-->

Notification

×

Indeks Berita

Iklan

Banda: Asal Jalur Rempah Dunia Yang Terlupakan !!!!

2022-10-18 | 17.04 WIB Last Updated 2022-10-18T11:54:34Z

Jakarta (WartaMerdeka) – Nusantara adalah gugusan kepulauan terbesar yang telah lama menjadi incaran seluruh dunia karena kekayaan dan keindahan alamnya. Salah satunya adalah Pulau Banda, yang menjadi tempat penghasil rempah-rempah yang paling dicari bangsa Eropa.

Banda merupakan nama sebuah pulau di Kepulauan Banda, yang terletak di wilayah Provinsi Maluku. Selain Pulau Banda, di kepulauan tersebut juga ada Pulau Lontar, Pulau Gunungapi, Pulau Banda Besar, Pulau Banda Neira, Pulau Hatta, Pulau Ay, Pulau Rhun, dan Pulau Pisang. 

Sebelum Bangsa Eropa masuk ke Banda, para pedagang-pedagang Arab dan Cina terlebih dahulu mengetahui keberadaan rempah-rempah ini. Para pedagang Cina membawa rempah-rempah serta menyembunyikannya di balik sutra. Pedagang Arab membawa rempah-rempah serta menyembunyikan di balik berita bohong tentang manusia kanibal pemburu kepala.

Kabar daerah penghasil Pala tersebar sampai seluruh penjuru negeri dan bangsa Barat, mulai berdatangan, dan berhasil menguasai perdagangan Pala. Dari tinta sejarah, Banda menjadi saksi bisu tempat perbudakan pertama di Nusantara dan pembantaian massal. Namun, di kepulauan inilah lahir miniatur keberagaman budaya Indonesia.

Banda Neira

Rempah-rempah asal Maluku sudah terkenal sebelum abad VII, kata peneliti dari Universitas Harvard, Boston, Amerika Serikat, Bryan Averbuch. "Rempah-rempah, khususnya cengkeh dan pala dari Maluku sudah terkenal di Timur Tengah, jauh sebelum lahirnya Nabi Muhammad SAW. Kita bisa menemukan ini dalam beberapa literatur," katanya.

Sementara itu, Peneliti Sejarah dan Antropologi Maluku, Florence Sahusilawane, mengatakan, rempah-rempah Maluku sudah terkenal sejak zaman Romawi. Cengkeh dan pala asal daerah tersebut dibawa oleh pedagang-pedagang Cina melalui jalan sutra.

Jauh sebelum itu, jika kita belajar sejarah Jalur Rempah, kita akan mengetahui bahwa cengkeh telah digunakan sebagai salah satu bahan, untuk mengawetkan mumi di Mesir Kuno. Sementara pala sudah dikenal oleh masyarakat Yunani dan Romawi sejak tahun 24 SM. 

Catatan-catatan para biarawan Fransiskan –yang disalin dan dikutip oleh van Frassen– bahkan menyebut cengkeh sebagai salah satu bahan utama pengawet mumi para Fir’aun, penguasa Mesir Kuno. Beberapa pakar sejarah dan arkeologi menyatakan bahwa rempah-rempah Maluku bahkan sudah ditemukan artefaknya di Lembah Mesopotomia (wilayah Iraq dan sekitarnya sekarang) pada 3.000 tahun sebelum Masehi. (lihat, antara lain: Brierly, 1994).

Sayangnya, generasi Banda yang multi kultur, saat ini mulai sedikit melupakan Rekam Sejarah "Jalur Rempah" ratusan tahun warisan Leluhurnya, yaitu PALA, CENGKEH dan FULI, yaitu komoditas yang paling berharga daripada emas pada jamannya. (FMawero)

Foto: Istimewa

Iklan

×
Berita Terbaru Update