-->

Notification

×

Indeks Berita

Model Masyarakat Dunia “Beragama” Beragam

2022-04-29 | 18.44 WIB Last Updated 2022-04-29T11:45:52Z
Setiap manusia di belahan dunia manapun memiiki cara tersendiri dalam beribadah
Jakarta (WartaMerdeka) – Ada dua pandangan tentang Tuhan, yakni Tuhan yang Maha Kasih dan Tuhan yang Menghukum. Orang yang meyakini Tuhan Maha Pengasih, apapun agama formalnya, ternyata lebih cenderung berperilaku baik (tidak menipu) dibandingkan mereka yang lebih meyakini Tuhan Maha Penghukum.

Hal itu diungkapkan Denny JA, Ketua Umum Perkumpulan Penulis Indonesia, SATUPENA, dalam Webinar di Jakarta (28/4), bertopik “Ramadan dan Cara Kita Beragama. Denny mengutip hasil penelitian di “The International Journal for the Psychology of Religion” (Vol. 21, 2011, Issue 2), yang  melihat pengaruh konsep tentang Tuhan terhadap moralitas. Karena moralitas itu terlalu luas, maka dikonkretkan ke perilaku menipu (cheating).

Mengutip penelitian Pew Research Center atau PRC (2019), Denny juga mengatakan, ada kecenderungan semakin  makmur suatu negara, kian banyak warganya berpendapat, kepercayaan terhadap Tuhan tidak penting untuk bisa hidup bermoral dan berkelakuan baik.

PRC melakukan survei di 34 negara, dengan 38.426 orang yang disurvei. Ada variabel pendidikan. Semakin terdidik seseorang, dia cenderung semakin tidak menganggap penting kepercayaan pada Tuhan, sebagai hal yang mempengaruhi hidup bermoral dan perilaku  baik.

Denny JA
Selain itu juga ada variabel ideologi. “Semakin liberal seseorang, maka dia semakin tidak menganggap perlu kepercayaan kepada Tuhan sebagai hal yang berpengaruh pada hidup yang bermoral dan perilaku yang baik,” sambung Denny.

Menurut data PRC, di negara seperti Kenya, Nigeria dan Indonesia, 93-95 persen warganya berpendapat, kepercayaan pada Tuhan itu penting bagi hidup bermoral dan berkelakuan baik. Tetapi di Korea Selatan, angkanya cuma 53 persen. Di Swedia bahkan lebih rendah lagi, cuma 22 persen (lw).

Foto: Istimewa

×
Berita Terbaru Update