-->

Notification

×

Indeks Berita

Say Hello Sehat, Say Goodbye Pikun

2022-02-16 | 13.17 WIB Last Updated 2022-02-16T06:18:56Z
Pola makan sehat ikut pengaruhi gejala pikun
Depok
 (WartaMerdeka) – Semarakkan Hut ke tiga tahun Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI), digelar seminar bertajuk Say Hello to Sehat, Say Goodbye to Pikun”. Berkurangnya daya ingat atau memori, atau yang lebih umum disebut pikun, kerap dialami oleh para orang lanjut usia. Namun ternyata tak menutup kemungkinan, pikun juga bisa dialami orang usia relatif muda.

Dalam Jurnal JAMA Neurology (2021), terdapat penelitian melaporkan meta-analisis dari 74 penelitian yang mencakup 2,8 juta orang dewasa berusia 30 hingga 64 tahun. Secara keseluruhan, mereka memperkirakan 119 per 100.000 orang mengalami demensia di usia muda.

Selain itu, ada penelitian Alzheimer’s Association International Conference (2020) yang menemukan, ternyata faktor risiko demensia dapat dideteksi sejak usia muda. Salah satunya terkait dengan gaya hidup berimplikasi terhadap kondisi kesehatan tubuh. Ketua Asosiasi Ilmu Pengetahuan Alzheimer, Maria C. Carillo mengatakan, dengan identifikasi faktor risiko demensia sejak awal dapat membantu menurunkan angka kasus baru bagi penyakit alzheimer, demensia dan gangguan ingatan lainnya. 

Mengonsumsi makanan bergizi dan seimbang menjadi salah satu gaya hidup sangat penting  diterapkan saat ini. Karena memiliki risiko lebih rendah untuk mengalami obesitas, penyakit jantung, diabetes, stroke, kanker, dan penyakit lainnya. Sebuah studi observasional juga menunjukkan, mengonsumsi makanan sehat dapat mengurangi risiko penyakit Alzheimer sebesar 53% serta dapat membantu memperlambat penurunan kognitif dan meningkatkan memori verbal.

Terkait dengan diet yang sehat, akhir-akhir ini kita sering mendengar istilah “Mindfulness Eating”. Konsep ini dipercaya dapat membantu seseorang dalam mengontrol jumlah serta jenis makanan dan minuman yang dikonsumsi. Tidak hanya bermanfaat bagi kesehatan fisik, mindfulness eating juga dapat membantu menjaga kesehatan mental karena melibatkan emosi dan perasaan.

Salah satu pembicara seminar, dr. Pukovisa Prawirohardjo, Sp.S(K), PhD yakni Dokter Spesialis Saraf RSUI menjelaskan terkait fungsi otak manusia yang terbagi tiga yaitu: berpikir dan fungsi eksekutif, berbahasa, dan memori. Kata Pukovisa, perbedaan antara lupa dan pikun, dimana lupa merupakan gangguan mengingat, dengan informasi terganggu untuk diingat dapat bersifat segera, jangka pendek, dan panjang. Sedangkan pikun atau demensia merupakan sindrom penurunan fungsi kognitif meliputi: memori, pemikiran, orientasi, pemahaman, perhitungan, kapasitas belajar, bahasa, dan penilaian yang telah mengganggu aktivitas dan pekerjaan secara bermakna.

“Syarat pikun tidak harus tua. Anak muda juga bisa pikun, selama memiliki otak”, ujar Pukovisa. Karena, tambahnya, arti pikun atau demensia tak hanya dapat menyerang orang tua atau lansia, namun usia anak muda pun bisa juga terserang pikun atau dimensia.

Penyebab pikun pada usia muda dapat disebabkan oleh beberapa hal, yaitu; konsumsi zat yang dapat meracuni otak, seperti NAPZA, minuman keras (alkohol), ganja, rokok dan potensi penyalahgunaan obat. Selain itu, faktor risiko vaskular dan penyakit yang bersifat neurotoksik bisa memicu usia muda terkena pikun atau dimensia.

Menurut Pukovisa, “karena otak manusia itu mengambil 20% oksigen dari seluruh oksigen yang ada pada peredaran darah, maka gangguan yang terjadi pada pembuluh darah terutama yang mengarah ke otak, dapat menyebabkan gangguan pada otak. Sehingga menimbulkan penurunan fungsi otak”.

Pukovisa menyebut, “pengalaman seseorang dapat merusak otak”, seperti suasana traumatis, hubungan kurang harmonis dengan orang tua dan kerabat terjadi bertahun-tahun, kebiasaan buruk, dan adiksi perilaku seperti berjudi, main games berlebihan, pornografi. Gejala yang akan timbul pada seseorang yang mengalami pikun atau demensia yaitu: labil, linglung, lupa, lemot, logika berpikir menurun.

Pukovisa menyampaikan tentang aplikasi E-memory screening (EMS) yang dapat mendeteksi dini demensia. Aplikasi ini dapat diunduh dan diinstal melalui handphone dengan fitur informasi terkait demensia, pemeriksaan AD8-INA, dan daftar rumah sakit, dokter spesialis neurologis, memiliki tujuan untuk mempermudah akses masyarakat mendapatkan edukasi dan informasi terkait demensia dan mengetahui deteksi dini penyakit demensia.

Pembicara lain, dr. Wahyu Ika Wardhani, M.Biomed, M.Gizi, Sp.GK(K) dokter spesialis gizi klinik di RSUI, memaparkan sebuah grafik yang menunjukkan, selama dua dekade terakhir ini, angka obesitas di Indonesia meningkat dua kali lipat. Obesitas menjadi salah satu faktor yang berpengaruh terhadap tingkat keparahan gejala COVID-19.

Oleh karena itu, mengonsumsi makanan seimbang sesuai kebutuhan sangat penting untuk dilakukan demi mencegah obesitas. Asupan dikatakan seimbang jika energi yang masuk sama jumlahnya dengan yang dikeluarkan. Penting mengetahui berapa kebutuhan energi kita masing-masing, yang salah satunya dapat diketahui dengan menghitung berat badan ideal.

RSUI sediakan konsultasi juga terkait pola hidup terkait kepikunan
Rumus perhitungan hitung berat badan ideal maupun kebutuhan energy, disarankan Ika agar masyarakat tak ragu berkonsultasi dengan dokter. Ika menawarkan konsep mindfulness eating, yaitu suatu kesadaran penuh dimana kita memperhatikan sepenuhnya apa saja yang dimakan, berapa banyak, emosi kita saat makan, isyarat fisik saat makan, dan sebagainya.

Untuk lebih jelasnya, dokter Ika memberikan beberapa contoh yang mudah dipahami terkait konsep ini dengan membandingkan mindfulness eating dan mindless eating. Konsep ini misalnya mengajarkan, baru makan saat lapar dan berhenti bila kenyang. Mereka memiliki waktu makan yang telah ditentukan serta memilih makanan bernutrisi dan sehat.

Ika membagi beberapa tips mindfulness eating, yaitu 1. nikmati dan syukuri aneka ragam makanan. 2. makan tanpa gangguan (bukan disambil dengan kegiatan lain). 3. Ketahui isyarat fisik, kapan tubuh lapar dan kenyang (bedakan rasa lapar sebenarnya atau stres ingin makan). 4. makanlah secara perlahan. 5. belajar menerima keadaan dan tak mengatasi rasa bersalah dan kecemasan dengan makanan.

Beberapa waktu ini juga ditemukan pikun yang terjadi setelah seseorang menderita covid-19 (post covid-19). Hal itu terjadi karena virus tersebut menyerang otak pasien tersebut. Menurut dokter ovisa juga menyarankan, kita tidak boleh abai terkait hal ini, dan dianjurkan untuk konsultasi ke dokter bila menemukan gejala-gejala pikun yang telah disebutkan di ataa (ma).

Foto: abri/dok.rsui

×
Berita Terbaru Update