-->

Notification

×

Indeks Berita

Iklan

Bumi Papua Lahirkan Banyak Kritik Sosial Dalam Puisi

2022-09-02 | 07.11 WIB Last Updated 2022-09-02T00:12:53Z
Tingkat Pendidikan di Papua belum dirasakan merata
Jakarta (WartaMerdeka) – Papua adalah lahan yang subur bagi tumbuhnya puisi sebagai kritik sosial. Banyak isu yang bisa diangkat, seperti isu keadilan, kemiskinan, kekerasan, dan nasionalisme. Literasi yang bisa tumbuh di sana adalah literasi yang berbau kritik sosial.

Hal itu diungkapkan Denny JA, Ketua Umum Perkumpulan Penulis Indonesia, SATUPENA, dalam Webinar di Jakarta (1/9). Diskusi itu membahas tentang kiprah orang muda dalam memperkuat literasi dasar di Papua Barat. Sebagai narasumber adalah Lamek Dowansiba, aktivis literasi dan pendiri Komunitas Suka Membaca.

Denny JA menyatakan, banyak isu di Papua yang dapat lebih menggugah jika disampaikan dalam puisi. Sebagai contoh, Papua merupakan provinsi dengan angka kemiskinan tertinggi secara nasional.

Denny menambahkan, Papua memiliki angka melek huruf terendah dengan skor 78,1 persen (data BPS), dibandingkan provinsi lainnya yang sudah mencapai 90 persen ke atas. “Ini sendiri sudah suatu kenyataan yang dramatik. Melalui puisi, kritik bisa lebih menyentuh,” ujarnya.

Menurut Denny, kisah kekerasan, pergolakan, dan perubahan-perubahan di Papua bisa direkam dalam puisi, dan orang bisa mengekspresikannya secara menyentuh. Maka, selaku Ketua Umum SATUPENA, Denny mengapresiasi terbitnya buku “Antologi Puisi Satupena Provinsi Papua.”

Di buku antologi itu terdapat 100 puisi. Ada puisi berjudul “Aku Ingin” karya A. Supriyatno. Denny menganggap puisi Supriyatno ini sangat bagus dalam mengekspresikan berbagai problem di Papua. Maka Denny pun membacakan puisi “Aku Ingin” itu di webinar.

Dalam webinar, Denny juga mengungkap contoh masalah yang menjadi beban masyarakat di Papua. Salah satunya adalah konflik antara masyarakat suku Amungme dengan perusahaan pertambangan Freeport.

Bagi suku Amungme, gunung adalah suci. Mereka memraktikkan pertanian berpindah, melengkapi mata pencaharian mereka dengan berburu dan meramu. Amungme sangat terikat dengan tanah leluhur mereka dan menjadikan pegunungan di sekitarnya adalah tempat yang disucikan.

Gunung dimaksud adalah gunung Nemangkawi. “Dari sinilah konflik bermula karena bagi Freeport McMoran, Gunung Nemangkawi adalah bisnis semata karena di dalamnya terdapat emas,” jelas Denny.

Denny JA
Freeport berdiri pada 1912. Perusahaan emas terbesar di dunia dengan teknologi tertinggi ini revenunya pada 2021 sekitar Rp 300 triliun. Freeport sudah melirik Papua sejak 1959, 4 tahun sebelum Papua sepenuhnya diserahkan ke Indonesia pada 1 Mei 1963.

Ini kemudian menjadi sengketa tanah yang tak berkesudahan, disebabkan mengenai hak tanah adat, antara masyarakat Amungme terhadap perusahaan Freeport Indonesia di Timika. Sepanjang 2017 saja, terjadi 27 kasus penembakan di areal Freeport (dh).

Foto: Istimewa

Iklan

×
Berita Terbaru Update