loading...
Home » » Tetap Sehat Dan Ceria Bagi Pertumbuhan Anak Di Masa Pandemi

Tetap Sehat Dan Ceria Bagi Pertumbuhan Anak Di Masa Pandemi

Posted by WARTA MERDEKA on 2020-11-12

Karena anak fisiknya masih kecil, maka perlu pendampingan ekstra saat ia bermain 

Depok
 (WartaMerdeka) – Indonesia merupakan negara dengan Case Fatality Rate (CFR) tertinggi pada anak akibat Covid-19 di Asia Pasifik (Ikatan Dokter Anak Indonesia/IDAI, 2020). Walaupun bukan kelompok yang paling berisiko, namun data menunjukkan bahwa anak-anak juga dapat terjangkit virus Covid-19 (CDC, 2020), sehingga perlu dilakukan tindakan pencegahan yang dapat mempengaruhi kesehatan anak.

Hal ini menjadi bahasan seminar rutin bulanan Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI) bertema “Tumbuh Kembang Anak: Tetap Sehat dan Ceria selama Masa Pandemi” (11/11), sebagai rangkaian spesial pengabdian masyarakat bersama Direktorat Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Universitas Indonesia (DPPM UI).

Seminar kali ini dimoderatori oleh dr. Sri Wahdini, M.Biomed, Sp.Ak, dosen di FKUI dan juga sebagai dokter spesialis akupuntur medik di RSUI, serta pembicaranya dr. Annisa Rahmania Yulman, Sp.A tentang “Kiat Melindungi Buah Hati dari Infeksi”. Annisa menghimbau kepada orang tua untuk selalu melakukan pemantauan rutin terhadap tumbuh kembang anak, dimana memantau tumbuh anak dapat diketahui melalui pengukuran berat badan, panjang/tinggi badan, serta lingkar kepala.

Terkait pemantauan perkembangan anak, terdapat formulir pemantaua dikenal dengan nama KPSP (Kuesioner Pra Skrining Perkembangan). Dari KPSP ini terdapat redflag/warning sign atau tanda bahaya, yaitu suatu indikator kapan seorang anak mengalami gangguan perkembangan. Jika terdapat tanda bahaya, orangtua sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter.

 “Pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak dapat pula dipantau oleh orangtua menggunakan aplikasi PrimaKu yang telah dikembangkan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia” ujar Annisa. Terkait tema infeksi, tambah Annisa, ada beberapa tips pencegahan penyakit infeksi yang sering terjadi pada anak diantaranya ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut), diare, dan demam.

 “Penyakit-penyakit infeksi ini dapat dicegah dengan melakukan pola hidup bersih dan sehat, diantaranya yaitu menjaga kebersihan diri dan lingkungan (rajin mencuci tangan, menjaga kebersihan makanan dan minuman, memastikan sirkulasi udara di rumah baik), mengoptimalkan aspek nutrisi (ASI eksklusif, konsumsi makanan bergizi seimbang, serta menerapkan aspek keamanan pangan dalam memasak), istirahat yang cukup, serta melakukan imunisasi sesuai jadwal” jelasnya.

Pembicara kedua, Dr. dr. Retno Asti Werdhani, M.Epid membahas pentingnya peran keluarga terhadap kesehatan individu. Saat pandemi Covid-19 ini, kita sering mendengar adanya klaster keluarga. Klaster ini berawal dari seseorang yang sudah lebih dahulu tertular lalu menularkannya pada anggota keluarga lainnya. Hal ini dapat terjadi apabila salah satu anggota keluarga yang beraktivitas di luar rumah ternyata membawa pulang virus tersebut. Klaster keluarga berkontribusi hingga 85% terhadap peningkatan kasus positif,” papar Asti, anggota Komite Medik RSUI yang juga dosen FKUI.

Asti juga memberi beberapa tips untuk mewaspadai adanya klaster keluarga, diantaranya tetap menerapkan 3M (Memakai masker, Mencuci tangan, Menjaga jarak), menghindari 3R (Ruang sempit, Rumpi, Ramai-ramai). “Ketika pulang ke rumah harus langsung mandi dan mencuci baju karena kita tidak tahu apa yang kita bawa dari luar. Peran orang tua sebagai contoh bagi anak-anaknya sangatlah penting dalam menanamkan nilai-nilai penerapan terkait protokol kesehatan ini,” tambahnya.

Ns. Mila Sri Wardani, S.Kep, pembicara ketiga, menyampaikan data Centers for Disease Control and Prevention (CDC), dimana 44% penyebab kematian anak di Amerika Serikat disebabkan kecelakaan yang tidak disengaja. Anak-anak lebih berisiko mengalami cedera dibanding orang dewasa, beberapa alasannya yaitu, anak memiliki kulit lebih tipis dan mudah terluka, ukuran kepala yang lebih besar dalam proporsi tubuhnya, anak belum mengetahui bagaimana menjaga diri mereka dari kecelakaan, anak memiliki ukuran tangan dan kaki kecil yang memungkinkan lebih mudah masuk/tersangkut ke dalam lubang atau celah, serta tinggi tubuh anak yang lebih pendek dibanding orang dewasa membuatnya kurang begitu terlihat (misalnya oleh pengendara di jalan).

Mila memberikan beberapa tips mencegah cedera pada anak usia dini. “Mengawasi anak saat bermain di luar rumah atau saat berada dekat sumber air, jauhkan anak dari benda-benda tajam, runcing dan korek api, ajari anak untuk selalu mencuci tangan tiap setelah beraktivitas untuk menghindari terjadinya keracunan, hindari bentuk makanan yang besar atau ikan dengan banyak tulang untuk mencegah tersedak, hindari menggunakan alat bantu jalan, serta ajarkan anak nama, alamat, nomor telepon atau meminta bantuan saat tersesat,” terang Mila yang juga ners RSUI.

Foto: abri

Terimakasih sudah membaca & membagikan link WARTA MERDEKA

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Warta Merdeka Indonesia