-->

Notification

×

Indeks Berita

Kedaulatan Udara RI Dibahas Dalam Obrolan Satupena

2022-02-03 | 08.00 WIB Last Updated 2022-02-03T01:00:16Z
Jakarta (WartaMerdeka) – Perkumpulan Penulis Indonesia, SATUPENA, akan mengadakan diskusi tentang penyesuaian batas udara atau kesepakatan Flight Information Region (FIR) antara Indonesia dan Singapura. Kesepakatan ini memicu berbagai reaksi di media, misalnya tentang aspek kedaulatan dan siapa yang diuntungkan. 

Webinar dari Obrolan Hati Pena #24 akan diadakan di Jakarta pada Kamis (3/2) pukul 19.00-21.00 WIB, dengan narasumber adalah Chappy Hakim, pendiri dan Ketua Pusat Studi Air Power Indonesia serta mantan Kepala Staf Angkatan Udara periode 2002-2005.

Acara diskusi bisa diikuti di link zoom: https://s.id/hatipena24. Juga bisa melalui livestreaming: Youtube Channel, Hati Pena TV. Selain itu, lewat Facebook Channel: Perkumpulan Penulis Indonesia – Satupena dan Disediakan sertifikat bagi yang membutuhkan.

Masalah kedaulatan udara kian menarik, karena baru saja Presiden Jokowi baru mendeklarasikan, sekarang FIR Jakarta telah mencakup seluruh wilayah udara kedaulatan Republik Indonesia, terutama di wilayah perairan Natuna dan Riau. 

Detilnya, ternyata disepakati pula bahwa sebagian wilayah itu, pada ketinggian zero level sampai 37.000 feet didelegasikan kembali kepada otoritas penerbangan Singapura. Wilayah zero level sampai 37.000 feet adalah kawasan lalu lintas udara yang padat, dan merupakan “area with a lot of benefits”.

Salah satu argumen yang melatari kesepakatan itu adalah kemampuan Indonesia dalam tatakelola Air Traffic Control (ATC). Hasil audit ICAO (Organisasi Penerbangan Sipil Internasional) terakhir menjelaskan, kemampuan Indonesia ada pada level “above global average.”

Namun, ini masih kalah dengan standar Traffic Control Singapura. Singapura telah menjalankan sistem ATC yang bertumpu kepada ATFM,yaitu “Air Traffic Flow Management System” yang berbasis satelit. Dengan ATFM ini, akurasi pengawasan lalulintas udara mereka sudah berada dalam hitungan detik. Sementara ATC yang dikelola Indonesia, tingkat akurasinya mungkin masih dalam hitungan menit (lw). 


×
Berita Terbaru Update