Home » » Badan Pusat Statistik Akui Peningkatan Pendapatan Petani

Badan Pusat Statistik Akui Peningkatan Pendapatan Petani

Posted by WARTA MERDEKA on 2020-01-24

Pendapatan petani cenderung menaik dan angka kemiskinan menurun
Jakarta (WartaMerdeka) - Badan Pusat Statistik (BPS) merilis jumlah penduduk miskin di Indonesia mengalami penurunan sebesar 0,43 persen atau sebanyak 24,79 juta orang. Penurunan terjadi pada periode September 2019, dimana angka sebelumnya, Maret 2018, angkanya masih cukup tinggi.

Kepala BPS Suhariyanto menyatakan, faktor penurunan ini sebagian besar dipengaruhi meningkatnya rata-rata upah nominal buruh tani pada September 2019. Adapun presentasi kemiskinan pada bulan tersebut mencapai 9,22 persen. “Angka sebesar itu, kalau kita bandingkan dengan Maret 2019 berarti terjadi penurunan sebesar 0,19 persen, dimana angkanya mencapai 358,9 ribu orang. Sedangkan pada September 2019 mencapai 888,7 ribu orang," jelas Suhariyanto (23/1).

Dengan penurunan ini, lanjut Suhariyanto, presentase penduduk miskin pada September 2019 mencapai 9,22 persen, atau menurun 9,66 persen dibandingkan Bulan September 2018. Sebagai data tambahan, jumlah penduduk miskin di perdesaan juga mengalami penurunan secara signifikan. Ini terlihat pada data BPS untuk Maret 2013, dimana angka saat itu pada 14,32 persen.

Sedangkan pada Maret 2018, angkanya turun menjadi 13,20 persen. Kemudian turun di periode sama di 2019, sebanyak 12,85 persen. Adapun pada September 2019, jumlah penduduk miskin di perdesaan turun kembali menjadi 12,60 persen atau 14,9 juta jiwa.

Mengenai hal ini, Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementerian Pertanian (Kementan), Kuntoro Boga Andri menyampaikan, ketersediaan pangan yang cukup turut mempengaruhi menurunnya jumlah penduduk miskin hingga 73,8 persen. “Oleh karena itu, tidak berlebihan kalau sektor pertanian selalu mendapat perhatian pemerintah dalam pembangunan nasional supaya mampu menyediakan pangan yang cukup bagi penduduknya," ungkapnya.

Kuntoro mengatakan, keberhasilan pemerintah mengelola dan menyediakan pangan yang cukup bagi penduduknya terlihat jelas, tak adanya gejolak harga pangan, sekalipun memasuki hari raya besar dan tahun baru. “Bahkan harga beras sepanjang 2019 cenderung menurun, dan hal ini terlihat pada kelompok pangan beras dan umbi-umbian yang mengalami deflasi sebesar 0,15 persen, dimana beras mempunyai andil sebesar 0,0334 dalam mengendalikan inflasi," paparnya (ma).

Terimakasih sudah membaca & membagikan link WARTA MERDEKA

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Warta Merdeka Indonesia