2018-04-16

Kemenpar Selenggarakan Forum Komunikasi Krisis Kepariwisataan

Jakarta (WartaMerdeka) - Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mengacu pada ASEAN dan PATA dalam antisipasi manajemen krisis dan mitigasi terkait dampaknya terhadap kepariwisataan, melakukan komunikasi sosial dengan para stakeholder pariwisata, yakni unsur ABCGM (Academician, Business, Community, Government, Media).

Kegiatan yang digagas Kemenpar ini disebut Forum Komunikasi Krisis Kepariwisataan (Forkom Krispar) dengan tema ‘Penyusunan Grand Design Manajemen Krisis Kepariwisataan’, dibuka Sekretaris Kementerian Pariwisata, Ukus Kuswara, sekaligus memberikan keynote speech di hotel AOne, Jakarta Pusat (12/4).

Forkom bertujuan untuk memperoleh masukan dari para pakar dan praktisi guna pengayaan penyusunan Grand Design Manajemen Krisis Kepariwisataan (MKK), diantaranya Haryo Satmiko (Wakil Ketua KNKT); Didi Hamzar (Direktur Kesiapsiagaan BASARNAS); Firza Ghozalba dari BNPB, Irwansyah (Pakar Teknologi Komunikasi Digital Universitas Indonesia); Anang Sutono (Staf Ahli Menteri Bidang Ekonomi dan Kawasan Pariwisata), dan Don Kardono (Staf Ahli Khusus Menteri Bidang Komunikasi dan Media).

"Crisis Center Kemenpar telah menggunakan standar internasional untuk menangani krisis, sehingga semua isu negatif bisa di-counter secara cepat untuk mencegah persepsi lain. Dan itu sudah diterapkan ketika peristiwa Bom Thamrin; erupsi Gunung Raung, Gunung Barujari, dan yang terakhir Gunung Agung,” ungkap Ukus Kuswara.

"Forum komunikasi ini sangat penting dilaksanakan untuk mendapatkan masukan dari pihak-pihak yang berwenang dalam penanganan krisis pariwisata, sehingga dapat tercipta Grand Design Manajemen Krisis Pariwisata yang kuat dan nantinya akan lebih mudah memetakan siapa melakukan apa dan bagaimana," Ukus menambahkan.

Indonesia berada di ring of fire, mempunyai 127 gunung berapi yang merupakan 13% dari total gunung api di dunia. Sebanyak 77 di antaranya adalah tipe A yang artinya memiliki potensi untuk meletus. Jika tidak dikelola dengan baik, pemberitaan erupsi gunung berapi (dan bentuk bencana lainnya) akan berdampak pada sektor pariwisata.

Menurut Staf Khusus Menteri Bidang Komunikasi dan Media, Don Kardono, pariwisata adalah sektor yang bertumpu pada pelayanan. Customer membutuhkan kenyamanan dan setiap bencana menimbulkan ketidaknyamanan. Dalam menghadapi bencana, kita harus tetap tenang dan tidak boleh panik. Tenang dalam artian tidak terburu-buru mengeluarkan statement ke masyarakat serta menjaga ekosistem pariwisata.
Kepala Biro Komunikasi Publik, Guntur Sakti, menjelaskan bahwa Kementerian Pariwisata melalui focal point Bagian Manajemen Krisis Kepariwisataan terus melakukan pemantauan isu yang berpotensi menjadi krisis pariwisata dan berkoordinasi dengan kementerian, lembaga, pemerintah daerah, dan stakeholder terkait untuk mengumpulkan informasi pendukung dan menentukan langkah strategis.

Kemenpar ditunjuk sebagai salah satu pembicara di pertemuan ASEAN Crisis Communication Meeting (ACCM), Kualalumpur, pada 25 – 29 Juni 2018 mendatang. Penunjukan ini terkait dengan paparan Best Practice Tourism Crisis Management, Case: Mount Agung Eruption 2017 yang disampaikan Kemenpar pada ASEAN Tourism Competitiveness Meeting (ATCM) di Laos pada awal April lalu (aa).
Share:

Arsip