loading...
Home » » Merawat Kesehatan Mata Anak di Era Adaptasi Normal

Merawat Kesehatan Mata Anak di Era Adaptasi Normal

Posted by WARTA MERDEKA on 2020-08-16

Peran orangtua sangat penting dalam pengawasan anak memakai gadget
Depok (WartaMerdeka) – Tak bisa dipungkiri, ketergantungan anak kepada gadget (handphone/HP, laptop, tablet) begitu tinggi. HP tak lagi hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tapi juga sebagai bagian penting gaya hidup. Terlebih, di era adaptasi normal ini, anak-anak masih harus menjalani pembelajaran di rumah (School from Home), yang banyak beri penekanan belajar secara daring/online lewat HP atau komputer.

Akibatnya, banyak para orangtua yang merasa khawatir terhadap kesehatan mata anak, karena begitu sering dan lamanya durasi anak menatap layar komputer/HP saat belajar online. Bagaimana ya cara kita menyiasati agar mata anak tetap terjaga kesehatannya selama belajar online?
Bertepatan dengan Bulan Vitamin A ini, Rumah Sakit Universitas Indonesia/RSUI kembali menggelar seminar rutin bulanan ke-22 dengan tema, Kiat Menjaga Kesehatan Mata Anak "Mataku Jendela Duniaku” pada Rabu (12/08). Seminar secara virtual ini dimoderatori Ns. Joan Xaveria Mauhale, S.Kep, MKM, Kepala Ruang Rawat Jalan RSUI dan pembicara dr. Anissa Nindhyatriayu Witjaksono, BMedSc (Hons), Sp.M, dokter spesialis mata RSUI.
Dijelaskan di awal seminar, tentang adanya kelainan refraksi. Kelainan refraksi adalah kondisi dimana gambaran benda yang masuk ke dalam mata, tak dapat fokus dengan tepat di retina. Hal ini membuat bayangan benda terlihat buram atau tidak tajam. Kelainan refraksi dibagi menjadi tiga yaitu rabun jauh (miopi), rabun dekat (hiperopia) dan astigmatisma (mata silinder).  
“Kelainan refraksi merupakan kelainan mata terbanyak di masyarakat, tak terkecuali dengan anak-anak. Ada beberapa gejala kelainan refraksi pada anak yang dapat menjadi acuan orang tua yaitu pandangan buram, mengernyitkan dahi saat melihat, mendekatkan mata saat membaca dan prestasi di sekolah menurun. Jika anak-anak mengalami salah satu gejala tersebut tentunya orangtua harus segera mewaspadai,” ujar dr. Anissa.
Menurut dr. Anissa, kelainan refraksi disebabkan faktor genetik dan lingkungan/kebiasaan. Pada faktor lingkungan/kebiasaan dipengaruhi oleh aktivitas luar, jarak baca dan pencahayaan saat membaca. Hasil penelitian menunjukan, anak yang memiliki waktu 40 menit bermain diluar per hari dapat mengurangi resiko progresivitas miopia (rabun jauh).
Di era adaptasi baru, anak-anak masih harus menjalani pembelajaran di rumah (School from Home), melalui gadget (HP atau laptop). Ini sebenarnya tak menjadi masalah, karena gadget (HP/Laptop) dampaknya tidak secara langsung pada mata anak (menjadi minus). Namun jarak penggunaannya yang harus diperhatikan, karena near-work activity mempengaruhi perkembangan miopia, dimana anak-anak memiliki kecenderungan untuk melihat benda, termasuk gadget, dalam jarak terlalu dekat.
“Penggunaan gadget tidak menjadi masalah sepanjang penggunaan tersebut tidak berlangsung lama. Namun jika terlalu lama akibatnya dapat membuat mata cenderung menjadi lelah. Hal ini dikarenakan biasanya anak-anak menatap gadget dalam membuat frekuensi berkedip berkurang. Pada keadaan normal mata manusia normalnya berkedip 15 kali per menit. Dengan cahaya gadget ini, menyebabkan orang hanya berkedip 5-7 kali per menit jadi hal inilah yang membuat mata menjadi lelah.” tambah dr. Anissa.
Ada beberapa solusi bisa dilakukan untuk orang tua ketika anak harus menggunakan gadget terlalu lama di saat pandemi seperti ini yaitu dengan metode 20-20-20, artinya 20 menit melihat gadget (hp atau laptop) dan 20 detik istirahat melihat atap langit-langit atau benda jauh sekitar 6 meter (20 kaki).” dr. Anissa merekomendasikan penggunaan gadget pada anak di masa pandemi hanya untuk keperluaan sekolah dan aktivitas hiburan harus dialihkan dengan aktivitas lain.
Sementara terkait dengan penggunaan dan penyimpanan obat mata yang aman, Sri Wulandah, Apt. S.Farm, M.Farm, apoteker RSUI, menambahkan, jenis-jenis obat mata yang sering ditemukan yaitu obat tetes mata, salep/gel mata, obat oral dan injeksi memiliki efek tersendiri. “Obat tetes mata dan salep mata itu memiliki efek lokal yaitu pada mata, sementara untuk obat oral dan injeksi efek yang sistemik atau seluruh tubuh. Hal ini disesuaikan dengan diagnosis yang ditetapkan oleh dokter,” jelas Wulan.
Masyarakat perlu memperhatikan beberapa kesalahan dalam pemberian obat, salah satunya adalah terkait batas waktu pemakaian obat yang berbeda dengan waktu kadaluarsa. “Waktu kadaluarsa adalah waktu kandungan obat optimal dan stabil untuk digunakan dari waktu produksi (1-2 tahun). Waktu kadaluarsa itu ditentukan oleh pabrik. Sementara batas waktu penggunaan obat itu ditentukan oleh rumah sakit/apotek atau diri sendiri. Misalnya untuk salep mata dan tetes mata minidose (dalam kemasan botol kecil) dapat digunakan kurang dari 1 bulan sejak pertama kali tutup botol dibuka.” tambah Wulan (dh).
Foto: Istimewa

Terimakasih sudah membaca & membagikan link WARTA MERDEKA

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Warta Merdeka Indonesia