-->

Notification

×

Indeks Berita

Bukit Peramun Belitung Simpan Banyak Pesona Keindahan Alam

2019-12-08 | 20.10 WIB Last Updated 2019-12-08T13:10:25Z
Pesona lain bila ke Belitung bisa kunjungi Bukit Peramun
Belitung (WartaMerdeka) - Pesona wisata Belitung tak hanya dijumpai di pantai dan kekayaan bawah lautnya saja. Ada lokasi wisata bernama Bukit Peramun berupa hutan yang puncaknya digunakan sebagai titik pandang Belitung dari ketinggian. Bukit Peramun terletak di Desa Air Selumar, Kepulauan Bangka Belitung, sekitar 21,8 km dengan jarak tempuh l 30 menit dari Bandara Hanandjoeddin di Belitung.

Hutan ini memiliki 147 jenis pohon yang sebagian besar berkhasiat obat, delapan jenis tanaman anggrek dan 30 jenis lumut. Kawasan ini dikelola langsung komunitas masyarakat setempat bernama Arsel binaan Bank Central Asia (BCA). Ketua komunitas Arsel, Adie Darmawan atau akrab disapa Adong menjelaskan, ‘peramun’ berasal dari kata peramuan. Kata peramuan diambil dari bukti sejarah yang mengatakan sekutar lokasi pernah ada desa yang dihuni para ahli peracik tanaman berkhasiat obat. Lokasi tersebut kini menjadi wilayah konservasi dan tertutup untuk pengunjung umum.

“Menurut cerita, dahulu pernah berdiri semacam kampung kecil yang berlokasi di gubuk peramun atau lorong granit. Masyarakatnya sangat ahli meracik tanaman lokal yang berkhasiat obat. Hal tersebut diperkuat dengan penemuan bermacam tanaman berkhasiat obat di bibir lorong granit yang diduga dahulu adalah gubuk peramun,” ujar Adong.

Satwa Tarsius yang sangat langka bisa dijumpai malam hari di Bukit Peramun
Untuk menuju puncak yang tingginya 129 mdpl, wisatawan harus berjalan kaki selama sekitar 30 menit dengan sudut kemiringan jalan (elevasi) 35 derajat. Meski medannya cukup menantang, namun pemandangan yang tersaji sesampainya di puncak sungguh indah.

Saat malam tiba, di bukit ini wisatawan dapat melihat monyet hantu mini bermata belo yang lebih dikenal sebagai Tarsius. Warga setempat biasanya menyebut Pelilian. Rupa Tarsius memang unik, berukuran sebesar anak kucing, berbentuk monyet dengan ekor panjang dan memiliki mata besar serta bisa memutar leher sebanyak 180 derajat. Hidupnya pun nocturnal.

Keberadaan tarsius sangat dijaga oleh warga sekitar karena jumlahnya sedikit. Mereka membatasi, dalam satu minggu, hanya tiga kali pengunjung diperbolehkan melihat tarsius. Cara pengunjung dapat melihat tarsius pun unik. Warga yang membiarkan Tarsius hidup bebas di hutan hanya akan mencarinya ketika ada pengunjung ingin melihat. Mereka tidak meletakan Tarsius di dalam kandang. Hal demikian dilakukan untuk menjaga kelestariannya yang bisa dijumpai sekitar pukul 18.30 -21.00. Biasanya wisatawan diberi waktu sekitar 10-15 menit dengan jarak minimal 1 meter dari Tarsius (dh/pn).
×
Berita Terbaru Update