-->

Notification

×

Indeks Berita

Iklan

Ekowisata Miliki Andil Dalam Program Dekarbonisasi

2022-07-07 | 21.42 WIB Last Updated 2022-07-07T14:44:15Z
Kekayaan alam Indonesia harus dipelihara dengan tepat dan berkelanjutan
Bali (WartaMerdeka) – “Dalam membangun sektor pariwisata yang resilience, kita memang perlu menerapkan prinsip-prinsip berkelanjutan. Semoga kehadiran kita hari ini bisa memberikan inspirasi baru sehingga kita bisa menghadirkan inovasi untuk akhirnya kita membangun ekosistem pariwisata yang berkelanjutan yang bisa bermanfaat dari generasi ke generasi," kata Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Wamenparekraf Angela Tanoesoedibjo.

Dikemukakan oleh Wamenparekraf, Indonesia dengan kekayaan sumber daya alam dan budaya yang besar memiliki potensi ekowisata untuk dikembangkan sekaligus menjadi unique selling point parekraf, sehingga dapat meningkatkan dampak positif terhadap keberlanjutan lingkungan dan masyarakat.

Hal ini dipaparkan Angela saat menyampaikan welcoming remarks dalam rangkaian peluncuran program "Towards Climate Positive Tourism Through Decarbonization And Eco-Tourism" (7/7) di Plataran Menjangan, Bali.

"Hal inilah yang saya kira perlu kita perhatikan bersama dalam kita membangun ecotourism. Indonesia memiliki kekayaan yang luar biasa yang bisa kita kemas menjadi ekowisata, ini akan menjadi salah satu unique selling point dari Indonesia untuk dunia," tambahnya.

 Wamenparekraf Angela (tengah) turut menanam mangrove di Bali
Sebagai langkah konkret dalam mengembangkan dan soalisasi ekowisata, khususnya mengajak wisatawan turut andil dalam kegiatan wisata yang berkualitas dan berkelanjutan, Kemenparekraf menghadirkan program "Towards Climate Positive Tourism Through Decarbonization And Eco-Tourism" yang diluncurkan secara resmi oleh Menparekraf Sandiaga Uno di hari yang sama.

Program tersebut mencakup tiga hal utama, yakni peluncuran platform yang akan digunakan untuk melakukan carbon offset; peluncuran lima kawasan yang ditunjuk sebagai pilot project; dan deklarasi Kemenparekraf dalam menurunkan karbon emisi di sektor pariwisata.

"Kenapa kemenparekraf sangat mendukung carbon footprint calculator dan offsetting ini, bahkan dalam beberapa forum internasional kita sudah meng-introduce ini, sudah memperkenalkan inisiasi ini kepada dunia, karena berdasarkan riset 1/5 dari emisi karbon global memang disebabkan oleh sektor transportasi dimana seperti kita ketahui sektor pariwisata sangat mengandalkan sektor transportasi," bahas Angela.

Dalam program ini Kemenparekraf menjalin kerja sama dengan berbagai pihak. Diantaranya Jejak.in, Indecon, WiseSteps, dan sejumlah kementerian/lembaga seperti Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Keuangan, dan Kementerian Koordinator Kementerian dan Investasi, dan berbagai pemerintah daerah.

Bersama Jejak.in misalnya, Kemenparekraf akan bekerja sama dalam pemanfaatan aplikasi yang memungkinkan wisatawan menghitung jumlah karbon yang mereka hasilkan selama perjalanan di Indonesia.

Hasil dari jejak karbon yang dikeluarkan selama berlibur di Indonesia, akan dikonversi menjadi nilai uang, yang selanjutnya memungkinkan wisatawan menyalurkan nilai tersebut untuk mendukung program-program pilihan seperti penanaman pohon, renewable energy, atau pengembangan ekowisata.

Sementara dengan WiseSteps, Kemenparekraf akan berkolaborasi dalam menyusun peta jalan pengembangan ekowisata di Indonesia. Termasuk mengembangkan tren wisata voluntary offsetting.

DengaN Indecon (Indonesia Ecotourism Network), untuk sosialisasi ekowisata. Launching ini jadi langkah awal dari kolaborasi berbagai pihak, baik pemerintah nasional, pemerintah daerah, komunitas, NGO, media, serta akademisi untuk bersama-sama gaungkan komitmen nasional, yang ajuga menjadi bagian dari perayaan World Tourism Day di Bali pada September 2022 (ma).

Iklan

×
Berita Terbaru Update