2018-04-25

Yerusalem : Siapa yang Tuan Rumah Sebenarnya?

Bekasi, (WartaMerdeka) - Konflik Palestina - Israel, yang selama ini terjadi, membuat sebagian Ummat Islam Indonesia melihat sebagai Perang Agama.

Yerusalem dalam bahasa Ibrani disebut Yerushalayim, sedangkan dalam bahasa Arab disebut al-Quds. Yerusalem merupakan salah satu kota tertua di dunia.

"Filistine" dalam kata Ibrani memiliki arti "Bangsa dari Seberang Laut", yang mana Orang Filistin berasal dari seputar kepulauan Kreta, Yunani. Sementara Agama asli orang-orang Filistin adalah menyembah Dewa".

Filistin pertama kali mendarat di pantai Gaza sekitar abad ke-15 (+ 1500 thn) SM (Kota Gaza adalah sebuah kota Palestina di Jalur Gaza), berangsur semakin banyak, dan akhirnya terjadi konfrontasi dengan nabi Daud (penduduk setempat), dimana akhirnya Nabi Daud (1040 SM - 970 SM) memenangkan perang tersebut, yang kemudian mendirikan kerajaan Israel dengan luas + masih seperti sekarang. Olehkarenanya sampai sekarang bendera Israel bersimbol Bintang Daud. 

Sementara orang-orang Palestina yang sekarang,  mayoritas bukanlah orang-orang Filistin yang dahulu datang dari kepulaun Kreta (Yunani), tetapi sudah dipenuhi oleh orang-orang suku Arab Muslim dan Arab Nashrani, bukan lagi orang-orang Filistin asli.

Orang-orang yang mengaku sebagai orang-orang Palestina yang sekarang ini, mereka sebenarnya baru datang setelah pengambil alihan kekuasaan yang dilakukan oleh Khalifah Umar Bin Khattab

Hal ini dapat dibuktikan, dari seperti Yasser Arafat misalnya, pemimpin Palestina yang sangat terkenal, dia adalah bukan orang Filistin, tetapi orang Arab Mesir, dan bukan pula kelahiran Palestina, dimana istrinya pun juga  bukan orang Filistin, melainkan seorang  Wanita Arab Nashrani.

Daud adalah Nabi besar ummat Syalom Israel Yahudi, ummat Syalom Nashrani, dan juga ummat Islam Arab, yang membunuh Goliath Filistin, yang kemudian mendirikan kerajaan Israel.

Bait Suci (juga disebut Bait Allah atau Kenisah) adalah sebutan untuk pusat peribadahan bangsa Israel, dan orang Yahudi di Yerusalem sejak Nabi Daud (1040 SM - 970 SM) , yang terletak di Bukit Bait Suci.

Nabi Daud
Nabi Daud (1040 SM - 970 SM) merupakan seorang nabi dalam Agama Islam, Agama Kristen dan Yahudi, adalah Raja Ketiga (1008 SM - 970 SM) dan yang paling populer dalam kerajaan Israel, yang kemudian pemerintahannya digantikan oleh Raja Salomo (970 SM - 931 SM).

Dalam Agama Islam, Nabi Daud menerima kitab Zabur, sementara dalam agama Kristen, Nabi Daud menuliskan banyak Mazmur yang dikumpulkan ke dalam kitab Mazmur.

Nabi Daud adalah moyang dari Yesus atau Isa al-masih menurut Injil Matius, Injil Lukas dan kitab-kitab Perjanjian Baru lainnya.

Masa hidupnya secara umum diperkirakan bertarikh 1040 – 970 SM, Pemerintahannya atas Kerajaan Yehuda di Hebron 1008 SM – 1002 SM, dan Pemerintahannya atas seluruh Israel 1002 SM – 970 SM.

Nabi Muhammad
Nabi Muhammad lahir di Mekkah, 571 M – meninggal di Madinah, 8 Juni 632 M

Nabi Muhammad memulai penyebaran ajaran Islam untuk seluruh umat manusia dan mewariskan Pemerintahan Tunggal Islam.

Nabi Muhammad tidak pernah memerintahkan untuk merampas Yerusalem, karena beliau sudah punya 2 Tanah Suci (Mekah & Madinah), dan kiblat sendiri.

Nabi Muhammad selama hidupnya tidak pernah mengajarkan, dan memerintahkan untuk merebut Jerusalem dan Israel. Tidak ada 1 surat pun di Al Quran yang menyebut Ummat Muhammad / Islam harus mengambil alih Israel dan Jerusalem.

Khalifah Umar Bin Khattab
Yerusalem diserang oleh Umar bin Khattab pada periode kekhalifahan kedua atau setelah Nabi Muhammad SAW wafat, atau setelah 8 Juni 632 M.

Berawal saat pasukan Muslim dibawah komando Abu Ubayda mengepung Yerusalem setelah mengambil alih Damaskus dalam Perang Yarmuk. Pada tahun 637, setelah pengepungan Yerusalem, pasukan Islam akhirnya mengambil alih kota tersebut.

Umar diberikan kunci untuk memasuki kota oleh pendeta Sophronius, dan diundang untuk shalat di dalam gereja (Church of the Holy Sepulchre). Umar memilih untuk shalat ditempat lain, di sebelah timur gereja.

Kemudian, masjid Umar dibangun oleh Sultan Al Afdal, putra Sultan Shalahuddin Al Ayyubi (pada masa kekuasaan Dinasti Ayyubiyah pada abad ke-12) untuk mengenang peristiwa tersebut, dimana masjid ini sendiri terletak di sebelah selatan Gereja Makam Kudus, dan bukan di sebelah timur tempat saat Umar shalat dahulu.

Alur Pikir
Mengamati perjalanan sejarah di atas, semestinya kita sudah semakin paham, mengapa Ummat Nashrani terus mempertahankan Tanah Suci Israel.

Melihat peristiwa pertama kali Umar datang ke Yerusalem, dimana Umar shalat di lapangan, maka dapat dipastikan diseputaran Yerusalem belum terdapat mesjid. Kalau masjid Al Aqsa sudah ada, pasti Umar shalat di masjid Al Aqhsa, bukan di lapangan. Jadi setelah mendirikan masjid Omar (pada abad 12).

Selang beberapa tahun kemudian setelah kejadian Umar shalat di lapangan, barulah masjid Al Aqhsa dibangun (selesai pada tahun 705 M atau + 72 tahun setelah Nabi Muhammad wafat) di atas puing' reruntuhan Bait Suci.

Untuk Ummat Nashrani, wilayah kerajaan Israel adalah cikal bakal sejarah Yahudi Israel dan Nashrani, dimana merupakan wilayah sakral bagi Yahudi Nabi Daud, yang juga merupakan Tanah Kelahiran Nabi Isa / Yesus.

Perang Salib sebagai jawaban untuk merebut Tanah Suci Ummat Nashrani, yang diambil dalam penaklukan kaum Muslim atas Levant (632–661). Pada akhirnya menyebabkan direbutnya kembali Yerusalem pada tahun 1096 M - 1099 M.

Perang Salib (Merebut Kembali Tanah Suci)
Perang Salib Pertama 1096 M – 1099 M dalam rangka merebut kembali Tanah Suci mereka, yang disahkan oleh Paus Urbanus II pada tahun 1095. 

Perang Salib Kedua 1145 M - 1149 M Setelah melewati Bizantium dan memasuki Anatolia, dikalahkan oleh tentara Seljuk (kekaisaran Islam yang dikenal sebagai Kekaisaran Seljuk Agung). Louis, Conrad, dan sisa dari pasukannya berhasil mencapai Yerusalem, dan melancarkan serangan yang "keliru" ke Damaskus pada tahun 1148. Perang Salib di Timur mencapai kemenangan. Kegagalan Perang Salib Kedua ini memicu jatuhnya kembali kota Yerusalem.

Perang Salib Ketiga 1189 M – 1192 M yang dikenal sebagai Perang Salib Para Raja, merupakan suatu upaya para pemimpin Eropa untuk merebut kembali Tanah Suci dari Saladin (Salahuddin Al-Ayyubi). Kampanye ini memperoleh banyak keberhasilan, merebut kota penting Akko dan Yafo, juga membalikkan sebagian besar penaklukan Saladin, tetapi gagal merebut Yerusalem yang menjadi motivasi emosional dan spiritual dari Perang Salib.

Perang Salib Keempat 1202 M – 1204 M adalah suatu ekspedisi bersenjata dari Eropa Barat yang dimaksudkan untuk menaklukkan Yerusalem yang dikuasai kaum Muslim, dengan cara invasi melalui Mesir. Sebaliknya, terjadi serangkaian peristiwa yang berujung pada penjarahan kota Konstantinopel—ibukota Kekaisaran Bizantium yang mana dikendalikan kaum Kristen—oleh Tentara Salib.

Perang Salib Kelima 1217 M – 1221 M adalah upaya kaum Eropa Barat untuk merebut kembali Yerusalem dan seluruh wilayah Tanah Suci lainnya dengan pertama-tama menaklukkan Dinasti Ayyubiyyah yang berkuasa di Mesir.

Perang Salib Keenam berawal pada tahun 1228 sebagai suatu upaya untuk mendapatkan kembali Yerusalem. Perang ini dimulai setelah kegagalan Perang Salib Kelima dan melibatkan sedikit sekali pertempuran yang sebenarnya. Manuver diplomatik Friedrich II, Kaisar Romawi Suci, menyebabkan Kerajaan Yerusalem kembali memperoleh sebagian kendali atas Yerusalem dalam hampir sepanjang lima belas tahun berikutnya (1229-39 M, 1241-44 M) maupun atas daerah lainnya di Tanah Suci.

Perang Salib Ketujuh merupakan suatu perang salib yang dipimpin oleh Louis IX dari Perancis dari tahun 1248 sampai 1254. Sekitar 800.000 bezant (mata uang emas pada abad pertengahan) dibayarkan sebagai uang tebusan untuk Raja Louis. Ia dikalahkan dan ditangkap pasukan Mesir yang dipimpin oleh Sultan Ayyubiyyah Turanshah yang dididukung kaum Mamluk dari Bahri yang dipimpin oleh Faris ad-Din Aktai, Baibars al-Bunduqdari, Saif ad-Din Al-Qutuz, Izz al-Din Aybak, dan al-Mansur Qalawun.

Perang Salib Kedelapan adalah suatu perang salib yang dilangsungkan oleh Louis IX dari Perancis terhadap kota Tunis pada tahun 1270. Perang Salib Kedelapan terkadang diperhitungkan sebagai yang Ketujuh, apabila Perang Salib Kelima dan Perang Salib Keenam diperhitungkan sebagai suatu perang salib tunggal. Perang Salib Kesembilan terkadang juga diperhitungkan sebagai bagian dari yang Kedelapan ini. Perang salib ini dianggap gagal karena Louis meninggal dunia akibat penyakit tidak lama setelah tiba di pesisir Tunisia, dan pasukannya yang juga dilanda wabah penyakit membubarkan diri kembali ke Eropa tidak lama setelahnya.

Perang Salib Kesembilan, yang mana terkadang dikelompokkan bersama dengan Perang Salib Kedelapan, umumnya dianggap sebagai Perang Salib besar yang terakhir di Tanah Suci pada abad pertengahan. Perang ini berlangsung antara tahun 1271–1272. Kegagalan Louis IX dari Perancis untuk menguasai Tunis dalam Perang Salib Kedelapan Edward, putra Henry III dari Inggris, untuk berlayar ke Akko dalam rangka melangsungkan apa yang disebut sebagai Perang Salib Kesembilan.

Perang Salib Kesembilan meraih beberapa kemenangan yang mengesankan bagi Edward atas Baibars. Pada akhirnya Perang Salib dipandang tidak begitu banyak kegagalan ketika kemudian menarik diri; Edward memiliki kekhawatiran akan masalah-masalah di negaranya dan merasa tidak mampu untuk menyelesaikan konflik-konflik di dalam wilayah-wilayah outremer yang tersisa. Dapat dikatakan bahwa semangat untuk melakukan Perang Salib sudah hampir "punah", pada periode ini juga. Hal ini juga merupakan pertanda ambang keruntuhan kubu-kubu pertahanan Tentara Salib terakhir yang masih tersisa di sepanjang pesisir Mediterania.

Dengan melihat sejarah pengambilalihan Yerusalem oleh Bangsa Arab, maka pusat ke Nashranian terpaksa dipindah ke Byzantium. "Bizantium" berasal dari kata "Byzantium", yaitu nama kota Konstantinopel sebelum menjadi ibukota Konstantinus yang Agung.

Setelah tinggal dan besar di Konstantinopel, Nashrani Byzantium pun dihancurkan oleh Muhammad Al Fatih (seorang raja atau sultan Kerajaan Utsmani - disebut juga sebagai Sultan Muhammad II - 7 Febuari 1451). Untuk kali kedua orang-orang Nashrani harus pindah, kali ini yang dipilih adalah Vatican, hal ini agar mereka mendapat perlindungan dari Roma.

Pada tanggal 29 Mei 1453 M, Sultan al-Ghazi Muhammad berhasil memasuki Kota Konstantinopel. Sejak saat itulah ia dikenal dengan nama Sultan Muhammad al-Fatih, penakluk Konstantinopel.

Selanjutnya karena merasa selalu dikejar-kejar oleh Bangsa Arab, maka seluruh kerajaan Nashrani bersatu, dibawah kepemimpinan Inggris, untuk kembali mengambil alih Tanah Suci Yerusalem milik mereka. Perang ini dinamakan dengan Perang Salib, dan saat itu ummat Nashrani berhasil merebut kembali Yerusalem.

Orang Nashrani sangat percaya kepada Kitab Suci mereka yang menyebutkan, bahwa Israel adalah Tanah Suci pemberian Tuhan, dan Tuhan akan melindungi sampai hari kiamat.

Seyogyanya kita mempelajari sejarah secara Lini Masa, sehingga tidak seenaknya menilai sesuatu. Kalau kita memulainya hanya dari Perang Salib, mungkin Perjuangan Palestina dapat dibenarkan, tetapi jika mempelajari sejarah awal yang sebenarnya, maka tidak sepatutnya, Tanah Suci Agama lain ingin dikuasai.

Sebagai analoginya, apakah mungkin Tanah Suci Agama X, dikuasai atau dikelola oleh Agama Y, atau sebaliknya...

Nabi Muhammad tidak pernah memerintahkan untuk merampas Yerusalem, karena Beliau sudah punya 2 Tanah Suci (Mekah & Madinah), dan Kiblat sendiri. Di dalam Quran pun tidak ada satupun ayat yang menyebut harus menguasai Yerusalem. 

Singkatnya, jika Arab Islam yang benar-benar mengikuti ajaran Nabi Muhammad, pasti tidak punya niat untuk merampas Israel / Yerusalem, karena Nabi sendiri mengajarkan "Bagiku Agamaku, Bagimu Agamamu"...

Gerakan Nasionalis di Eropa
Tahun 1800-an, lahir sebuah gerakan nasionalis baru di Eropa, yang mereka namakan "Gerakan Zionis". Zionisme sendiri merupakan gerakan politik yang mendukung pembentukan negara Yahudi.

Hal ini dikarenakan, orang-orang Yahudi merasa didiskrimiasi, sehingga mereka perlu memiliki negara sendiri, guna menghindar dari diskriminasi dan penindasan yang dilakukan orang-orang Eropa.

Dari Kongres Zionis I tahun 1897, mereka memutuskan untuk kembali merebut "Tanah Yang Dijanjikan". Yang kala itu masih merupakan bagian dari Kekaisaran Turki Utsmani (Lihat Sejarah di atas)

Sebelum agresi dilakukan, gerakan Zionis tersebut yang dipimpin oleh Theodor Herzl, menyodorkan uang pembayaran sebanyak 150 juta poundsterling sebagai tebusannya. Tetapi ditolak oleh Sultan Utsmani, Sultan Abdulhamid II, yang kala itu berkuasa.

Setelah Perang Dunia I, akhirnya Inggris berhasil merebut Palestina dari kekuasaan Utsmani pada tahun 1917. Setelah itu, Menteri Luar Negeri Inggris, Arthur Balfour, mengeluarkan deklarasi untuk mendukung gerakan Zionis, dalam rangka pembentukan negara Yahudi di Palestina.

Persetujuan PBB
Tahun 1947, PBB menyetujui Pembagian Palestina menjadi dua negara, yakni satu negara Yahudi dan satu negara Arab.

14 Mei 1948, Israel memproklamirkan kemerdekaannya, yang langsung diikuti oleh peperangan dengan negara-negara Arab di sekitarnya yang menolak rencana pembagian tersebut.

Israel kemudian memenangkan perang tersebut, dan mengukuhkan kemerdekaannya, dan akibat dari perang tersebutlah, Israel berhasil memperluas batas wilayah negaranya melebihi batas wilayah yang ditentukan oleh Rencana Pembagian Palestina.

Sejak saat itulah, Israel terus menerus berseteru dengan negara-negara Arab tetangga, yang mengakibatkan peperangan dan kekerasan yang berlanjut terus.

Meskipun Israel sudah menandatangani perjanjian damai dengan Mesir dan Yordania, tetapi usaha perdamaian antara Palestina dan Israel hingga saat ini belum berhasil.

Lini Masa
  • Tahun 1040 SM - 970 SM - Untuk Ummat Nashrani, wilayah kerajaan Israel adalah cikal bakal sejarah Yahudi Israel dan Nashrani, dimana merupakan wilayah sakral bagi Yahudi Nabi Daud, yang juga merupakan Tanah Kelahiran Nabi Isa / Yesus.
  • Tahun 571 M - Nabi Muhammad lahir di Mekkah, 571 M – meninggal di Madinah, 8 Juni 632 M
  • Tahun 632 M - Yerusalem diserang oleh Umar bin Khattab pada periode kekhalifahan kedua atau setelah Nabi Muhammad SAW wafat, atau setelah 8 Juni 632 M.
  • Tahun 637 M - Abu Ubayda mengepung Yerusalem - Berawal saat pasukan Muslim dibawah komando Abu Ubayda mengepung Yerusalem setelah mengambil alih Damaskus dalam Perang Yarmuk. Pada tahun 637, setelah pengepungan Yerusalem, pasukan Islam akhirnya mengambil alih kota tersebut.
  • Tahun 705 M - Masjid Al Aqhsa dibangun - Selang beberapa tahun kemudian setelah kejadian Umar shalat di lapangan, barulah masjid Al Aqhsa dibangun (selesai pada tahun 705 M atau + 72 tahun setelah Nabi Muhammad wafat) di atas puing' reruntuhan Bait Suci.
  • Tahun 1096 M - Dimulainya Perang Perebutan Kembali Yerusalem - Perang Salib sebagai jawaban untuk merebut Tanah Suci Ummat Nashrani, yang diambil dalam penaklukan kaum Muslim atas Levant (632–661). Pada akhirnya menyebabkan direbutnya kembali Yerusalem pada tahun 1096 M - 1099 M. 
  • Tahun 1917 MGerakan Zionis Berhasil Merebut Palestina - Setelah Perang Dunia I, akhirnya Inggris berhasil merebut Palestina dari kekuasaan Utsmani pada tahun 1917. Setelah itu, Menteri Luar Negeri Inggris, Arthur Balfour, mengeluarkan deklarasi untuk mendukung gerakan Zionis, dalam rangka pembentukan negara Yahudi di Palestina.
  • Tahun 1947 MPBB menyetujui Pembagian Palestina menjadi Dua Negara, yakni satu negara Yahudi dan satu Negara Arab.
  • Tahun 1948 M - Israel Memproklamirkan Kemerdekaannya
Literatur :
https://id.wikipedia.org/wiki/Gaza
https://id.wikipedia.org/wiki/Daud
http://javawindows.web.id
https://id.wikipedia.org/wiki/Muhammad
http://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/17/12/08/p0mre2396-saat-umar-bin-khattab-masuk-yerusalem
https://id.wikipedia.org/wiki/Masjid_Umar_(Yerusalem)
http://wassito.blogspot.co.id/2010/02/umar-bin-khatab-634-644-m-profil.html

Foto : Istimewa
Share:

Artikel Unggulan

Cara Memilih Presiden yang Baik dan Benar

Arsip