Kompetisi Malaysia Yang Bisa Jadi ‘Surga’ Baru Pemain Indonesia




OLEH   FARABI FIRDAUSY

Akhir pekan kemarin Goal Indonesia bersama beberapa awak media lain dari Indonesia berkesempatan untuk menengok pekan awal digelarnya kompetisi Malaysia, baik Liga Super Malaysia sebagai kasta teratas, pun Liga Primer Indonesia yang merupakan piramida kedua.
Kunjungan ini tak lain untuk menengok awal kiprah para pemain asal Indonesia yang merantau ke Negeri Jiran pada kompetisi musim 2018. Mereka antara lain Evan Dimas, Ilham Udin, Ferdinand Sinaga, David Laly dan Achmad Jufriyanto.
Dua nama awal paling menyita perhatian karena sempat dipermasalahkan ketua umum PSSI Edy Rahmayadi, yang khawatir bergabungnya Evan dan Ilham ke Selangor FA bisa mengganggu kegiatan mereka bersama timnas Indonesia untuk Asian Games 2018.
Terlepas dari segala isu yang mengawali kepindahan para pemain Indonesia ke Malaysia, Evan dan Ilham mampu menjalani debut sukses bersama Gergasi Merah dengan memenangkan partai Derby Klang Valley, dua gol tanpa balas, atas Kuala Lumpur FA (KLFA).
Berstatus pemain asing, lima pemain asal Indonesia yang bermain untuk klub Malaysia jelas dituntut untuk memberikan kontribusi lebih dibandingkan pemain lokal di sana. “Tidak merasa tertekan, tapi yang penting kami kerja lebih keras lagi,” ucap Ilham.
Fasilitas yang didapat mereka sangat sesuai dengan status sebagai pemain impor. Apartemen sudah pasti diberikan pihak klub, plus juga mobil pribadi guna menunjang mobilitas mereka dalam kegiatan sehari-hari di Malaysia. Soal gaji, sudah pasti jauh lebih baik dibanding di Indonesia.
“Banyak pemain Indonesia yang datang ke Malaysia karena memang mereka diperlakukan semestinya pemain asing. Malaysia menghargai anak-anak kita, soal gaji mau pun fasilitas,” ucap Mulyawan Munial, intermediary dari Evan, Ilham dan David.
Selangor punya pertimbangan khusus kenapa mereka mendatangkan pemain asal Indonesia untuk mengisi kuota asing. Selain itu, tim paling sukses di Malaysia ini memang punya kisah manis dengan pemain Indonesia macam Ristomoyo Kassim, Elie Aiboy, Bambang Pamungkas hingga Andik Vermansah.
“Kami punya tradisi dengan pemain Indonesia dan banyak juga orang Indonesia di Malaysia, sehingga kami lebih baik merekrut pemain Indonesia. Secara kultur kami seperti saudara, sama — kalau dari Thailand misalnya kami datangkan, mungkin akan lebih susah adaptasi,” kata manajer tim, Datuk Abdul Rauf Ahmad.
“Pertimbangan bisnis [menggaet sponsor] bukan patokan utama kami mengambil pemain Indonesia. Pertama, tentu pemain itu harus punya kualitas dan perilaku yang baik. Kalau ada peluang untuk bisnis, misalnya sponsor dari Indonesia, kami tentu saja menyambut dengan baik,” papar Abdul.
Jufriyanto yang akhirnya meninggalkan Persib Bandung untuk KLFA sangat antusias dengan pengalaman pertamanya berkiprah di luar Indonesia. Malaysia dinilai pemain yang karib disapa Jupe itu ramah untuk pemain asal Indonesia, baik untuk adaptasi secara lingkungan atau pun permainan.
“Memang banyak tim Malaysia yang cari pemain asal Indonesia karena kuota pemain Asia Tenggara. Saya rasa kalau ada kesempatan untuk ke sini, lebih baik diambil untuk pengalaman,” kata stoper yang kini sudah menginjak usia 30 tahun tersebut.
KLFA sendiri merupakan tim promosi musim ini dan punya ambisi besar di kasta teratas. Jupe yang menjadi bagian dari ambisi KLFA menilai fasilitas tim-tim di Malaysia jauh lebih baik ketimbang Indonesia. “Bahkan kalau boleh jujur masih lebih bagus dibandingkan dengan yang di Bandung (Persib) dulu,” beber dia.
Perlakuan mewah terhadap pemain asing dan fasilitas yang layak bukan hanya tejadi di kalangan tim kasta teratas macam Selangor atau KLFA, tapi juga Felcra FC yang dibela oleh David. Felcra yang berdiri tahun 2012 memberikan fasilitas apartemen dan mobil sedan mewah kepada David.
“Walau masih di liga kedua tapi fasilitasnya tim ini sudah kelas. Tim ini serius sekali, saya bisa rasakan itu ketika awal dari tes medis — mereka sangat detail sekali,” cerita David. “Saya harus kerja keras di sini, pengalaman pertama di luar harus bisa saya atasi dengan motivasi dan belajar,” sambung eks Persib dan Pelita Bandung Raya itu.
Dengan segala kemewahan yang memang selayaknya diterima, pemain Indonesia yang bermain di Malaysia pun dituntut untuk lebih disiplin. Tentu akan jadi hal yang bagus untuk Evan dan Ilham yang masih belia, atau untuk pemain senior macam Ferdinand, David, serta Jupe yang berusaha meninggalkan zona nyaman.
“Untuk latihan sebenarnya intensitasnya sama saja. Tapi, di sini lebih disiplin. Misal saat latihan yang baru dimulai jam 5, kami harus sudah datang jam 4. Kalau kami telat, akan dikenakan denda. Bisa sampai 100 ringgit [sekitar Rp347 ribu],” jelas Evan, yang bakal ditemani kawannya Ibnu Syiar, selama berkarier di Malaysia.
Stadion KLFA di Cheras, Kuala Lumpur, yang menggelar partai Derby Klang Valley antara Selangor dan KLFA tidak terlalu megah layaknya stadion-stadion di Indonesia. Tapi, terkesan sangat rapi dan bersih. Yang cukup mengesankan ada ruang khusus untuk asuh anak, sehingga keluarga tidak akan cemas membawa anak mereka ke stadion.
Memang, atmosfer sepakbola Malaysia dari segi penonton tidak terlalu semeriah di Indonesia. Tapi itu bukan hal yang perlu dikhawatirkan, karena suporter Selangor pun tetap bernyanyi ketika Evan atau pun Ilham beraksi. Stadion masih terisi banyak penonton, tak begitu semarak, namun ada kesan disiplin yang lebih dibanding di Indonesia.
Kompetisi yang dimiliki Indonesia dan Malaysia tidak berbeda jauh soal kualitas teknik atau permainan, bahkan boleh dibilang permainan di Liga Malaysia tidak di atas Indonesia. Tapi ada nilai-nilai yang krusial dari sistem di sana yang sudah seharusnya dimiliki; penjadwalan yang bagus dan teratur tiap musim, regulasi yang tidak berubah tiap tahun, fasilitas latihan atau tanding yang layak, dan konflik sepakbola yang minim.
“Kalau di sini sebetulnya lebih teratur dari segi disiplin, kepengurusan, dibandingkan dengan Indonesia. Saya kecewa dengan Indonesia sebab kalau saya lihat banyak emosi dari pemainnya, dari dulu juga tidak pernah belajar kayaknya — kesalahan sama masih diulang, masa wasit saja dilawan? Gak tahu salahnya di mana,” tutur Ristomoyo, yang mempersembahkan Piala Malaysia untuk Selangor pada 1986.
Sumber RSS / Copyright : goal.com
Share:

Artikel Unggulan

Cara Memilih Presiden yang Baik dan Benar

Arsip