dan mulai memakai atasan yang melebihi lutut.

Lebih dari 100.000 perempuan dan pria turun ke jalan-jalan untuk melakukan demonstrasi menentang undang-undang tersebut pada tahun 1979, dan perlawanan terhadap kebijakan itu tidak pernah hilang.

Dalam waktu tiga tahun, lembaga My Stealthy Freedom sudah menerima lebih dari 3.000 foto dan video yang memperlihatkan para perempuan tanpa hijab.

Foto-foto yang diunggah dalam situs My Stealthy Freedom biasanya diambil secara sembunyi-sembunyi agar tidak ketahuan oleh pihak berwenang, #whitewednesdays merupakan wadah bagi para perempuan yang ingin menunjukkan diri mereka tanpa hijab di depan umum.


Mengambil resiko


Kini di minggu kelima, tagar #whitewednesdays sudah menarik banyak pengikut - lebih dari 200 video dikirim ke Alinejad dalam dua minggu pertama, beberapa di antaranya sudah disaksikan sebanyak 500.000 kali.

"Saya sangat terpacu untuk turut serta dalam kampanye ini," tutur salah seorang kontributor dalam sebuah video saat ia berjalan kaki di sebuah jalan protokol. "Saya ingin berbicara kepada Anda tentang nasib saya yang terkungkung, mereka memaksa saya mengenakan hijab sejak saya berusia tujuh tahun," katanya sambil melepaskan hijabnya, "padahal saya merasa tidak pernah berkomitmen terhadapnya dan tidak akan pernah."

Alinejad mengatakan ia kagum atas keberanian yang ditunjukkan oleh para perempuan tersebut - beberapa diantaranya mengirim video yang memperlihatkan mereka tengah berjalan-jalan tanpa mengenakan hijab sama sekali.

"Ketika saya menyatakan kekhawatiran saya tentang keamanan (seorang perempuan yang mengirimkan video)," kata Alinejad, "ia menjawab bahwa ia lebih suka membahayakan pekerjaannya daripada terus hidup di bawah penindasan yang diderita perempuan Iran selama 38 tahun terakhir."

Bagi Alinejad, proyek ini merupakan sesuatu yang didorong oleh cinta, oleh hati. Ia menjalankan kampanye itu sendirian, terkadang mendapat mantuan sejumlah relawan, dan kadang-kadang ia begadang sepanjang malam untuk mengunggah video secara online.

Sebagian besar foto dan video berasal dari Iran, namun ada juga yang datang dari Arab Saudi (yang juga mewajibkan hijab) dan yang lebih jauh lagi, dari Eropa dan Amerika Serikat.

Seorang perempuan di Afghanistan menuliskan kekagumannya terhadap kampanye ini serta para peserta yang terlibat di dalamnya, meskipun ia sendiri terlalu takut untuk memajang foto tanpa hijab.

Afghanistan sendiri tidak mewajibkan perempuan untuk mengenakan hijab, namun banyak gadis remaja serta perempuan dewasa dipaksa oleh keluarga mereka untuk memakainya.


Reaksi balik media


Alinejad mengatakan ia turut serta dalam gerakan emansipasi perempuan Iran, serta kaum pria yang mendukung mereka.


Seorang peserta mengatakan bahwa gerakan mereka penting karena "kalaupun bisa membuat saya dibui dan tidur dengan kecoak, gerakan ini akan sangat bermanfaat untuk membantu generasi berikutnya."

Alinejad memandang dirinya sebagai seseorang yang turut membantu kampanye, bukan memimpinnya.

Perempuan Iran, katanya, "memimpin diri mereka sendiri, mereka tidak membutuhkan saya, mereka hanya membutuhkan sebuah platform dan saya menyediakannya."

Namun langkah Alinejad harus dibayar mahal. Alinejad, yang tinggal di pengasingan di AS, belum pernah kembali ke Iran sejak 2009 dan saat ini tidak dapat kembali ke negara asalnya karena menghadapi risiko ditangkap.

Setelah digulirkannya kampanye ini, pimpinan redaksi kantor berita Tasnim Iran menerbitkan foto Alinejad bersama suaminya dan menyebutnya sebagai seorang pelacur.

Sementara sebuah situs berita yang berafiliasi dengan Korps Garda Revolusioner Islam Iran, Mashregh News, memasang foto lama keluarga Alinejad bersama ibunya, yang mengenakan busana cadar hitam yang menutupi kepala sampai kaki, beserta ayahnya. Foto tersebut dipasang dengan keterangan 'Mampuslah kamu, Masih."

Alinejad bersikap tegar, mengatakan bahwa tak satu pun reaksi balasan tersebut yang akan menghentikannya dalam berjuang merebut kambali kebebasan kaum perempuan.

Kini ia ingin mengarahkan kampanye itu menjadi suatu gerakan global terpadu, di mana makin banyak perempuan di seluruh dunia mengidentifikasi diri mereka dengan #whitewednesdays dan membuat suatu pernyataan bersahaja tentang berbusana, sebagai bentuk dukungan yang kuat.

Hak atas foto MY STEALTHY FREEDOM

Copyright : bbci.co.uk
Share:

KRI Bung Tomo-357 Bertolak dari Cyprus

Limassol (WartaMerdeka) KRI Bung Tomo-357 yang diawaki oleh Satgas Maritim TNI KONGA XXVIII-I UNIFIL bertolak dari dermaga Limassol Cyprus, untuk melaksanakan pelayaran dibawah misi PBB, dalam rangka mengamankan laut Mediterania dari kegiatan ilegal yang dapat mengancam perdamaian di Lebanon, sebelum kembali ke pelabuhan Beirut Lebanon. Jum’at  (02/06).
KRI Bung Tomo-357 yang dikomandani oleh Kolonel Laut  (P) Heri Triwibowo merapat di dermaga Limassol Cyprus pada tanggal 31 Mei 2017, dalam rangka melaksanakan bekal ulang. Kedatangan Kapal Perang Fregate milik Indonesia ini di Limassol disambut langsung oleh Atase Pertahanan RI untuk Italia Kolonel Laut  (P) Bambang Darmawan.
Tidak lama setelah sandar, Komandan KRI Bung Tomo-357, dan 2 (dua) orang perwira KRI, dengan didampingi oleh Athan untuk mengikuti agenda kegiatan yang sangat padat. Salah satunya adalah mengikuti latihan ARGONAUT 2017 dalam rangka mewakili Indonesia sebagai salah satu negara observer pada latihan bertaraf internasional tersebut.
Latihan Argonaut adalah latihan gabungan yang diikuti oleh 18 negara, untuk melatih kerjasama staf sipil dan militer dalam menanggulangi masalah kemanusiaan seperti, evakuasi korban bencana alam, korban pembajakan pesawat, kecelakaan di laut maupun korban konflik akibat perang. Kegiatan ini berlangsung dari tanggal 31 Mei sampai dengan tanggal 2 Juni 2017.
Di tempat lain dan di hari yang sama, sebagai sarana refreshing seluruh prajurit Satgas Maritim TNI KONGA XXVIII-I UNIFIL beserta beberapa personel Satgas FHQSU, INDOBATT, SEMPU, FPC,  dan MCOU yang mengikuti pelayaran ke Cyprus melaksanakan tour wisata terpimpin ke beberapa tempat bersejarah di Cyprus, antara lain; theater Hellenistic yang dibangun pada abad kedua sebelum Masehi, Eustolios House peninggalan Romawi, gereja lukis, Corallia Beach serta beberapa tempat bersejarah lainnya.
Setelah 3  (tiga) hari sandar di dermaga Limassol Cyprus, akhirnya KRI Bung Tomo-357 kembali bertolak ke Lebanon untuk melanjutkan misi perdamaian di Area of Maritime Operation (AMO). Sebelum bertolak ke AMO, Kolonel Laut  (P) Bambang Darmawan selaku Atase Pertahanan RI untuk Italia/Cyprus, berpesan kepada seluruh prajurit Satgas Maritim TNI KONGA XXVIII-I UNIFIL, agar  senantiasa memberikan yang terbaik bagi TNI, bangsa dan negara. ” 3 bulan lagi kalian akan kembali ke Tanah Air, oleh sebab itu pertahankan dan tingkatkan terus prestasi yang sudah tercapai, jaga nama baik TNI dimanapun berada, dengan selalu berhati-hati dalam setiap kata dan perbuatan, tingkatkan prestasi dengan kerja keras dan kerja ikhlas”, ujarnya. (sm)
Foto : Dispenarmatim
Share:

Lebih Enak Zaman Soeharto?

Romantika "enak zaman Soeharto” yang tak malu-malu didengungkan sungguh memuakkan dan membikin hati panas. Di akhir tahun 1980-an, saya mulai menyadari betapa sengsara hidup di bawah kekuasaan diktator; meskipun ia tampil murah senyum dan sungguh santun, walaupun matanya tak pernah terlihat melotot, dan tak pernah tampil dengan urat leher yang mengejang karena menjerit. Sang diktator yang selalu tampil kalem dengan suara menenangkan dan sosok mengayomi jelas bertangan besi ketika memasung hak politik rakyatnya. Dari hal paling dasar dalam negara yang mengaku menganut sistim demokrasi: pemilihan umum.


Penulis: Uly Siregar

Penulis: Uly Siregar

Agenda politik lima tahunan di era Soeharto digelar dengan target memilih presiden dan wakilnya, juga memilih wakil rakyat melalui tiga partai: Golkar (Golongan Karya), PPP (Partai Persatuan Pembangunan), dan PDI (Partai Demokrasi Indonesia). Tapi dalam kenyataannya, rakyat hanyalah memilih partai. Wakil rakyat (DPR dan MPR) dipilih oleh Presiden Soeharto dengan usulan dari panitia yang juga ditunjuk oleh presiden. DPR dan MPR yang dipilih presiden ini yang bertugas menetapkan siapa yang bakal menjadi presiden untuk lima tahun ke depan. Pejabat di masa Orde Baru adalah pejabat tipikal ‘yes man' yang mengabdi pada Soeharto dengan tujuan utama melanggengkan jabatan sang diktator, bukan melayani rakyat. Dengan cara ini pula Soeharto menciptakan budaya korupsi yang mengakar begitu kuat ke dalam sendi-sendi bermasyarakat, demikian kuatnya hingga korupsi pun dianggap normal.
Merambah ke politik, budaya, dan lain sebagainya...

Menurut saya pribadi, praktik politik ini salah satu sisi paling buruk dari rezim Soeharto. Pada masa itu pegawai negeri sipil wajib mencoblos Golkar. Kalau ada yang berani melanggar susah dipastikan kariernya bisa selamat. Kalau mau jujur, entah apa gunanya pemilu karena toh hasilnya selalu sama: Golkar meraih suara terbanyak, diikuti oleh PPP, lantas PDI di tempat terakhir. Dengan hasil yang tak perlu prediksi analis politik ataupun lembaga survei, pemilu tak ada gregetnya. Peristiwa politik lima tahunan itu hanya formalitas dan basa-basi. Tak seperti sekarang setiap orang terlibat dengan semangat, saling menggadang-gadang pihak yang menjadi pilihan, dan menyerang mereka yang mencoba menjatuhkan. Dinamika yang sepertinya rentan chaos ini sesungguhnya memberi rakyat kebebasan menjatuhkan pilihan sesuai selera politik mereka. Intimidasi dan iming-iming jelas masih ada, tapi tak lagi absolut milik penguasa. Penguasa kini justru harus pandai-pandai mengambil hati rakyat, sesuatu yang tak lazim di masa lalu.

Selain soal hak politik yang dirampas, satu lagi yang dihilangkan di masa Orde Baru adalah kebebasan berpikir kritis. Saya ingat persis saat kuliah harus sembunyi-sembunyi membaca dan menyebarkan buku karya Pramoedya Ananta Toer, Nyanyi Sunyi Seorang Bisu. Buku yang memuat kumpulan tulisan non fiksi tentang hidup Pram di pengasingan Pulau Buru itu dipercaya oleh penguasa bisa membahayakan stabilitas negara, memberi ruang bagi tumbuhnya komunisme. Agar lebih aman, semua buku karya Pram pun dilarang beredar, termasuk novel tetralogi legendaris Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca.

Yang mengerikan, kebebasan berpikir kritis dipasung secara sistematis di segala aspek kehidupan berbangsa. Kampus yang seharusnya menjunjung tinggi kebebasan berpikir disusupi intel yang mengawal mahasiswa agar tak kelewat kritis, apalagi kritis terhadap pemerintah. Kebijakan Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kampus (NKK/BKK) membuat mahasiswa menjauh dari politik bahkan cenderung takut. Tak banyak mahasiswa yang mau ambil risiko berhadapan dengan penguasa yang memata-matai pergerakan mahasiswa. Menjadi aktivis di zaman Orba mengandung risiko, termasuk risiko diculik dan dilenyapkan.

Bagaimana dengan media?

Pers pada masa Presiden Soeharto pun mengalami persoalannya sendiri. Kontrol yang ketat membuat pers cenderung menjadi corong pemerintah. Tak hanya berlaku bagi TVRI dan RRI yang jelas-jelas kepanjangan tangan pemerintah, tapi pada media massa secara keseluruhan. Semua penerbitan media massa berada dalam pengawasan Departemen Penerangan. Pada masa itu pers Indonesia pun diberi sebutan Pers Pancasila, pers yang dituntut menerapkan kebijakan "bebas dan bertanggung jawab”. Bukan hal buruk sebenarnya, bila saja "tanggung jawab” yang dimaksud mengacu pada kredibilitas dan akurasi, bukan dalam konteks "sesuai keinginan penguasa”.
Jadi kalau ada pihak yang ngoceh "lebih enak zaman Soeharto, ah” mungkin mereka memang perlu terus-menerus diingatkan. Kebebasan di berbagai aspek yang kita raih melalui reformasi 1998 ini wajib kita jaga baik-baik. Jangan lagi mau menjadi rakyat yang takut pada penguasa, yang gerak-geriknya dikontrol pemerintah. Jangan juga jadi cengeng dengan gampang mengeluh bahwa kita kini memasuki zaman kebebasan yang kebablasan. Jangan hanya karena sebagian dari kita gampang percaya hoax lantas ingin kembali ke masa informasi penuh kontrol ala Orba. Hanya karena lelah berseteru setiap pemilu langsung kangen dengan masa-masa pemilu ‘damai' tanpa ‘huru-hara' seperti saat Presiden Soeharto berkuasa, saat rakyat hidup dalam ilusi rasa tentram yang palsu. Percayalah, mengedukasi rakyat terus-menerus agar lebih cerdas menggunakan hak politik mereka jauh lebih menjanjikan daripada membiarkan kontrol absolut jatuh ke tangan penguasa.

Penulis:

Uly Siregar (ap/hp)  bekerja sebagai wartawan media cetak dan televisi sebelum pindah ke Arizona, Amerika Serikat. Sampai sekarang ia masih aktif menulis, dan tulisan-tulisannya dipublikasikan di berbagai media massa Indonesia.

@sheknowshoney

*Setiap tulisan yang dimuat dalam #DWNesia menjadi tanggung jawab penulis.

Share:

Artikel Unggulan

Cara Memilih Presiden yang Baik dan Benar