loading...
Home » » Teknologi Modifikasi Cuaca Tahap Tiga Di Riau Redam Karhutla

Teknologi Modifikasi Cuaca Tahap Tiga Di Riau Redam Karhutla

Posted by WARTA MERDEKA on 2020-10-02

TMC menjadi salah satu solusi mengurangi pencegahan Karhutla di sejumlah daerah
Palembang (WartaMerdeka) – Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) menjadi salah satu solusi permanen pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla). TMC dilakukan terutama di provinsi rawan karhutla melalui rekayasa hujan dengan penyemaian awan. Pada 2020, operasi ini sudah dilaksanakan sejak Februari hingga saat ini terus dilaksanakan di Provinsi Riau, Sumatera Selatan, Jambi, dan Kalimantan Barat.

Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Basar Manullang, mengungkapkan, operasi TMC ini dilaksanakan untuk menindaklanjuti arahan Presiden dan Menteri LHK sebagai upaya mitigasi dan menetapkan solusi permanen dalam pengendalian Karhuitla. Kegiatan TMC merupakan upaya sinergi bersama dan dukungan para pihak meliputi KLHK, BPPT, BNPB, TNI AU, BMKG dan Satgas Dalkarhutla Provinsi.
"Periode ketiga ini, TMC dilaksanakan di Riau sejak 24 Juli 2020 hingga saat ini (30/9), kita lakukan 50 sorti dengan NaCl yang disemai sebnyak 40 ton dengan perkiraan menghasilkan air hujan 108,5 juta m3, operasi dinilai cukup berhasil mengurangi dan memitigasi terjadinya kebakaran," ucap Basar. Dan, selain di Riau, TMC juga digelar di Sumatera Selatan, Jambi, dan Kalimantan Barat. Posko operasi yang berpusat di Sri Mulyono Herlambang Palembang ini, telah melakukan penyemaian awan sebanyak 40 sorti dengan NaCl yang disebar sebanyak 83,25 ton.
“Sampai dengan kemarin (29/9), TMC yang kita lakukan sudah menghasilkan hujan dengan volume yang cukup untuk membasahi lahan sehingga menurunkan potensi karhutla,” jelas Basar. Menurut laporan Tim Posko TMC Di Provinsi Sumatera Selatan, volume air hujan yang dihasilkan diperkirakan sebanyak 786,80 juta m3, di Provinsi Jambi sebanyak 369,22 juta m3, di Kalimantan Barat sebanyak 199 juta m3.
Perbandingan total jumlah hotspot 2019 dan 2020 (1 Januari – 1 Oktober), dari Satelit NOAA Conf. Level ≥80% terpantau 669 titik. Di periode sama 2019, jumlah hotspot sebanyak 7.375titik (terdapat penurunan sebanyak 6.706 titik / 90,93%). Sedangkan berdasarkan Satelit Terra/Aqua (NASA) Conf. Level ≥80% pada 2020 terpantau 1.849 titik, dan periode sama di 2019 jumlah hotspot sebanyak 22.608 titik, ada penurunan jumlah hotspot sebanyak 20.759titik/91,82% (dh).

Terimakasih sudah membaca & membagikan link WARTA MERDEKA

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Warta Merdeka Indonesia