Penyanyi Legendaris Irma June Rilis Album it’s Me! dengan Kemasan Unik

Padang (WartaMerdeka) - Penikmat musik di Tanahair pada era 80-an hingga 90-an pernah dipikat oleh seorang penyanyi imut bersuara lembut dan merdu, yang tentu masih lekat di ingatan kita, Irma June.

Dengan penampilan kasual dan sederhana, ia mengusung genre pop jazz yang eksklusif. Ini tentu jadi daya tarik tersendiri saat itu. Menandai eksistensinya lagi di dunia musik, pada tanggal 2 Oktober 2017 Irma June kembali mengeluarkan album terbarunya, bertajuk it's Me!, dirilis di 35 digital store yang bisa diakses di seluruh dunia.
"Semoga album terbaru saya ini disukai oleh berbagai kalangan usia. Lirik-lirik lagunya bersifat positif dan membangun. Saya ingin ikut terlibat dalam membawa perubahan positif di dunia musik, dan jadi inspirasi buat berbagai generasi," kata Irma June, penyanyi yang memulai karir musiknya dari penyanyi cilik, seangkatan dengan Anggun C. Sasmi.
Pada album ini terdapat lima lagu; it's Me! (song writer: Roedyanto & Irma June), What Love Is (song writer: Oscar Ciptajaya dan Irma June), I'll Be There For You (song writer: Naratama), Art Of Love (song writer: Angie Yasashi), dan Do Your Best (song writer: Irma June). Dubbing vokal dan arransemen musik dilakukan di tiga studio: iSound, Spoon Master dan ICM. Untuk mixing di dua studio: ICM dan Spoon Master. Sedangkan untuk mastering dilakukan di Nashville (USA - engineer: Steve Carrao).
"it's Me! jadi tajuk di album ini, untuk memberitahukan kehadiran saya kembali di industri musik. Dan saya kembali dengan apa adanya saya, baik dari sisi bermusik maupun penampilan. Itu ditujukan bagi orang-orang yang memang sudah tahu saya sebagai penyanyi sejak dulu. Tapi bagi generasi sekarang yang belum pernah mengenal saya, terimalah saya sebagai pendatang baru dalam dunia musik saat ini, dengan apa adanya saya. it's Me!,” kata Irma June, yang sebelumnya pernah merilis empat album lagu.

Irma June menyebutkan orang-orang yang telah mendukungnya untuk mewujudkan Album it’s Me!, “Saya sejak awal berpartner dengan mas Roedyanto (Emerald BEX Band), mulai dari single it's Me! sampai sekarang menjadi EP. Ada empat orang juga yang sejak awal setia membantu saya di album ini, dengan menuangkan ide-ide kreatif mereka: Oscar Ciptajaya, Angie Yasashi, Very Good Bless, dan Irene Tandiali. Ditambah dengan masuknya satu lagu dari Mas Naratama, seorang Producer TV yang tinggal di New York. Sisanya adalah additional musicians. Dan dukungan dari suami saya, Martin Lengkey, selaku Executive Producer di album ini. Album it’s Me! menjalani proses penggarapan selama satu tahun, dengan adanya revisi kecil maupun besar, agar dapat melekat di hati para pendengarnya.”

Meskipun album it's Me! ini target pemasarannya sampai ke seluruh dunia dan promosinya juga didukung penuh oleh rekan-rekan Irma June yang bergerak di bidang musik dan pertelevisian di Amerika, namun penikmat musik di Tanahair tetap jadi prioritas utama baginya. Bersama manajemen, Irma June sudah mengatur waktu untuk talkshow dan meet and greet di beberapa kota di Indonesia.
"Saya akan aktif membuat meet and greet di berbagai kota, supaya lebih dekat dengan para peggemar saya di Tanahair. Target saya tak berlebihan, hanya ingin pesan-pesan positif yang saya sampaikan lewat lagu-lagu di album terbaru saya ini bisa sampai secara meluas di tengah masyarakat," kata Irma June, yang vokalnya juga memikat hati sepupu Whitney Houston.
Kecenderungan generasi sekarang menggemari lagu-lagu luar negeri yang terkadang mengindikasikan imperialisme terhadap budaya timur yang kita miliki, menjadi kekhawatiran tersendiri bagi Irma June. Mereka menelan mentah-mentah karya luar negeri tersebut, meskipun lirik lagunya bermuatan kata-kata kotor dan jauh dari nilai-nilai luhur budaya di Indonesia. Agar tidak berlarut, album it’s Me diharapkan mampu mengalihkan perhatian mereka. Album it’s Me ini juga dipasarkan dalam bentuk CD, dengan sampul kemasan yang unik.
“Kotak CD album it’s Me! kita desain berbeda dari yang biasa. Kotaknya empuk, seperti squishy. Enak dipencet-pencet. Kalau dipukul ke kepala, bisa dipastikan ngga sakit,” kata Irma June, saat FB Live beberapa hari yang lalu melalui akun sosial medianya. (Muhammad Fadhli) | Foto : Dok. Pribadi
Share:

Festival Pekan Seni Nan Tumpah 2017 Catat Rekor Penonton Terbanyak

Pertunjukan "Alam Takambang Jadi Batu" - Komunitas Seni Nan Tumpah


Padang (WartaMerdeka.id) - Ajang festival dua tahunan Pekan Seni Nan Tumpah 2017 telah resmi ditutup pada Jumat (29/9) malam, ditandai dengan penampilan Sanggar Seni Dayung-Dayung yang begitu manis dan memikat.



Aneka pertunjukan seni dihelat selama sepekan di Gedung Teater Utama Taman Budaya Sumatera Barat.

[caption id="attachment_34549" align="alignleft" width="300"]Pertunjukan Memoirs dan Huhh Hahh Hiih dari Sherlilab di Festival Seni Pekan Nan Tumpah 2017 "Memoirs dan Huhh Hahh Hiih" - Sherlilab[/caption]

Disebutkan oleh Komunitas Seni Nan Tumpah selaku panitia sampai hari terakhir festival, tercatat 2650 penonton betul-betul tumpah meramaikan acara ini.


Sejak dibuka pada pada Sabtu (23/9/2017) acara yang rutin digelar sejak tahun 2011 tersebut memang menjadi magnet bagi kunjungan masyarakat ke Taman Budaya Sumatera Barat. Ada tujuh kelompok seni yang mengisi acara.


Selain Komunitas Seni Nan Tumpah, berturut-turut Komunitas Seni Hitam-Putih, Teater Jengkal Bengkulu, Sherlilab, Sanggar Seni Dayung-Dayung, Kelompok musik Balega, dan Galang Dance Community sebagai penampil seni pertunjukan.


Di samping itu, digulirkannya kegiatan berdurasi panjang bertajuk Liga Baca Puisi Kreatif yang telah dimulai sejak Juni 2017 hingga babak semi final sepanjang festival, tentu saja berperan menghadirkan penonton dari berbagai kalangan.


Para penonton memadati Festival Seni Pekan Nan Tumpah 2017.

Pameran Seni Rupa yang ditaja oleh Randy Otonk berjudul ‘Perkawinan Akal’ memberikan nuansa dunia imajinatif yang bahagia selama sepekan penuh itu.

“Festival seni dua tahunan yang dikelola KSNT ini lahir dari program kerja jangka panjang anggota KSNT guna merespons minimnya festival seni yang diadakan dan dikelola oleh sebuah kelompok/komunitas seni di Sumatera Barat.


Sebagai komunitas yang ingin dan terus berupaya membangun iklim seni pertunjukan dengan penonton baru, didukung oleh kerja manajemen kelompok yang cukup baik, berupaya untuk menjawab sekaligus membantah hal tersebut,” kata Mahatma Muhammad, Pimpinan KS Nan Tumpah yang diamini Karta Kusumah, penyair dan juga Sekretaris komunitas seni yang telah memenangkan berbagai penghargaan seni pertunjukan nasional itu.


Nama Festival Seni Pekan Nan Tumpah sendiri resmi digunakan pada gelaran festival pada 24-27 Desember tahun 2013, dengan menghadirkan 4 (empat) pertunjukan teater, 2 (dua) pertunjukan tari, serta 2 (dua) pertunjukan musikalisasi puisi dari 8 (delapan) komunitas seni independen dari Sumatera Barat.



Tercatat panitia berhasil menjaring sedikitnya 1.300 penonton baru seni di Sumatera Barat, yang membeli tiket dari total 1.864 daftar di buku tamu kegiatan Pekan Nan Tumpah 2013.

“Seniman pertunjukan saat ini harus aktif menjaring penonton. Jangan pasif. Sebuah kelompok seni pertunjukan pada saat ini harus memiliki semacam manajemen modern dan profesional. Harus pula pandai menangkap ketertarikan publik, penonton serta bisa menaja pertunjukan yang berkelanjutan, layak ditonton berkali-kali oleh penikmat seni dan masyarakat,” ujar Mahatma kepada media ini, di sela kesibukannya memonitor berlangsungnya kegiatan ini.


Taufik Effendi, Kepala Dinas Kebudayaan Sumatera Barat mendukung usaha-usaha kerja kreatif pegiat kesenian di Sumatera Barat. Hal ini disampaikan ketika didapuk untuk membuka gelaran Pekan Seni Nan Tumpah 2017, “Ada ketidaksepahaman ideologi antara seniman dengan masyarakat.


Sebab itu Dinas Kebudayaan mempunyai tugas untuk menjembatani dan memfasilitasi kreatifitas pegiat seni dan budaya di Sumatera Barat khususnya dapat memasyarakat, menjadi semacam kebutuhan batin bagi masyarakat.



Ke depan kita akan coba menggratiskan fasilitas semacam panggung utama Gedung Teater di Taman Budaya ini, agar lebih bisa dimanfaatkan oleh berbagai kalangan.

Sehingga Taman Budaya khususnya, kembali menjadi ruang berkegiatan bagi seniman, sastrawan dan budayawan Sumatera Barat,” terangnya.


Emilia Dwi Cahya selaku Ketua Panitia mengatakan, “Rangkaian kegiatan dalam Festival Seni Pekan Nan Tumpah, 23-29 September 2017 telah berakhir.


Terimakasih kami ucapkan kepada seluruh penonton dan pengunjung pameran. Tercatat dalam buku tamu dan penjualan tiket festival dua tahunan edisi ke empat ini berhasil menjaring sedikitnya 2650 penonton seni pertunjukan,” pungkasnya. ( Denni Meilizon / Muhammad Fadhli)


Foto : Dok. Arief Pebrianto

Share:

Jadwal Lengkap Tahapan Pemilu 2019

Jakarta, (WartaMerdeka) - Jadwal Lengkap Tahapan Pemilu 2019, sebagai berikut :
  1. Pendaftaran parpol peserta Pemilu: 3-16 Oktober 2017
  2. Penelitian administrasi: 17 Oktober-15 Desember 2017
  3. Verfikasi faktual kepengurusan di tingkat pusat dan provinsi: 15 Desember 2017-3 Januari 2018
  4. Verfikasi faktual kepengurusan di tingkat kabupaten/kota : 15 Desember 2017-5 Februari 2018
  5. Rekapitulasi hasil verifikasi faktual: 6-17 Februari 2018
  6. Pengumuman parpol peserta pemilu: 18 - 20 Februari 2018
  7. Penyelesaian sengketa penetapan parpol peserta pemilu: 19 Februari-17 April 2018
  8. Pembentukan badan-badan penyelenggara: 9 Januari-10 April 2018
  9. Pendaftaran calon anggota DPD: 26 Maret-26 April 2018
  10. Pendaftaran anggota DPR dan DPRD: 4-17 Juli 2018
  11. Pendaftaran calon presiden dan wakil presiden: 4-10 Agustus 2018 
  12. Masa kampanye: 23 September 2018-13 April 2019
  13. Masa tenang: 14-16 April 2019
  14. Pemungutan suara: 17 April 2019
  15. penetapan hasil pemilu pasca putusan MK: 17-23 September 2019
  16. Peresmian keanggotaan DPRD kabupaten/kota, DPRD Provinsi, DPR dan DPD: Juli-September 2019
  17. Sumpah janji pelantikan presiden dan wakil presiden: 20 Oktober 2019
Share:

Artikel Unggulan

Cara Memilih Presiden yang Baik dan Benar