loading...
Home » » Pentingnya Kesiapan Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tagani Covid-19

Pentingnya Kesiapan Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tagani Covid-19

Posted by WARTA MERDEKA on 2020-07-09

Webinar digelar RSUI secara gratis dan diikuti berbagai tenaga medis dan kesehatan dari seluruh Indonesia 
Depok (WartaMerdeka) – Wabah Covid-19 yang melanda seluruh dunia, termasuk Indonesia, sebaran ancamannya masih mengkhawatirkan. Kementerian Kesehatan telah menunjuk rumah sakit rujukan Covid-19 di beberapa provinsi dan laboratorium untuk pemeriksaan, namun persiapan di rumah sakit yang bukan rujukan serta fasilitas pelayanan kesehatan primer juga perlu diperhatikan karena dari fasilitas-fasilitas kesehatan inilah terduga penderita Covid-19 dapat terjaring.

Kemampuan mengenali, merujuk, menatalaksana, serta kemampuan mengendalikan infeksi perlu dipastikan apakah sudah benar-benar matang dan dapat menjamin setiap kasus Covid-19 dapat ditangani dengan tepat dan aman di setiap fasilitas pelayanan kesehatan di Indonesia. Atas dasar itu, Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI) mengadakan webinar komprehensif bertema ‘Hospital Preparedness COVID-19” selama lima hari, 22-26 Juni 2020 secara gratis dan virtual (daring), ditujukan untuk seluruh tenaga medis dan kesehatan di Indonesia sebagai bentuk pengabdian masyarakat. Kegiatan ini  kerja sama dengan FKUI, didukung Direktorat Riset dan Pengembangan Medik RSUI.
Menurut Ketua pelaksana acara, dr. Raden Rara Diah Handayani, kegiatan ini sebenarnya selain ingin memberikan pengetahuan terkait tata laksana rumah sakit, juga untuk mengetahui tingkat pengetahuan tenaga kesehatan dan mengetahui tingkat kesiapan fasilitas pelayanan kesehatan yang ada di masing-masing rumah sakit sehingga diharapkan dapat mengevaluasi sejauh mana pelayanan kesehatan di Indonesia telah memenuhi standar WHO dan Kementerian Kesehatan RI.”
Peserta webinar diminta isi survei dalam bentuk pre-test dan post-test untuk mengetahui lebih dalam terkait kesiapan dalam penanganan Covid-19 di fasilitas pelayanan kesehatan/Fasyankes masing-masing. Dari hasil survei didapat fakta, lebih dari 50% nilai pre-test peserta kurang dari 60, artinya tingkat pengetahuan tenaga medis dan tenaga kesehatan dalam penanganan COVID-19 masih kurang.
Webinar dibagi lima kelompok materi selama lima hari, yaitu mengenai diagnosis, alur pelayanan Covid-19, manajemen klinis, kesiapsiagaan RS menghadapi pandemi, dan terapi pendukung serta evaluasi pasca-perawatan Covid-19. Sekitar 1.659 peserta dari Sabang sampai Merauke mengikuti kegiatan tersebut, ada 21 orang narasumber dokter dan perawat yang ahli di bidangnya, berbagi wawasan dan pengalaman mereka.
Kecurigaan apakah seseorang Covid-19 atau tidak, dilihat dari ada tidaknya gejala penyakit saluran napas, dan ada tidaknya kontak erat dengan pasien COVID-19. Atau memiliki pekerjaan yang berisiko besar tertular. Bila seseorang dengan gejala penyakit saluran napas akan berobat di suatu Fasyankes, melalui triase terlebih dahulu. Triase merupakan upaya penentuan prioritas penanganan pasien berdasarkan tingkat kegawatan kondisinya, diwakili dengan warna: hijau untuk kondisi ringan dan tidak membutuhkan penanganan segera, kuning untuk kondisi sedang, dan merah untuk kondisi berat atau mengancam nyawa dan perlu diprioritaskan ditangani.
Untuk itu, triase dilakukan dengan cepat memakai kriteria yang telah disepakati di setiap Fasyankes. Ruang triase tidak boleh terlalu penuh sehingga keluarga pasien diharapkan dapat menunggu di luar area triase. Jarak tunggu antar pengunjung fasilitas kesehatan juga harus dipertahankan setidaknya 1 meter.
drg. Novarita selaku Kepala Dinas Kesehatan Depok, turut berbagi penjelasan mengenai alur pelayanan Fasyankes selama pandemi di Depok. Sebanyak sembilan rumah sakit dipersiapkan sebagai RS rujukan Covid-19. Dari RS, Puskesmas dan satgas Covid-19 yang ada memakai Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT) ke RS rujukan Covid-19. Per 24 Juni 2020, angka replikasi virus (R0) di Kota Depok telah mencapai 1,18 dari sebelumnya 3,35 pada 17 Maret 2020. 
Di sisi RS dan fasyankes primer lainnya, pandemi COVID-19 menyebabkan pembiayaan membengkak untuk menyuplai alat pelindung diri (APD) dan fasilitas kesehatan pendukung lainnya. Selain itu, risiko kesakitan terhadap tenaga kesehatan juga meningkat. Kapasitas pelayanan kesehatan terutama bagi masyarakat umum terancam menurun saat tenaga medis dan kesehatan harus berhenti sementara maupun permanen akibat infeksi Covid-19

Di ujung Webinar, hasil survei akhir yaitu post-test menunjukkan peserta dengan nilai.< 60 menurun menjadi 41% dengan nilai rata-rata adalah 60 (rerata nilai pre-test 51). Hal ini menunjukkan adanya dampak positif dari pemberian materi selama webinar terhadap tingkat pengetahuan peserta (dh).

Terimakasih sudah membaca & membagikan link WARTA MERDEKA

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Warta Merdeka Indonesia