Pesona Meko Dengan Pasir Timbul di Tengah Laut Flores Timur

Air laut yang jernih jadikan pesona Meko begitu indah

Larantuka/Flores Timur (WartaMerdeka) - Pesona Larantuka di Flores, Nusa Tenggara Timur, tak hanya dikenal dengan upacara religi umat Kristiani, Semana Santa, yang setiap tahun diadakan. Namun, Larantuka juga memiliki destinasi yang tak kalah indah mulai pemandangan sunset, hingga hamparan pasir timbul di tengah lautnya, berada dekat Dusun Meko, Kecamatan Witihama, Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur.


Warga setempat sebutnya Pasir Timbul Meko. Dinamai pasir timbul, lantaran terdapat gundukan pasir di tengah laut seperti pulau kecil tak berpenghuni. Luasnya kurang lebih satu kilometer persegi. Pasir putih yang sedikit berwarna merah jambu/pink ini kontras dengan warna laut yang biru kehijauan.



Pasir warna pink berasal dari karang yang hancur. Keindahan ini tampak sempurna dengan dipadu pulau-pulau berwarna hijau yang subur. Tak ada ombak di pantai pasir itu, hanya riak-riak kecil yang menyapu pasir putih nan lembut. Jika air laut pasang, pulau itu akan tenggelam.



Pasir timbul di tengah laut Flores Timur
Bila ingin ke Meko, dari Pelabuhan Pelni Larantuka, kita menyeberang ke Pelabuhan Tubilota di Pulau Adonara. Lalu kita dapat menumpang kapal motor seharga Rp 5 ribu dengan waktu tempuh kira-kira hanya 10 menit. Lalu, dari Adonara bisa sewa mobil menuju ke Dusun Meko sekitar dua jam.



Warga dusun di sana bisa mengantarkan kita ke Pasir Timbul Meko, menyewa perahu nelayan lokal seharga Rp 400 ribu PP. Dalam perjalanan menuju pulau itu, kita akan disuguhi pemandangan yang tak kalah indah dengan air laut sangat jernih (aa/ma) | Foto: Dok. Kemenpar | Jaringan Tanah Impian
Share:

“Awan Aneh” Sempat Ganggu Transportasi Udara di Makasar

Makasar (WartaMerdeka) - Muncul fenomena alam berwujud gumpulan awan gelap di udara sekitar Bandara Internasional Sultan Hasanudin, Makasar, di awal 2019 kemarin. Awan yang dinamai kumulonimbus tampak di langit Kota Makassar, sempat membuat ima pesawat yang mau mendarat di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar tertunda karena harus menanti jarak pandang yang lebih aman.


Menurut General Manager AirNav Indonesia cabang Makassar Air Traffic Service Centre (MATSC) Novy Pantaryanto kepada Kompas.com, memang awan tersebut cukup berbahaya.
“Sangat mengerikan itu awan kumulonimbus. Kalau kita liat angin puting beliung, ekor angin itu ada di dalam awan kumulonimbus. Awan ini juga dapat membekukan mesin pesawat, karena di dalamnya terdapat banyak partikel-partikel es. Terdapat partikel petir dan sebagainya di dalam awan itu,” jelasnya.



Guna menghindari hal-hal yang tak diinginkan, bila muncul di radar ada awan kumulonimbus, AirNav langsung instruksikan kepada penerbang untuk menghindar dan waspada.



“Tidak ada pilot yang berani menembus awan kumulonimbus. Jadi kita mempunyai radar cuaca dan berkoordinasi dengan BMKG sehingga data dari BMKG yang diperoleh terkait cuaca buruk akan disampaikan kepada pilot. Jadi cuaca buruk yang terjadi, aman bagi lalu lintas penerbangan,” ungkapnya (ma). | Foto: abri | Jaringan Tanah Impian
Share:

Penegakan Hukum Lingkungan-Kehutanan Penuh Tantangan di 2019


Jakarta (WartaMerdeka) - Direktur Jenderal Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan/LHK, Rasio Ridho Sani saat Dialog Refleksi Kinerja untuk Persiapan Kerja KLHK untuk 2019 di Jakarta menjelaskan berbagai tantangan.


KLHK mengantisipasinya dengan memperkuat beberapa hal. Pertama, mengembangkan sistem big data untuk menggali informasi lebih dalam serta penguatan sistem surveilance bekerjasama dengan berbagai pihak, membentuk jejaring ahli dalam bekerja dan memperkuat sistem forensik.



Menurut Rasio berdasar pengalaman sejak 2015, penegakan hukum efektif untuk shock therapy, namun dalam membangun budaya kepatuhan, perlu didukung peningkatan awareness, pembinaan, dan penerapan instrumen lainnya. Selanjutnya, penerapan kerja kolaboratif melalui penyidikan berlapis menjadi alternatif untuk penguatan efek jera. Tak kalah pentingnya, komitmen dari eksekutif, legislatif, serta yudikatif yang kuat, berperan penting dalam penegakan hukum lingkungan hidup dan kehutanan.



Rentang 2015-2018, KLHK telah berhasil membawa 567 kasus kejahatan lingkungan ke pengadilan. Selain itu, sebanyak 18 kasus perdata terkait kejahatan lingkungan hidup dan kehutanan juga telah diajukan ke pengadilan. “Kita juga menggugat perusahaan atau pihak-pihak yang melakukan kejahatan lingkungan hidup dan kehutanan ke pengadilan.", jelas Roy.



Menurut Roy dari 18 kasus tersebut, 10 diantara telah mendapatkan putusan dari pengadilan atau Inkracht. Total nilai ganti rugi atas kerusakan lingkungan yang dilakukan oleh oknum adalah senilai 18,3 Triliun rupiah. Sebanyak 881 operasi dilakukan untuk pengamanan
dan pemulihan hutan maupun hasil hutan. Dari total tersebut, terbagi menjadi 337 operasi perambahan hutan, 241 operasi tumbuhan satwa liar, dan 303 operasi pembalakan liar. Dan sejak 2015, KLHK telah menangani 2.677 pengaduan terkait kejahatan LHK (dk).



Foto: abri


Share: