Konser Musik Malaka di NTT Tingkatkan Geliat “Cross Border Tourism”


Potensi wisata di perbatasan NTT dimeriahkan konser musik
Malaka/Nusa Tenggara Timur ( WartaMerdeka ) - Konser Musik Malaka digelar di Lapangan Misi Paroki, Betun, Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur (NTT) sebagai upaya menjaring wisatawan mancanegara/wisman dari Timor Leste. Kepala Bidang Pemasaran Area II Regional III di Deputi Bidang Pemasaran I Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Hendry Noviardi di Malaka mengatakan, Konser Musik Malaka 2019 diharapkan menjadi atraksi wisata tersendiri di daerah perbatasan (crossborder tourism) dari Timor Leste.

Sebagai ikon daya tarik, penyanyi asal Timor Leste Maria Vitoria alias Marvi menjadi bintang utama. Konser yang didukung penuh Kemenpr itu terbukti sukses menghibur para penonton yang sudah memadati sejak sore hari. “Maria sangat energik dan sangat interaktif kepada penonton. Tidak salah kami mengundangnya untuk menarik penonton asal Timor Leste. Sebelum Maria, tarian kolosal seperti tebe, bidu, dan likurai jadi daya tarik lain,” ungkap Hendry.

Konser Musik Malaka digelar pada 24-25 April dengan target utama mendatangkan 1.000 wisatawan asal Timor Leste selama konser berlangsung. Penampilan Marvi, sukses membawakan 8 lagu, diantaranya lagu “Tua-tua Keladi” yang dipopulerkan Anggun C. Sasmi.

Meskipun terbata-bata berbahasa Indonesia, Tetapi juara ajang pencarian bakat The Voice Portugal itu sangat lincah membawakan beberapa lagu berbahasa Indonesia hingga lagu dangdut. Pada penghujung penampilan, tembang lawas dari Queen ‘Bohemian Rapsody’ juga sukses dibawakannya (pn/ma).| Foto: Dok. Kemenpar .|  Jaringan Indonesia Mandiri
Share:

Pariwisata Garut Bergeliat Setelah Diaktifkannya Kembali Jalur Kereta

Konektifitas jalur kereta bantu kembangkan wisata di Garut
Garut ( WartaMerdeka ) - “Siapa yang berani meragukan keindahan Garut. Ini destinasi yang luar biasa. Garut memiliki nature dan culture yang sangat luar biasa. Juga dilengkapi dengan wisata sejarah, ada juga wisata religi. Garut sangat besar potensinya,” puji Menteri Pariwisata Arief Yahya di Cibatu, Garut, Jawa Barat (26/4).

Arief Yahya tak sendirian. Mereka rombongan naik kereta dari Bandung ke Cibatu dengan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Menteri Keuangan Sri Mulyani, Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil saat meresmikan jalur kereta baru ke Garut. Ikut pula dalam perjalanan Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (KADIN), Ketua Umum Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI), Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) serta debitur dan Pendamping Pembiayaan Ultra Mikro terkait pengembangan industri pariwisata untuk mendorong kesejahteraan masyarakat.

“Konektivitas yang dibangun Pemerintah memungkinkan kelancaran pergerakan barang dan manusia sehingga terdapat kemudahan akses dunia luar ke daerah wisata dan sebaliknya,” jelas Arief Yahya. Intinya, sektor kemajuan pariwisata berdampak luas bagi kesejahteraan masyarakat di daerah karena banyak wisatawan dalam dan luar negeri akan datang. Saat ini pemerintah telah persiapkan berbagai program seperti akses Wifi gratis, wisata kesehatan, dan program UMKM Jawa Barat di daerah wisata Situ Bagendit.

Pemerintah memang memandang sektor pariwisata sebagai sektor strategis dalam pengentasan kemiskinan. Sektor ini sangat terkait dengan lainnya yang bersifat padat karya serta melibatkan usaha masyarakat berskala mikro dalam jumlah masif. Melalui Pembiayaan Ultra Mikro (UMi), misalnya, masyarakat diberi program pembiayaan, pelatihan, pendampingan kepada pengusaha Ultra Mikro di daerah wisata. UMi merupakan program pembiayaan masyarakat usaha mikro di lapisan terbawah yang tidak memiliki akses perbankan. Jumlah plafon pembiayaan ini paling banyak Rp10 juta pernasabah (ay/ma). | Foto: abri | Jaringan Indonesia Mandiri
Share:

Menpar Raih Prestasi Tinggi di Kabinet Kerja

Buah Manis yang dipetik dari Kerja keras Menpar Arief Yahya
Jakarta ( WartaMerdeka ) - Menteri Pariwisata Arief Yahya dinobatkan sebagai menteri yang berprestasi tinggi di Kabinet Kerja 2014-2019 dalam ajang Penghargaan Prestasi Tinggi Kabinet Kerja. Acara pemberian penghargaan berlangsung di Suhana Hall, The Energy Building Jakarta (24/4). Ada 4 menteri lainnya peroleh penghargaan serupa yakni Menteri PUPR Basuki Hadi Muljono, Menteri Keuangan Sri Mulayani Indrawati, Menteri Perhubungan Budi Kaya Sumadi, dan Menteri ESDM Ignasius Jonan.

Perhelatan ini diselenggarakan Lembaga Kajian Nusantara (LKN) bersama Ikatan Ahli Manajemen Proyek Indonesia (IAMPI) kepada Menpar Arief Yahya atas prestasinya majukan pariwisata nasional empat tahun terakhir. Ketua LKN Samsul Hadi menyebut, penetapan prestasi tinggi untuk Arief Yahya mempertimbangkan beberapa indikator di antaranya terus naiknya PDB sektor pariwisata dari tahun ke tahun dan kian besarnya pariwisata menciptakan banyak kesempatan kerja serta menggerakkan ekonomi lokal.

Selain itu hingga September 2018 terlihat pencapaian prestasi Destinasi Pariwisata Prioritas melampui target. “Prestasi lainnya adalah daya saing pariwisata Indonesia terus membaik selama 4 tahun terakhir dan tentu saja memberikan kontribusi positif pada penerimaan devisa negara yang mendorong kualitas investasi menjadi lebih baik,” ungkap Samsul Hadi.

Sumbangan devisa dari sektor pariwisata meningkat sejak 2015 dari US$ $12,2 miliar, menjadi US$ 13,6 miliar di 2016, dan meningkat menjadi US$15 miliar pada 2017. Lalu 2018 perolehan devisa pariwisata diproyeksikan sebesar US$ 17,6 miliar dengan perhitungan capaian 16,2 juta wisman dikalikan aspa (avarage spending per-arrival) atau rata-rata pengeluaran per kunjungan sebesar US$ 1.100/wisman. “Perolehan devisa pariwisata tahun ini akan menempatkan posisi pariwisata sebagai penghasil devisa terbesar, mengalahkan atau sejajar dengan devisa crude palm oil (CPO) sebesar US$ 16 miliar berada di urutan teratas,” ucap Arief Yahya optimis (ma/pn). Foto: Dok. Kemenpar | Jaringan Indonesia Mandiri
Share:

Syifa Hadju coba Lindungi Generasi Muda dari Kanker Serviks

Syifa Hadju: Lindungi Generasi Muda dari Kanker Serviks
Jakarta ( WartaMerdeka ) -  Aktris, model dan penyanyi Syifa Hadju (17) kini sedang menggalang petisi, untuk melindungi generasi muda dari kanker serviks. Syifa sudah menjadi duta dari Koalisi Indonesia Cegah Kanker Serviks (KICKS). Dan kini telah lebih dari 35.500 orang yangmenandatangani petisi itu. Syifa menyatakan, sebagai bagian dari generasi milenial yang selalu up to date, ia yakin perannya dapat sangat membantu penyebaran pesan penting, tentang pencegahan penyakit kanker serviks.

Di Indonesia, setiap tahunnya sekitar 20.928 wanita di Indonesia terdiagnosis kanker serviks. Hampir dari setengahnya (45 persen) tidak dapat diselamatkan. Sebagai generasi muda Indonesia, Syifa menegaskan, ia tidak bisa diam. Generasi muda harus bergerak. Karena setiap kali memilih untuk diam, ada 26 perempuan Indonesia meninggal setiap harinya karena kanker serviks, dan diprediksi terdapat 58 kasus baru setiap harinya. Ini menurut data Globocan pada  2012.

Deteksi dini adalah langkah pertama yang dapat dilakukan, dilanjutkan dengan vaksinasi Human Papilloma Virus (HPV) untuk mencegah risiko di kemudian hari. Kedua, memberitahu teman dan keluarga tentang pentingnya pencegahan penyakit ini. Jika perlu informasi lebih lengkap, bisa mengunjungi situs cegahkankerserviks.org, untuk mengetahui lebih banyak.

Menurut Syifa, petisi ini perlu, agar akses terhadap vaksinasi HPV menjadi hak dari perempuan di seluruh Indonesia. Jadi, diharapkan ada dukungan pada KICKS, untuk mendorong pemerintah menjadikan vaksinasi ini program nasional. Setiap satu suara dukungan sangatlah berarti. Syifa menyatakan kesedihannya, bahwa ia telah kehilangan seorang sahabat, artis Julia Perez atau Jupe yang meninggal pada Juni 2017, setelah melawan penyakit kanker serviks selama beberapa tahun terakhir.

Fakta miris yang baru adalah saat ini kanker serviks merupakan salah satu kanker pembunuh terbanyak di Indonesia. Sayangnya, masih banyak masyarakat Indonesia belum menyadari tentang penyakit yang disebabkan oleh HPV ini. Padahal, virus ini dapat menginfeksi perempuan sejak usia dini (sa) | Foto: Istimewa | Jaringan Indonesia Mandiri
Share:

Fitri Nurlaela, sang "Polisi Hutan" yang menikmati Profesinya

Fitri Nurlaela saat melaksanakan profesi sebagai Polisi Kehutanan
Jakarta ( WartaMerdeka ) - Peringati hari Kartini pada 21 April, seringkali kita bercermin pada kebanyakan sosok perempuan Indonesia masa kini yang juga miliki peran strategis, mandiri, dan penuh tanggungjawab dalam bekerja. Seperti halnya profesi sebagai Polisi Hutan (Polhut), terlebih perempuan, di Indonesia masih agak jarang didengar. Padahal peran Polhut ini begitu penting, dalam menjaga serta melestarikan alam beserta isinya. Ini yang dijalankan Fitri Nurlaela, Polisi Kehutanan Pelaksana di Balai Konservasi Sumberdaya Alam/BKSDA Jakarta. BKSDA ini berada di dalam Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), khususnya Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem.

Fitri, yang kelahiran Bandung Juli 1985, adalah lulusan Sekolah Kehutanan Menengah Atas/SKMA Kadipaten, Majalengka, Jawa Barat pada 2003. SKMA selevel dengan SLTA atau SMK, merupakan sekolah yang dibina oleh KLHK dan di Indonesia hanya ada lima sekolah (Pekanbaru, Kadipaten, Samarinda, Makasar dan Manokwari). Setelah lulus, Fitri langsung mencoba mendaftar sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil/CPNS di KLHK dan diterima. Pos pertamanya Fitri ditempatkan sebagai Polhut di Taman Nasional Betung Karihun, Kalimantan Barat, selama 2,5 tahun. 

Sebagai Polhut, Fitri mendapati pendidikan layaknya seorang polisi dan ditempa dalam diklat yang dibina oleh Polri di Lido, Jawa Barat. Disamping soal kedisiplinan dan baris-berbaris, Ia juga memperoleh pendidikan khusus untuk mengenal lebih dekat dengan alam beserta isinya serta upaya bertahan hidup di lapangan (jungle survival). Dengan seragam lapangannya yang khas warna hijau, sepatu laras tinggi dan juga adakalanya dipersenjatai (senjata laras panjang), "Pengalaman saya paling berkesan di Betung Karihun saat  ada operasi gabungan di 2005 selama seminggu bersama TNI-Polri. Disitu kita jalan kaki untuk menuju lokasi saja selama dua hari. Perempuannya hanya 2 orang termasuk saya. Dan akhirnya bisa ikut membantu petugas yang menyita aset perusahaan kayu, menahan oknum yang terlibat Illegal logging," kisah Fitri yang kini dikarunia dua anak.

Semenjak menikah (2006), Fitri pindah unit di BKSDA Jakarta. Di tempat ini, ia memang lebih banyak dibelakang meja. Sesekali saja ke lapangan. "Tantangan di BKSDA Jakarta dengan di BKSDA atau Taman Nasional lainnya berbeda. Di sini lebih banyak soal kepemilikan satwa liar. Jadi kita banyak melayani masyarakat," jelas Trustiadi, Kepala Seksi Konservasi Wilayah I BKSDA Jakarta yang juga Polhut. Fitri sudah terlanjur cinta sebagai Polhut. "Saya sering rindu untuk ke lapangan. Kalau di sini paling ke Pulau Bokor, Pulau Rambut, Untung Jawa, urusi pembersihan sampah di laut. Saya menikmati profesi sebagai Polhut," ungkap Fitri. 

Fitri bersama rekan kerjanya mesti keluar masuk hutan-rawa sebagai Polhut
Kini, Fitri sedang melanjutkan studi untuk meraih gelar sarjana strata-1. Di saat Hari Kartini, ia menilai peran perempuan Indonesia kian luas kemampuannya dan setara dengan laki-laki. Harapannya, peran Polhut lebih dikenal lagi oleh masyarakat seperti halnya di luar negeri. Di AS
Amerika Serikat misalnya, Polhut yang dikenal dengan "Ranger", sangat ikonik dengan seragam nya. "Ini belum terjadi di Indonesia, beberapa kali saya menggunakan seragam Polhut orang masih bertanya tentang seragam saya," aku Fitri (ma). | Foto: Istimewa | Jaringan Indonesia Mandiri
Share: