loading...
Home » » Program Citarum Harum adalah Proyek Kemanusiaan

Program Citarum Harum adalah Proyek Kemanusiaan

Posted by WARTA MERDEKA on 2021-09-10

Menko Luhut kunjungi Pusat Komando yang bisa memantau situasi di Daerah Aliran Sungai Citarum
Bandung/Jabar (WartaMerdeka) – "Program ini sudah berjalan dengan maksimal, saya ingin apresiasi semua pihak yang telah bahu membahu menjadikan Citarum Harum ini berhasil," kata Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (kemenko Marves) Luhut B. Panjaitan saat meninjau TPA (Tempat Pembuangan Akhir/TPA) Cicabe, sebagai tempat pengolahan sampah terpadu (7/9).

Pemerintah telah melaksanakan program percepatan pengendalian pencemaran dan kerusakan Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum. Saat berkujung, Luhut didampingi Gubernur Jawa Barat, Panglima TNI, Bupati Bandung, Ketua DPRD Jabar, Kajati Jabar dan perwakilan Kementerian Lembaga.

TPA ini rencananya dibangun menggunakan teknologi RDF (TPST – RDF), melalui skema Improvement Solid Waste Management Project (ISWMP). Pada lokasi yang sama juga telah beroperasi Pusat Daur Ulang (PDU) sampah yang telah beroperasi sejak tahun 2019, dengan fokus kegiatan untuk melakukan pemilahan, pengumpulan, dan pengolahan sampah anorganik.

"Dibangun dengan konsep sarana persampahan terintegrasi, TPST RDF ini akan mengolah sampah 20 sampai 30 ton per hari, yang akan menjadi bahan bakar RDF dengan total sekitar 6 ton/hari," jelas Direktur Jenderal Cipta Karya Diana Kusumastuti. Menurutnya, sampah ini akan dimanfaatkan oleh Indonesia Power untuk kebutuhan co-firing. TPST ini ditargetkan mulai dibangun pada tahun 2022.

Pembangunan Sarana Persampahan ini (TPST dan PDU) merupakan bagian dari program pengendalian DAS Citarum melalui operasi pencegahan, penanggulangan pencemaran dan kerusakan serta pemulihan DAS Citarum. "Salah satu pencemar DAS Citarum bersumber dari sampah rumah tangga yang dibuang ke badan air," ungkap Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil. Dengan penambahan sarana persampahan, diharapkan keberadaan TPST dan PDU dapat menekan angka timbulan sampah yang tidak tertangani, menjadi sampah terolah dengan cara berwawasan lingkungan, sehingga dapat ditarik manfaatnya.

Sebagai sungai terpanjang kedua di Bandung, Bantaran Sungai Cidurian di kawasan Jajaway Antapani hingga beberapa bulan yang lalu adalah kawasan padat penduduk dan padat bangunan tanpa ijin, "Pada akhirnya, dengan pendekatan persuasif terhadap masyarakat dapat dilakukan kegiatan pembongkaran dan pembersihan area bantaran sungai," ungkap Kolonel Eppy, Komandan Sektor 22.
DAS Citarum menjadi percontohan untuk merawat sungai yang ramah lingkungan
Wakil Walikota Bandung Yana Mulyana menjelaskan rencana pemanfaatan area bantaran Sungai Cidurian sebagai taman umum dimana masyarakat dapat memanfaatkannya sebagai sarana rekreasi luar ruangan.

Luhut dan rombongan juga melihat kantor command center Satgas Citarum Harum yang terletak di daerah Dago Bandung. Dari kantor ini bisa memantau secara langsung kondisi Sungai Citarum dan anak-anak sungainya. "Command Center PPK DAS Citarum didukung berbagai aplikasi seperti one map policy yang menyediakan data informasi berbasis kewilayahan/spasial, Onlimo yang menyediakan data informasi berdasarkan alat pantau kualitas air Citarum, perangkat SPARING untuk mendeteksi saluran buang limbah cair industri serta CCTV dengan analitik video untuk mendeteksi ketinggian air dan timbunan sampah sungai," papar Ketua Harian Satgas Citarum Harum, Mayjen TNI (Purn) Dedi Kusnadi Thamim (ma).

Terimakasih sudah membaca & membagikan link WARTA MERDEKA

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Warta Merdeka Indonesia