-->

Notification

×

Indeks Berita

Iklan

Satrio Arismunandar: Lawan Perilaku Korupsi Dengan Strategi Budaya

2021-12-16 | 08.55 WIB Last Updated 2021-12-16T01:56:25Z
Karya disertasi pada 2014 dari Universitas Indonesia  ini yang akhirnya jadi buku
Jakarta (WartaMerdeka) – Perilaku korupsi di Indonesia bukan hanya kejahatan luar biasa, tetapi bisa dibilang sudah membudaya. Maka cara mengatasinya tidak cukup dengan sekadar pendekatan hukum, seperti memperberat hukuman. Tetapi juga harus menggunakan strategi budaya.

Ini diutarakan Dr. Satrio Arismunandar, penulis buku “Perilaku Korupsi Elite Politik di Indonesia,” di Jakarta (16/12). Karyanya diluncurkan sebagai buku perdana Divisi Print On Demand, Perkumpulan Penulis Indonesia, SATUPENA.

Di momen sama, juga diluncurkan “100 Buku yang Mewarnai Indonesia Sejak Era Kolonial,” hasil kerja sama SATUPENA dan Balai Pustaka. Untuk serial pertama, ada 6 judul buku. Acara ini juga dihadiri Ketua Umum SATUPENA Denny JA dan Dirut Balai Pustaka Achmad Fachrodji.

Menurut Satrio, strategi kebudayaan berorientasi ke masa depan. Yakni, bagaimana manusia bisa memanfaatkan budaya sebagai sarana atau “masterplan,” untuk membentuk masa depan yang lebih baik. Masa depan tanpa korupsi.

Untuk tujuan itu, ada dua konsep budaya yang dapat digunakan, yaitu budaya malu (shame culture) dan budaya kebersalahan (guilt culture). Budaya ini terdapat di semua bangsa di dunia. “Namun di negeri-negeri Asia seperti China, Jepang, Korea, yang lebih menonjol biasanya adalah budaya malu,” ujar Satrio.

Dr Satrio Arismunandar 
Para elite politik di Indonesia harus memiliki tanggung jawab sosial atas semua perilakunya. Terkait perilaku korupsi elite politik, Satrio menyatakan, budaya malu dan budaya kebersalahan bisa dijadikan indikator, untuk mengukur tanggung jawab sosial mereka. Satrio menyebut, bukunya sebagai hasil penelitian dari disertasinya di Program S3 Ilmu Filsafat Universitas Indonesia pada 2014 (lw).

Iklan

×
Berita Terbaru Update