loading...
Home » » Kreatifitas Kelompok Tani Hutan Tetap Jalan Saat Ancaman Covid-19

Kreatifitas Kelompok Tani Hutan Tetap Jalan Saat Ancaman Covid-19

Posted by WARTA MERDEKA on 2020-04-01

Kelompok Tani Hutan didampingi penyuluh dari KLHK tetap produktif berkarya ditengah kelesuan dampak covid-19
Bogor (WartaMerdeka) - Meski wabah virus Corona (Covid-19) tengah merebak, Balai Diklat Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BDLHK) Bogor, bersama para penyuluh kehutanan, dan masyarakat yang tergabung Kelompok Tani Hutan (KTH), tetap bekerja produktif. Mereka melakukan kegiatan tumpangsari yang memadukan tanaman kehutanan, tanaman serbaguna MPTS (multi purposes tree species), tanaman sela (sereh wangi), serta budidaya tanaman di bawah tegakan berupa jagung, kacang tanah, umbi-umbian, dan empon-empon.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM (BP2SDM) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan/KLHK Helmi Basalamah menyebut, selain gelar pelatihan kepada aparatur dan non aparatur, BDLHK Bogor juga peduli terhadap masyarakat sekitar, melalui kegiatan yang melibatkan masyarakat mengelola Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Hutan Diklat Rumpin. “Jadi mereka tetap bekerja produktif dengan tetap waspada mengikuti kebijakan dan arahan dari Pemerintah,” katanya.

Kepedulian ini digambarkan dengan kegiatan pemberdayaan masyakat melalui pembentukan KTH mitra BDLHK Bogor yaitu KTH Babakan Setu beranggotakan 25 orang, KTH Lio Maju 24 orang, KTH Lebak Sawo 25 orang, dan KTH Barokah Hijau 45 orang. Keempat KTH ididampingi 2npenyuluh kehutanan, dan 3 tenaga bakti rimbawan.

Terkait produktivitas masyarakat, Helmi menyampaikan ada hal menggembirakan saat masa tanggap darurat Covid-19 ini. Walaupun areal KHDTK yang dipakai tak begitu luas, dan KTH baru berusia 1 tahun, tetapi mampu menghasilkan panen kacang tanah sebanyak 8,5 ton, atau sekitar 4 - 4,5 ton/panen hasil 1 kali panen per 4 bulan. “Kacang tanah dihargai pedagang sebesar Rp 8.000 – Rp 10.000/kg, sehingga dapat menghasilkan Rp 32 Jt – Rp 45 Jt per panen,” tutur Helmi.

Untuk sereh wangi, sudah ada perusahaan menampung dengan pola mitra, dimana bibit sereh disediakan perusahaan. Panen sereh wangi menghasilkan 6 ton atau sekitar 3-4,5 ton/panen (1 kali panen per 3 bulan) dengan harga jual Rp 500/kg meraup Rp1,5 Jt - Rp2,25 Jt/panen.

Belum lagi hasil panen pisang, jagung, umbi-umbian, lalap-lalapan, kunyit, jahe, lengkuas, dan tanaman pangan lainnya, yang menjadi sumber sebagian nutrisi (karbohidrat, protein, vitamin dan mineral) keluarga petani, dalam memenuhi kebutuhan pangan, terutama selama wabah virus Covid-19.

“Dengan pelibatan masyarakat, pengelolaan Hutan Diklat Rumpin melalui konsep Leuweung Hejo Masyarakat Ngejo dapat terwujud. Hutan Diklat menjadi terjaga dari pengrusakan dan penyerobotan lahan,” ungkapnya (ma).

Terimakasih sudah membaca & membagikan link WARTA MERDEKA

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Warta Merdeka Indonesia