loading...
Home » » Politeknik Negeri Bali Bantu Pengembangan SDM di Desa Wisata

Politeknik Negeri Bali Bantu Pengembangan SDM di Desa Wisata

Posted by WARTA MERDEKA on 2021-06-13

Desa Wisata Bakas banyak menitikberatkan pengembangan potensi pertanian
Badung/Bali
 (WartaMerdeka) – Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata, Sandiaga Salahuddin Uno melakukan audiensi dengan sejumlah jajaran Politeknik Negeri Bali (PNB), membahas kerja sama dalam mengembangkan desa wisata, salah satunya Desa Wisata Bakas, Kecamatan Banjar Angkan, Klungkung, Bali (11/6).

“Saya mengharapkan kerja sama ini dimulai dengan pilot project dulu di Desa Wisata Bakas. Karena desa ini termasuk ke dalam desa rintisan, jadi kita ingin liat perkembangannya menuju desa wisata mandiri,” kata Menparekraf, di Kantor Politeknik Pariwisata Bali. Bakas merupakan desa wisata rintisan yang akan dikembangkan sebagaii desa wisata mandiri, ramah lingkungan dan mengedepankan kearifan lokal.

Hal ini sesuai dengan RPJMN 2020-2021 Kemenparekraf/Baparekraf yang menargetkan pada 2024 akan ada 244 desa wisata yang telah tersertifikasi sebagai desa wisata mandiri. Konsep Desa Wisata Bakas yaitu agriculture tourism village, karena banyak masyarakatnya dengan mata pencaharian sebagai petani.

Atraksi wisata yang dihadirkan seperti agriculture tracking, rafting & elephant tour, home stay, kuliner, kelas memasak, dan aktivitas membuat dan bermain layang-layang. Namun, dari sisi SDM di Desa Wisata Bakas masih perlu ditingkatkan lagi.

PNB sebelumnya telah mendukung pengembangan desa tersebut, seperti menghadirkan mahasiswa teknik mesin yang berkaitan dengan teknologi cepat guna guna mengelola sampah dan teknik sipil  membantu membut tracking. Nantinya, Kemenparekraf juga akan hadir membantu meningkatkan SDM di Desa Wisata Bakas.  

Peran SDM pariwisata menjadi perhatian dari Kemenparekraf
Dalam kesempatan itu, Deputi Bidang Sumber Daya Kelembagaan Kemenparekraf/Baparekraf Wisnu Bawa Tarunajaya, mengusulan program pelatihan dan pendampingan berbasis kompetensi dan okupansi. Seperti diketahui, seperti di Kemendikbudristek ada  pola multi entry-multi exit (MEME) dan Permen RPL (Recognition of Prior Learning) atau Rekognisi Pembelajaran Lampau.

“Dua hal ini ingin kita gabungkan. Jadi, MEME ini kita berikan kepada masyarakat di desa untuk diberikan pelatihan. Jika waktu dan anggarannya terbatas, maka bisa diambil pelatihan 3 unit saja, lalu kita berikan sertifikasinya. Dan nanti berikutnya bisa diambil unit pelatihan yang belum dilakukan. Sehingga, pola MEME ini adalah kumpulan sertifikasi yang menjadi satu okupansi. Dan diakhirnya bisa mendapatkan pendidikan yang formal. Jadi mereka memiliki kesempatan D1, D2, D3, hingga S1,” jelas Wisnu (dh/ag).

Terimakasih sudah membaca & membagikan link WARTA MERDEKA

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Warta Merdeka Indonesia