-->

Notification

×

Indeks Berita

Pendorong Inovasi Konfigurasi Bakau Gorontalo Utara

2021-12-29 | 08.25 WIB Last Updated 2021-12-29T01:30:49Z
Masyarakat setempat sangat antusias merawat Mangrove
Gorontalo
 (WartaMerdeka) – Beberapa hari terakhir pada Desember 2021, ombak tinggi menerpa perairan Gorontalo Utara. Cuaca bisa dikatakan memang sedang mengganas, rutin dalam setiap penghujung tahun. Maka, rencana bertandang ke Pulau Mohinggito, Gorontalo Utara, salah satu lokasi Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) Mangrove di Sulawesi ini, terpaksa dibatalkan. Demi keselamatan sebagai prioritas utama.

Bagian terluar Pulau Mohinggito tersebut, langsung berhadapan dengan laut lepas, merupakan satu dari dua lokasi PEN Mangrove di Provinsi Gorontalo. Aksi ini merupakan kerjasama antara Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) serta Direktorat Jenderal Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Rehabilitasi Hutan (Ditjen BPDASRH) dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) untuk periode 2021.

Sebagai informasi, PEN Mangrove berbentuk pemberian insentif untuk penyediaan bibit bakau oleh masyarakat. Ditopang dana harian untuk anggota kelompok saat melakukan kerja penanaman bakau dalam kurun waktu tertentu. Di tingkat tapak, Badan Pengelolaan DAS dan Hutan Lindung (BPDASHL) Bone Bolango, dikomandoi Heru Permana, mengawal implementasi, bersama Farid Koordinator Lapangan dari BRGM, guna memastikan pekerjaan penanaman berjalan sesuai rencana.

Karena keterbatasan waktu kunjungan ke Gorontalo, maka diputuskan melakukan diskusi virtual dengan Kelompok Masyarakat (Pokmas) Laut Lestari melalui zoom, pada 25 Desember 2021. Peserta zoom adalah beberapa anggota kelompok Laut Lestari, perempuan dan laki-laki, yang kebetulan sedang di lokasi penanaman bakau jenis rizhophora. Tepatnya di Kecamatan Ponelo Kepulauan, Kabupaten Gorontalo Utara, Provinsi Gorontalo.

Mereka adalah Sandra, Kurniadi dan Halim. Rata-rata masih berusia muda. Turut hadir pula Gilang yang jadi pengelola ekowisata mangrove di pesisir pulau ini. Juga ada seorang pendamping perempuan bernama Salma Kaburito.

Dari diskusi diketahui, Pokmas Laut Lestari memiliki keunikan tersendiri. Beranggotakan 19 masyarakat desa setempat, 9 di antaranya perempuan. Kelompok penerima PEN Mangrove 2021 ini menanam bakau dengan sistem konfigurasi. Ini hal yang mungkin jarang dilakukan pokmas lain yang menjadi pelaksana PEN Mangrove 2021. Konfigurasi maksudnya adalah bibit bakau ditanam sesuai dengan rancangan pola atau bentuk tertentu. Rumpun bakau yang tumbuh, diharapkan kelak tumbuh subur dan mampu menjadi simbol atau tulisan penanda bagi lokasi setempat.

Konfigurasi tanam bakau masyarakat di Pulau Mohinggito dirancang membentuk tulisan MOHINGGITO serta pola berbentuk 'love' (hati). Bentuk 'love' ini satu berukuran besar, dan dua lainnya kecil. Tulisan Mohinggito membentang sepanjang 300 meter dan lebar 50 meter. Sementara untuk bentuk 'love' besar memerlukan luasan 30 meter x 30 meter. Sisa rumpun lainnya dibuat berbentuk segiempat. Total bibit yang ditanam 33 ribu. Itulah penjelasan Salma, sang pendamping kelompok, yang menjelaskan dengan sketsa tertulis tentang pola konfigurasi yang ditanami bibit bakau oleh Pokmas Laut Lestari.

Kegiatan pemulihan ekonomi nasional Mangrove melibatkan masyarakat lokal
Salma nampaknya memang seorang pendamping yang berpengalaman. Perempuan gesit berusia 32 tahun ini ditunjuk langsung oleh BPDASHL Bone Bolango sebagai pendamping bagi Pokmas Laut Lestari. Ia dari lembaga swadaya masyarakat (LSM) Gorontalo Nature Indonesia/GNI. LSM ini cukup berpengalaman mendampingi berbagai pokmas berbasis pesisir di Gorontalo. Kini, Salma dan LSM-nya juga mendampingi Pokmas Laut Lestari, yang menjadi salah satu penerima PEN Mangrove di Gorontalo.

Dengan tekun, Salma menjadi sahabat bagi masyarakat untuk membangun cinta pada ekosistem mangrove di Gorontalo Utara. Tidak tanggung-tanggung, perempuan asli Gorontalo tersebut turut berjibaku menyukseskan PEN Mangrove di Pulau Mohinggito. Kegiatan mencari bibit, memasang ajir (pelindung tanaman muda) dan menyulam bibit rizhopora dilakukan Salma dan anggota pokmas dengan teliti dan sabar.

Tantangan ombak besar yang kerap timbul dan menghantam bibit yang baru ditanam, serta terkadang merusak pagar bibit, tak membuatnya surut semangat  dalam menanam dan memelihara bakau. Bibit bakau yang terhempas ombak segera disulam. Ajir dipasang kembali. Harapan Pokmas Laut Lestari diketuai Yamir Tuli, semua bibit bakau bisa tumbuh baik. Kelak, bakau yang rimbun subur diharap bisa tumbuh menyatu dengan usaha rintisan ekowisata edukatif oleh seorang pengusaha setempat.

Aku masih terngiang ucapan Salma melalui zoom, betapa terharunya dia menyaksikan tunasnya berhasil tumbuh dari setiap bibit bakau yang ditanam. Suara Salma sempat tercekat menahan rasa haru menceritakan apa yang dirasakannya. Bakau nampaknya memang sudah menjadi cinta Salma. Semoga juga bisa menjadi cinta dari Pokmas Laut Lestari (Swary Utami Dewi, Pegiat Sosial dan Lingkungan).

Foto: istimewa

×
Berita Terbaru Update