Tampilkan postingan dengan label Warta Merdeka. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Warta Merdeka. Tampilkan semua postingan

Cara Memilih Presiden yang Baik dan Benar

Jakarta, (WartaMerdeka) - Presiden yang bakal memimpin Negara Indonesia atau NKRI, seyogyanya kita memilihnya tidak dengan emosi, tetapi dengan hati yang tenang dan pikiran yang logis.

Yang perlu diingat, kita pun bertanggung jawab kepada Founding Father kita dan juga Anak Cucu Kita. Sehingga memilih Presiden tidak serta merta karena kesenangan Kalah Menang, seperti kita ngeFans pada sebuah Persatuan Sepak Bola.

Presiden akan mengatur Bangsa ini selama Lima Tahun ke depan, jadi harus melihatnya dari segala aspek, antara lain : Rekam Jejaknya, Pengalamannya, Prosentase Omongan dengan Prilakunya.

Mari kita telaah satu persatu, biar kita tidak salah pilih.

1. Rekam Jejaknya
Dari sini kita diajak lebih cerdas mencari siapa sesungguhnya Calon Presiden yang akan kita pilih? Apakah dia orang yang benar-benar baik, atau Srigala berbulu Domba?
Bagaimana caranya? Sekarang melalui Dunia Maya kita dengan mudah mendapatkan berita-berita.... tapi khan banyaknya yang hoax, betul. Olehkarenanya hanya baca dan percayai Media-media yang sudah terbukti kebenarannya, bukan Media-media abal-abal, Contohnya seperti Kompas, Suara Pembaharuan (sayangnya sudah tidak ada), Detik, dll, yang keberadaan Media Tersebut jauh sebelum adanya Reformasi 98. Untuk TV ya, TVRI.

Bagaimana dengan Media yang lain? Jadikan sebagai penguat atau pelemah data yang Anda sudah dapatkan dari Media-media yang kredibel tersebut sebelumnya, sehingga Anda tahu, yang mana yang berpihak dan yang mana yang tidak berpihak. Pintarkan diri Anda sendiri.

2. Pengalamannya
Dari pengalaman seseorang dan fakta yang ada, Anda dapat melihatnya, apakah Capres tersebut kapabel untuk dijadikan seorang Pemimpin setingkat Presiden, atau baru layak menjadi Pemimpin setingkat Lingkungan Masyarakat saja.

3. Prosentase Omongan dengan Prilaku
Dari fakta yang Anda dapatkan, apakah orang tersebut (Capres yang bakal Anda pilih), sudah berbuat hal-hal yang positif untuk Bangsa ini yang berdasarkan Pancasila dan UUD'45, apakah sudah menjadi fakta konkrit, atau baru Janji-janji. Kalau baru janji-janji - lupakan Capres seperti ini.

Tidak kalah pentingnya, yang kita juga harus perhatikan adalah Prilaku Pendukungnya.

Prilaku Pendukung
Bagaimana dia mau jadi Presdiden kalau tidak bisa mengatur Pendukungnya menjadi Pendukung yang santun, karena jumlah pendukungnya jauh lebih sedikit dari Rakyat Indonesia yang kelak akan dipimpinnya. Kalau dia sudah tidak bisa mengatur para Pendukungnya, maka jelas dia tidak pantas apalagi cocok untuk jadi Presiden, lupakan Capres yang tidak bisa mengatur Pendukungnya, dengan segala alasannya.

Juga tidak boleh dilupakan. Pendukung yang memakai isu SARA, sudah pasti mereka akan menghancurkan NKRI kedepannya.

Karena kita sepakat dengan Kebhinekaan Bangsa ini, maka Prilakau Pendukung yang menggunakan isu SARA sudah jelas mereka akan menghancurkan NKRI dikemudian hari. Ingat, memilih Presiden, selain kita harus bertanggungjawab kepada Founding Father kita, juga kepada Anak Cucu kita.

Selamat Memilih Presiden yang Baik dan Benar.

Sapto Satrio Mulyo | Foto : Istimewa
Share:

Endah Akan Tampil pada Opening Konser Giant Step di Jakarta

PADANG (WartaMerdeka.id)- Giant Step, band progressive rock legendaris Indonesia yang pernah populer pada tahun 70-an hingga 80-an.

Giant Step kembali bersinar, sejak mereka merilis album terbaru bertajuk Life's Not the Same, di Singapura Mei 2017.


Eksistensi Giant Step di era milineal ini masih dilantunkan oleh vokalis aslinya, Benny Soebardja, diperkuat oleh musisi legendaris Indonesia.


Debby Nasution (keyboard), dan tiga orang musisi muda Jordan (gitar/flute), Audi Adhikara (bass), dan Rhama (drum).

Melanjutkan rangkaian konser di Tanahair, Giant Step akan menggelar konser 'a Progressive Night with Giant Step' pada hari Sabtu, 9 Desember 2017 di Music Room - Hotel Borobudur, Jakarta. Acara akan digelar dari jam 19.00 - 22.00 WIB.

Keunikan konser Giant Step ini, opening-nya akan menampilkan Endah, penyanyi perempuan asal Bandung, pendatang baru di blantika musik Indonesia.

Single perdana Endah berjudul 'Astaghfirullah' dirilis Agustus 2016. sempat masuk Chart Nasheed Islamic Tunes (tangga lagu religi di Asia Tenggara).

Sedangkan single ke duanya yang berjudul Rasaku, dirilis pada bulan Januari 2017.

"Endah tak pernah menyangka diberi kesempatan untuk menjadi opening konser Giant Step, band rock legendaris di Indonesia. Endah akan berusaha memberikan penampilan terbaik, semoga dapat memberikan opening yang bagus untuk konser band rock besar di Indonesia ini, Giant Step," kata Endah, saat kami wawancarai, 28/11/2017.
Endah juga mengatakan, bahwa pada opening konser nanti ia akan tampil membawakan tiga lagu, berjudul 'Rasaku', 'Tuhan Kan Obati', dan ‘Astaghfirullah’. Lagu-lagu tersebut adalah karyanya sendiri, bernuansa slowrock.

Lagu Rasaku mengisahkan jodoh itu ada di tangan Tuhan. Sebagai hambanya, kita hanya bisa berdoa dan berusaha mendapatkan yang terbaik.

Pada lagu Tuhan Kan Obati liriknya memuat pesan, bahwa cukup Allah saja yang benar-benar kita cintai, dan hanya pada-Nya tempat untuk mengobati luka hati. Sedangkan lagu Astaghfirullah mengajak kita agar selalu berusaha memperbaiki kualitas diri agar menjadi pribadi yang lebih baik.

"Kami menampilkan Endah di opening konser nanti karena tertarik dengan potensi yang dimilikinya. Endah punya karakter vokal yang khas, dan punya kans untuk berkembang, dan akan lebih menarik kalau tampil sambil main gitar akustik," kata Benny Soebardja, pendiri grup musik Giant Step, saat diwawancari, 28/11/2017.

Saat menutup wawancara, Endah menambahkan, "Semoga setelah tampil di opening Giant Step, mudah-mudahan Yang Maha Kuasa semakin membuka jalan untuk Endah, dan ada musisi atau produser yang mau mendukung Endah agar lebih produktif lagi untuk berkarya." (M. Fadhli) | Foto : Istimewa
Share:

Fris Okta Falma Sukses Meriahkan Panggung Musik MTQ Sumbar ke-37

Pariaman (WartaMerdeka) – Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional Tingkat Provinsi Sumatra Barat ke-37 Tahun 2017 yang digelar di Kota Pariaman, Sumatra Barat, telah ditutup pada jam 23.30 WIB Jumat malam (10/11). Di acara penutupannya menampilkan paduan suara, orkestra, combo band, dan solo vokal, arahan musisi muda Fris Okta Falma, S.Sn, M.Pd, yang berperan sebagai Pimpinan Produksi dan Music Director. Acara berlangsung dengan khidmat dan meriah.

"Materi yang kami tampilkan pada acara penutupan adalah lagu-lagu religi yang mengajak kita agar meningkatkan keimanan, terutama bagi para siswa SMA yang ikut dalam paduan suara ini. Dengan menghafal lirik shalawat badar yang mereka nyanyikan, semoga membiasakan mereka bershalawat. Untuk pesan moral ada pada lagu hymne dan mars, yang mengajak kita agar selalu bermoral, loyal, dan totalitas mencintai negara dalam ruang berketuhanan," kata Fris, musisi muda asal Koto Subarang - Padangpanjang, kelahiran Bukittinggi 4 Oktober 1989, ketika diwawancarai, (12/11).

Sementara itu, pada acara pembukaan MTQ Sumbar ke-37 ini, Fris juga bertindak sebagai Pimpinan Produksi dan Music Director untuk orkestra Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang dan paduan suara Andalaswara.
"Di acara pembukaannya kita menampilkan kolaborasi musik orkestra dengan musik tradisi Minangkabau, yang mengiringi paduan suara, pengibaran bendera MTQ, dan beberapa lagu religi. Untuk aransemen musiknya dibantu oleh beberapa orang dosen dan alumni ISI Padangpanjang," kata Fris, anak dari pasangan Syafrudin (asal Muaralabuh) dan Sulastri.

Seperti yang dikatakan Fris, keikutsertaannya mengurus orkestra, paduan suara, dan grup band untuk memeriahkan acara pembukaan dan penutupan MTQ Sumbar ke-37, adalah atas kepercayaan dari PT. Octaviany Pariwisata dan Pemko Pariaman.

"Ini pengalaman perdana saya dipercaya untuk mengurus event sebesar ini, pertunjukan kesenian musik yang melibatkan ratusan orang, dengan berbagai sajian pertunjukan. Secara tidak langsung saya dapat ilmu untuk memanajemeni lebih dari 150 orang. Hal ini tentu tidak mudah. Acara yang diadakan di Pantai Kata – Pariaman ini sangat menunjang pariwisata, dapat menghibur para kafilah. Namun kendalanya, kondisi cuaca yang saat ini mudah berubah membuat kewalahan," kata Fris, yang pada bulan Juli 2017 mengomposeri penampilan Sumbar Talenta di 51’st International Folklore Festival – Zagreb, Kroasia.

Atas kesempatan untuk tampil di MTQ Sumbar ke-37, Fris mengucapkan, “Terimakasih kepada Allah SWT. atas rahmat-Nya, dan juga untuk PT. Ocyaviany Pariwisata serta Pemko Pariaman atas amanahnya. Juga rasa terimakasih untuk orkestra ISI Padangpanjang dan paduan suara Andalaswara, serta para siswa di SLTA Kota Pariaman. Dan tak lupa ucapan terimakasih kepada rekan kerja; Ioqo Alhamra Fikri, S. Sn, Hafif H. R, M. Sn, Rozalvino, M. Sn, dan Agung perdana, M. Sn yang telah memberikan sentuhan untuk produksi ini.”

Fris merincikan pengalaman yang pernah didapatkannya selama menekuni dunia musik; pemusik Tari Piring Seribu di Lapangan Merdeka – Kualalumpur - Malaysia (2010), pemusik Merpatih Taman Budaya Seremban - Negeri Sembilan Malaysia (2011 - mewakili Kabupaten Solsel), musisi event Payakumbuh World Music Festival (2012, 2013), komposer di event Malay Herritage - Singapura (2015 – bersama Sumbar Talenta), komposer terbaik se-Sumatra di Festival Komposisi Musik Taman Budaya (2011), The Best Talent Sumbar Talenta (2015), juara 2 A MILD LIVE WANTED Sumatra (2012 - mewakili Sumatra bagian tengah), komposer penampilan Sumbar Talenta di 51’st International Folklore Festival Zagreb – Kroasia (2017), dan menjadi juri musik di beberapa event tingkat provinsi dan nasional.

“Saat duduk di bangku Sekolah Dasar, saya belajar musik secara otodidak. Selanjutnya, bakat ini saya gali dengan kuliah strata satu di ISI Padangpanjang dan Pasca Sarjana di Universitas Negeri Padang – Jurusan Seni Budaya, dan HWK Sumbar dan Sumbar Talenta Organization ikut membesarkan saya di dunia musik. Yang mendukung dari awal adalah kedua orangtua saya, yang berangsur-angsur dari kecil memfasilitasi saya dengan alat-alat musik,” kata Fris.

Fris juga mengatakan, “Musik itu sesuatu yang sangat berharga, apalagi biaya hidup saya sekarang dipenuhi dengan bermusik, membina pergaulan juga karena musik. Saya bisa bina silaturahmi dengan para pejabat dalam negeri maupun luar negeri juga karena musik. Bagi saya, musik sudah ikut mengalir dalam darah saya. Awal ketertarikan dengan musik hanya karena hobi saja, terbawa pergaulan di sekitar rumah. Lama kelamaan hobi ini menjadi profesi.

Sekarang saya jadi dosen musik di kampus STKIP Adzkia - Padang.”
Membagi suka dukanya dalam menekuni dunia musik, Fris menceritakan, “Pengalaman manis dalam menekuni dunia musik, saya jadi bisa jalan-jalan ke luar negeri. Terutamanya bisa beramal, dengan berbagi ilmu bermanfaat untuk orang banyak. Saya berusaha untuk menghargai suatu proses, karena untuk berprestasi itu butuh proses.

Untuk memperoleh ilmu kita harus tabah dan ulet. Dalam berproses kadang kita harus siap menerima caci maki, bentakkan, tamparan, pukulan, dan lainnya. Kalau saya tidak tahan menghadapi itu semua, mungkin saya tidak akan berada di posisi sekarang ini. Semakin tinggi pohon, tentu semakin kencang angin yng menerpanya.

Kesuksesan kadang juga ada ujiannya, rasa iri muncul pada orang-orang tertentu. Tapi itu dijadikan motivasi buat ke depannya, yang penting bagaimana kita menyikapinya, dan harus tetap baik pada semua orang.”

Berbagi pandangan terhadap industri musik saat ini, Fris mengatakan, “Berkaitan dengan kemajuan teknologi saat ini kita dituntut untuk lebih kreatif. Teknologi kini memudahkan kita untuk produktif berkarya, juga dalam memasarkan karya. Inovasi sangat dibutuhkan, mengingat kemajuan teknologi juga berdampak buruk terhadap perlindungan karya cipta, karena mudah dicuri atau diplagiat.”

Terhadap Pemerintah, Fris berharapan, “Pemerintah diharapkan lebih mewadahi kreativitas para pegiat musik, khususnya dalam kesenian tradisi, mengingat derasnya perkembangan musik modern. Miris terasa, para generasimuda lebih minat dengan musik remix, dibandingkan batalempong. Mereka lebih minat band dari pada bagandang. Namun, kita tidak bisa salahkan penetrasi budaya luar. Kerjasama Pemerintah dengan para seniman dibutuhkan, untuk mewujudkan wadah kreatif musik tradisi agar selalu terjaga kelestariannya. Kita bisa contoh Saung Udjo – Kota Bandung,. Salah satu cara mereka mempertahankan budaya Sunda dengan menjadikan alat musik tradisi mereka sebagai ikon kota. Saya saat kunjungan seni ke luar negeri, selalu membawa alat-alat musik tradisi Minangkabau kita. Saya sangat berharap, semoga suatu saat akan ada wadah kreativitas seperti itu di Sumatra Barat.”

Melanjutkan aktivitasnya di dunia musik, Fris punya target, “Untuk jangka pendek, saya lagi mempersiapkan pertunjukan karya musik tradisional yang akan dimainkan oleh anak-anak disabilitas. Dengan berkarya, semoga mereka tidak lagi dipandang sebelah mata. Untuk jangka panjang, saya ingin mediasi dengan Pemprov dan Dinas terkait, membahas Saung Udjo, agar hal serupa bisa diadakan juga di Sumatra Barat.”

Sebagai musisi yang menguasai permainan berbagai alat musik, baik combo band dan juga alat musik tradisi Minangkabau, Fris menyampaikan pesan untuk para generasimuda, “Ada baiknya kita bisa menguasai permainan berbagai alat musik, baik modern dan terutama alat musik tradisi, karena ini akan lebih memudahkan kita untuk berkembang.” (Muhammad Fadhli) | Foto : Dok. Istimewa

Foto 1 - Fris Okta Falma, Musisi. (Dok. Istimewa)
Foto 2 - Fris Okta Falma, Musisi. (Dok. Istimewa)
Share:

Penghayat Kepercayaan Sambut Baik Putusan MK soal Kolom Agama di KTP

Mahkamah Konstitusi (MK) hari Selasa (7/11) mengeluarkan keputusan yang membatalkan Pasal 61 ayat 1 dan Pasal 64 ayat 1 Undang-Undang (UU) Administrasi Kependudukan karena bertentangan dengan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945. Dengan keputusan ini, negara wajib mengakui dan menulis "Penghayat Kepercayaan" dalam kolom agama, yang terdapat dalam Kartu Tanda Penduduk (KTP). Keputusan ini disambut baik dan rasa syukur warga penganut Penghayat Kepercayaan di Indonesia, termasuk di Surabaya.

Masyarakat penganut Penghayat Kepercayaan di Surabaya mengungkapkan rasa syukurnya, atas keluarnya keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) terkait judisial review Undang-Undang Administrasi Kependudukan. Keputusan MK itu memungkinkan Penghayat Kepercayaan dituliskan dalam kolom Agama pada Kartu Tanda Penduduk (KTP). Selama ini warga Indonesia penganut Penghayat Kepercayaan menerima KTP dengan kolom agama yang dikosongi atau tidak diisi.

Ketua Presidium Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia Pusat, Naen Soeryono berharap keputusan ini berdampak positif bagi pemenuhan hak sipil penganut Penghayat Kepercayaan, sebagai sesama warga negara yang berhak memperoleh pelayanan publik yang sama dengan penganut agama pada umumnya.

“Sangat bersyukur bahwa ini berdampak positif, terutama berdampak pada hak-hak sipil masyarakat Penghayat Kepercayaan, ya mulai dari pendidikan, KTP, hak Akta Perkawinan, dan seluruhnya,” kata Naen.

Pengurus Persatuan Warga Sapta Darma (Persada) Pusat, Otto Bambang Wahyudi mengatakan, dirinya juga mensyukuri putusan MK yang merupakan hasil perjuangan warga Penghayat Kepercayaan, untuk memperoleh hak sebagai sesama warga negara.

“Kalau melihat dari saksi-saksi ahli, kemudian dari ungkapan Ketua MK sendiri, yang menyebutkan kalau agama-agama yang dari luar diakui, kenapa yang dari lokal sendiri, yang dari dalam negeri sendiri tidak diakui, itu namanya diskriminasi. Sehingga saya pada waktu itu sudah mengasumsikan kalau MK itu pasti akan menyetujui JR (judisial review) kita,” tukas Otto.

Di Indonesia, ada sekitar 190 organisasi atau kelompok Penghayat Kepercayaan, dengan jumlah pengikut yang diperkirakan mencapai 12 juta. Sementara di Jawa Timur saja, terdapat sekitar 60 organisasi dengan anggota sebanyak 2,4 juta.

Menurut Naen Soeryono, sebelumnya banyak hak warga Penghayat Kepercayaan yang diabaikan dan cenderung mendapat perlakuan diskriminatif dalam layanan kependudukan, pendidikan, hingga penerimaan pegawai negeri sipil dan TNI-Polri.

“Masih banyak pengurusan KTP yang masih dikosongkan, tidak ditulis, dengan demikian maka interprestasi dari masyarakat umum kalau KTP agama terus kosong, itu menimbulkan stigma yang negatif pada masyarakat Penghayat Kepercayaan. Misalnya, mereka dikatakan tidak beragama dan atheis, serta sebagainya. Yang kedua, diskriminasi terhadap masalah-masalah pendidikan, anak-anak Penghayat Kepercayaan, mereka tidak boleh mengatakan bahwa saya orang Penghayat Kepercayaan. Guru selalu mengatakan, kalian harus tunduk pada salah satu agama. Yang ketiga adalah, penerimaan pegawai negeri sipil (PNS), terus masalah-masalah yang muncul yaitu sumpah jabatan, ini masih ada kendala,” tambah Naen.

Konsul Jenderal Amerika Serikat di Surabaya, Heather Variava ketika berkunjung ke Surabaya hari Rabu (8/11) menyempatkan diri berkunjung ke Sanggar Penghayat Kepercayaan di kota pahlawan ini. Usai dialog, Heather Variava mengatakan kepada VOA bahwa keberagaman di Indonesia termasuk dalam hal agama dan kepercayaan, adalah karakteristik yang menjadikan Indonesia negara yang kuat.

“Surabaya seperti Indonesia umumnya adalah kota dan negara yang sangat beragam, dan keberagaman agama di Indonesia salah satu karakteristik yang membantu Indonesia menjadi negara yang snagat kuat, damai, dan terbuka. Dan nilai-nilai ini, keterbukaan terkait dengan agama adalah nilai-nilai yang berada di Amerika Serikat dan juga di Indonesia,” ujar Heather.

Pengamat Sosial dan Dekan FISIP Universitas Wijaya Kusuma Surabaya, Sucahyo Tri Budiono mengungkapkan, keputusan MK terkait pengisian dan pengakuan Penghayat Kepercayaan pada kolom agama di KTP, dapat dipastikan menimbulkan pro dan kontra. Meski demikian, pengakuan hak sipil yang sama bagi warga Penghayat Kepercayaan, menunjukkan kebesaran Indonesia yang beragam dalam persatuan.

“Dari sisi orang agamis memandang bahwa, mereka mungkin agak keberatan, dalam tanda kutip, karena menyetarakan Penghayat Kepercayaan itu dengan Agama, tapi dari sisi penganut Penghayat Kepercayaan itu merupakan sesuatu berkah, karena mereka bisa mengekspresikan eksistensi dirinya lebih terang-terangan. Nah dengan adanya keputusan MK ini merupakan angin segar. Kalah saya sih memandangnya, inilah sebenarnya Indonesia yang bersatu dalam keberagaman, yang beragam dalam satu kesatuan. Mereka ada sebelum agama-agama formal itu ada,” tutur Sutjahjo.

Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo dalam siaran pers yang diterima VOA menyatakan, akan menerima dan melaksanakan putusan MK terkait pengisian Penghayat Kepercayaan pada kolom KTP. Selain itu pihak pemerintah akan berkoordinasi dengan Kementerian Agama dan Kementerian Pendidikan, untuk mendapatkan data Penghayat Kepercayaan yang ada di Indonesia. Data itu akan dipakai untuk memperbaiki aplikasi SIAK (Sistem Informasi Administrasi Kependudukan), serta mensosialisasikan keputusan MK itu pada masyarakat. [pr/em]

Sumber / Copyright : voaindonesia.com
Share:

Penyanyi Legendaris Irma June Rilis Album it’s Me! dengan Kemasan Unik

Padang (WartaMerdeka) - Penikmat musik di Tanahair pada era 80-an hingga 90-an pernah dipikat oleh seorang penyanyi imut bersuara lembut dan merdu, yang tentu masih lekat di ingatan kita, Irma June.

Dengan penampilan kasual dan sederhana, ia mengusung genre pop jazz yang eksklusif. Ini tentu jadi daya tarik tersendiri saat itu. Menandai eksistensinya lagi di dunia musik, pada tanggal 2 Oktober 2017 Irma June kembali mengeluarkan album terbarunya, bertajuk it's Me!, dirilis di 35 digital store yang bisa diakses di seluruh dunia.
"Semoga album terbaru saya ini disukai oleh berbagai kalangan usia. Lirik-lirik lagunya bersifat positif dan membangun. Saya ingin ikut terlibat dalam membawa perubahan positif di dunia musik, dan jadi inspirasi buat berbagai generasi," kata Irma June, penyanyi yang memulai karir musiknya dari penyanyi cilik, seangkatan dengan Anggun C. Sasmi.
Pada album ini terdapat lima lagu; it's Me! (song writer: Roedyanto & Irma June), What Love Is (song writer: Oscar Ciptajaya dan Irma June), I'll Be There For You (song writer: Naratama), Art Of Love (song writer: Angie Yasashi), dan Do Your Best (song writer: Irma June). Dubbing vokal dan arransemen musik dilakukan di tiga studio: iSound, Spoon Master dan ICM. Untuk mixing di dua studio: ICM dan Spoon Master. Sedangkan untuk mastering dilakukan di Nashville (USA - engineer: Steve Carrao).
"it's Me! jadi tajuk di album ini, untuk memberitahukan kehadiran saya kembali di industri musik. Dan saya kembali dengan apa adanya saya, baik dari sisi bermusik maupun penampilan. Itu ditujukan bagi orang-orang yang memang sudah tahu saya sebagai penyanyi sejak dulu. Tapi bagi generasi sekarang yang belum pernah mengenal saya, terimalah saya sebagai pendatang baru dalam dunia musik saat ini, dengan apa adanya saya. it's Me!,” kata Irma June, yang sebelumnya pernah merilis empat album lagu.

Irma June menyebutkan orang-orang yang telah mendukungnya untuk mewujudkan Album it’s Me!, “Saya sejak awal berpartner dengan mas Roedyanto (Emerald BEX Band), mulai dari single it's Me! sampai sekarang menjadi EP. Ada empat orang juga yang sejak awal setia membantu saya di album ini, dengan menuangkan ide-ide kreatif mereka: Oscar Ciptajaya, Angie Yasashi, Very Good Bless, dan Irene Tandiali. Ditambah dengan masuknya satu lagu dari Mas Naratama, seorang Producer TV yang tinggal di New York. Sisanya adalah additional musicians. Dan dukungan dari suami saya, Martin Lengkey, selaku Executive Producer di album ini. Album it’s Me! menjalani proses penggarapan selama satu tahun, dengan adanya revisi kecil maupun besar, agar dapat melekat di hati para pendengarnya.”

Meskipun album it's Me! ini target pemasarannya sampai ke seluruh dunia dan promosinya juga didukung penuh oleh rekan-rekan Irma June yang bergerak di bidang musik dan pertelevisian di Amerika, namun penikmat musik di Tanahair tetap jadi prioritas utama baginya. Bersama manajemen, Irma June sudah mengatur waktu untuk talkshow dan meet and greet di beberapa kota di Indonesia.
"Saya akan aktif membuat meet and greet di berbagai kota, supaya lebih dekat dengan para peggemar saya di Tanahair. Target saya tak berlebihan, hanya ingin pesan-pesan positif yang saya sampaikan lewat lagu-lagu di album terbaru saya ini bisa sampai secara meluas di tengah masyarakat," kata Irma June, yang vokalnya juga memikat hati sepupu Whitney Houston.
Kecenderungan generasi sekarang menggemari lagu-lagu luar negeri yang terkadang mengindikasikan imperialisme terhadap budaya timur yang kita miliki, menjadi kekhawatiran tersendiri bagi Irma June. Mereka menelan mentah-mentah karya luar negeri tersebut, meskipun lirik lagunya bermuatan kata-kata kotor dan jauh dari nilai-nilai luhur budaya di Indonesia. Agar tidak berlarut, album it’s Me diharapkan mampu mengalihkan perhatian mereka. Album it’s Me ini juga dipasarkan dalam bentuk CD, dengan sampul kemasan yang unik.
“Kotak CD album it’s Me! kita desain berbeda dari yang biasa. Kotaknya empuk, seperti squishy. Enak dipencet-pencet. Kalau dipukul ke kepala, bisa dipastikan ngga sakit,” kata Irma June, saat FB Live beberapa hari yang lalu melalui akun sosial medianya. (Muhammad Fadhli) | Foto : Dok. Pribadi
Share:

Masih Alinejad, perempuan Iran penggagas gerakan lepas hijab



Perempuan Iran 
Para perempuan di Iran mengenakan pakaian serba putih pada hari Rabu dan membuang hijabnya sebagai bentuk protes terhadap kewajiban berpakaian di negara itu.

Sebuah kampanye baru di media sosial yang menentang kewajiban berhijab bagi kaum perempuan di Iran meraih banyak dukungan di negara itu.

Dengan menggunakan tanda pagar bertuliskan #whitewednesdays, para netizen mengunggah berbagai foto dan video mereka yang mengenakan hijab berwarna putih atau pakaian serba putih sebagai ungkapan protes.

Gagasan ini dikemukakan oleh Masih Alinejad, pendiri My Stealthy Freedom, sebuah gerakan daring yang menentang kewajiban berhijab di Iran.

Sebelum revolusi Islam pada tahun 1979, banyak perempuan Iran mengenakan pakaian ala barat, termasuk memakai rok mini dan atasan lengan pendek, namun semua ini berubah ketika mendiang Ayatollah Khomeini berkuasa.

Kaum perempuan di Iran bukan hanya dipaksa untuk menutupi rambut mereka sesuai dengan suatu tafsir atas suatu aturan Islam, tapi mereka juga berhenti memakai riasan dan mulai memakai atasan yang melebihi lutut.

Lebih dari 100.000 perempuan dan pria turun ke jalan-jalan untuk melakukan demonstrasi menentang undang-undang tersebut pada tahun 1979, dan perlawanan terhadap kebijakan itu tidak pernah hilang.

Dalam waktu tiga tahun, lembaga My Stealthy Freedom sudah menerima lebih dari 3.000 foto dan video yang memperlihatkan para perempuan tanpa hijab.

Foto-foto yang diunggah dalam situs My Stealthy Freedom biasanya diambil secara sembunyi-sembunyi agar tidak ketahuan oleh pihak berwenang, #whitewednesdays merupakan wadah bagi para perempuan yang ingin menunjukkan diri mereka tanpa hijab di depan umum.


Mengambil resiko


Kini di minggu kelima, tagar #whitewednesdays sudah menarik banyak pengikut - lebih dari 200 video dikirim ke Alinejad dalam dua minggu pertama, beberapa di antaranya sudah disaksikan sebanyak 500.000 kali.

"Saya sangat terpacu untuk turut serta dalam kampanye ini," tutur salah seorang kontributor dalam sebuah video saat ia berjalan kaki di sebuah jalan protokol. "Saya ingin berbicara kepada Anda tentang nasib saya yang terkungkung, mereka memaksa saya mengenakan hijab sejak saya berusia tujuh tahun," katanya sambil melepaskan hijabnya, "padahal saya merasa tidak pernah berkomitmen terhadapnya dan tidak akan pernah."

Alinejad mengatakan ia kagum atas keberanian yang ditunjukkan oleh para perempuan tersebut - beberapa diantaranya mengirim video yang memperlihatkan mereka tengah berjalan-jalan tanpa mengenakan hijab sama sekali.

"Ketika saya menyatakan kekhawatiran saya tentang keamanan (seorang perempuan yang mengirimkan video)," kata Alinejad, "ia menjawab bahwa ia lebih suka membahayakan pekerjaannya daripada terus hidup di bawah penindasan yang diderita perempuan Iran selama 38 tahun terakhir."

Bagi Alinejad, proyek ini merupakan sesuatu yang didorong oleh cinta, oleh hati. Ia menjalankan kampanye itu sendirian, terkadang mendapat mantuan sejumlah relawan, dan kadang-kadang ia begadang sepanjang malam untuk mengunggah video secara online.

Sebagian besar foto dan video berasal dari Iran, namun ada juga yang datang dari Arab Saudi (yang juga mewajibkan hijab) dan yang lebih jauh lagi, dari Eropa dan Amerika Serikat.

Seorang perempuan di Afghanistan menuliskan kekagumannya terhadap kampanye ini serta para peserta yang terlibat di dalamnya, meskipun ia sendiri terlalu takut untuk memajang foto tanpa hijab.

Afghanistan sendiri tidak mewajibkan perempuan untuk mengenakan hijab, namun banyak gadis remaja serta perempuan dewasa dipaksa oleh keluarga mereka untuk memakainya.


Reaksi balik media


Alinejad mengatakan ia turut serta dalam gerakan emansipasi perempuan Iran, serta kaum pria yang mendukung mereka.


Seorang peserta mengatakan bahwa gerakan mereka penting karena "kalaupun bisa membuat saya dibui dan tidur dengan kecoak, gerakan ini akan sangat bermanfaat untuk membantu generasi berikutnya."

Alinejad memandang dirinya sebagai seseorang yang turut membantu kampanye, bukan memimpinnya.

Perempuan Iran, katanya, "memimpin diri mereka sendiri, mereka tidak membutuhkan saya, mereka hanya membutuhkan sebuah platform dan saya menyediakannya."

Namun langkah Alinejad harus dibayar mahal. Alinejad, yang tinggal di pengasingan di AS, belum pernah kembali ke Iran sejak 2009 dan saat ini tidak dapat kembali ke negara asalnya karena menghadapi risiko ditangkap.

Setelah digulirkannya kampanye ini, pimpinan redaksi kantor berita Tasnim Iran menerbitkan foto Alinejad bersama suaminya dan menyebutnya sebagai seorang pelacur.

Sementara sebuah situs berita yang berafiliasi dengan Korps Garda Revolusioner Islam Iran, Mashregh News, memasang foto lama keluarga Alinejad bersama ibunya, yang mengenakan busana cadar hitam yang menutupi kepala sampai kaki, beserta ayahnya. Foto tersebut dipasang dengan keterangan 'Mampuslah kamu, Masih."

Alinejad bersikap tegar, mengatakan bahwa tak satu pun reaksi balasan tersebut yang akan menghentikannya dalam berjuang merebut kambali kebebasan kaum perempuan.

Kini ia ingin mengarahkan kampanye itu menjadi suatu gerakan global terpadu, di mana makin banyak perempuan di seluruh dunia mengidentifikasi diri mereka dengan #whitewednesdays dan membuat suatu pernyataan bersahaja tentang berbusana, sebagai bentuk dukungan yang kuat.

Hak atas foto MY STEALTHY FREEDOM

Copyright : bbci.co.uk
Share:

Lebih Enak Zaman Soeharto?

Romantika "enak zaman Soeharto” yang tak malu-malu didengungkan sungguh memuakkan dan membikin hati panas. Di akhir tahun 1980-an, saya mulai menyadari betapa sengsara hidup di bawah kekuasaan diktator; meskipun ia tampil murah senyum dan sungguh santun, walaupun matanya tak pernah terlihat melotot, dan tak pernah tampil dengan urat leher yang mengejang karena menjerit. Sang diktator yang selalu tampil kalem dengan suara menenangkan dan sosok mengayomi jelas bertangan besi ketika memasung hak politik rakyatnya. Dari hal paling dasar dalam negara yang mengaku menganut sistim demokrasi: pemilihan umum.


Penulis: Uly Siregar

Penulis: Uly Siregar

Agenda politik lima tahunan di era Soeharto digelar dengan target memilih presiden dan wakilnya, juga memilih wakil rakyat melalui tiga partai: Golkar (Golongan Karya), PPP (Partai Persatuan Pembangunan), dan PDI (Partai Demokrasi Indonesia). Tapi dalam kenyataannya, rakyat hanyalah memilih partai. Wakil rakyat (DPR dan MPR) dipilih oleh Presiden Soeharto dengan usulan dari panitia yang juga ditunjuk oleh presiden. DPR dan MPR yang dipilih presiden ini yang bertugas menetapkan siapa yang bakal menjadi presiden untuk lima tahun ke depan. Pejabat di masa Orde Baru adalah pejabat tipikal ‘yes man' yang mengabdi pada Soeharto dengan tujuan utama melanggengkan jabatan sang diktator, bukan melayani rakyat. Dengan cara ini pula Soeharto menciptakan budaya korupsi yang mengakar begitu kuat ke dalam sendi-sendi bermasyarakat, demikian kuatnya hingga korupsi pun dianggap normal.
Merambah ke politik, budaya, dan lain sebagainya...

Menurut saya pribadi, praktik politik ini salah satu sisi paling buruk dari rezim Soeharto. Pada masa itu pegawai negeri sipil wajib mencoblos Golkar. Kalau ada yang berani melanggar susah dipastikan kariernya bisa selamat. Kalau mau jujur, entah apa gunanya pemilu karena toh hasilnya selalu sama: Golkar meraih suara terbanyak, diikuti oleh PPP, lantas PDI di tempat terakhir. Dengan hasil yang tak perlu prediksi analis politik ataupun lembaga survei, pemilu tak ada gregetnya. Peristiwa politik lima tahunan itu hanya formalitas dan basa-basi. Tak seperti sekarang setiap orang terlibat dengan semangat, saling menggadang-gadang pihak yang menjadi pilihan, dan menyerang mereka yang mencoba menjatuhkan. Dinamika yang sepertinya rentan chaos ini sesungguhnya memberi rakyat kebebasan menjatuhkan pilihan sesuai selera politik mereka. Intimidasi dan iming-iming jelas masih ada, tapi tak lagi absolut milik penguasa. Penguasa kini justru harus pandai-pandai mengambil hati rakyat, sesuatu yang tak lazim di masa lalu.

Selain soal hak politik yang dirampas, satu lagi yang dihilangkan di masa Orde Baru adalah kebebasan berpikir kritis. Saya ingat persis saat kuliah harus sembunyi-sembunyi membaca dan menyebarkan buku karya Pramoedya Ananta Toer, Nyanyi Sunyi Seorang Bisu. Buku yang memuat kumpulan tulisan non fiksi tentang hidup Pram di pengasingan Pulau Buru itu dipercaya oleh penguasa bisa membahayakan stabilitas negara, memberi ruang bagi tumbuhnya komunisme. Agar lebih aman, semua buku karya Pram pun dilarang beredar, termasuk novel tetralogi legendaris Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca.

Yang mengerikan, kebebasan berpikir kritis dipasung secara sistematis di segala aspek kehidupan berbangsa. Kampus yang seharusnya menjunjung tinggi kebebasan berpikir disusupi intel yang mengawal mahasiswa agar tak kelewat kritis, apalagi kritis terhadap pemerintah. Kebijakan Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kampus (NKK/BKK) membuat mahasiswa menjauh dari politik bahkan cenderung takut. Tak banyak mahasiswa yang mau ambil risiko berhadapan dengan penguasa yang memata-matai pergerakan mahasiswa. Menjadi aktivis di zaman Orba mengandung risiko, termasuk risiko diculik dan dilenyapkan.

Bagaimana dengan media?

Pers pada masa Presiden Soeharto pun mengalami persoalannya sendiri. Kontrol yang ketat membuat pers cenderung menjadi corong pemerintah. Tak hanya berlaku bagi TVRI dan RRI yang jelas-jelas kepanjangan tangan pemerintah, tapi pada media massa secara keseluruhan. Semua penerbitan media massa berada dalam pengawasan Departemen Penerangan. Pada masa itu pers Indonesia pun diberi sebutan Pers Pancasila, pers yang dituntut menerapkan kebijakan "bebas dan bertanggung jawab”. Bukan hal buruk sebenarnya, bila saja "tanggung jawab” yang dimaksud mengacu pada kredibilitas dan akurasi, bukan dalam konteks "sesuai keinginan penguasa”.
Jadi kalau ada pihak yang ngoceh "lebih enak zaman Soeharto, ah” mungkin mereka memang perlu terus-menerus diingatkan. Kebebasan di berbagai aspek yang kita raih melalui reformasi 1998 ini wajib kita jaga baik-baik. Jangan lagi mau menjadi rakyat yang takut pada penguasa, yang gerak-geriknya dikontrol pemerintah. Jangan juga jadi cengeng dengan gampang mengeluh bahwa kita kini memasuki zaman kebebasan yang kebablasan. Jangan hanya karena sebagian dari kita gampang percaya hoax lantas ingin kembali ke masa informasi penuh kontrol ala Orba. Hanya karena lelah berseteru setiap pemilu langsung kangen dengan masa-masa pemilu ‘damai' tanpa ‘huru-hara' seperti saat Presiden Soeharto berkuasa, saat rakyat hidup dalam ilusi rasa tentram yang palsu. Percayalah, mengedukasi rakyat terus-menerus agar lebih cerdas menggunakan hak politik mereka jauh lebih menjanjikan daripada membiarkan kontrol absolut jatuh ke tangan penguasa.

Penulis:

Uly Siregar (ap/hp)  bekerja sebagai wartawan media cetak dan televisi sebelum pindah ke Arizona, Amerika Serikat. Sampai sekarang ia masih aktif menulis, dan tulisan-tulisannya dipublikasikan di berbagai media massa Indonesia.

@sheknowshoney

*Setiap tulisan yang dimuat dalam #DWNesia menjadi tanggung jawab penulis.

Share:

Hegemoni cara Berfikir ber-Agama

"Siswa SMK N 7 Semarang Disuruh Masuk Islam kalau mau naik kelas"
Zulfa Nur Rahman putri Bapak Taswidi adalah seorang siswi sekolah SMK Negeri 7 Semarang yang beragama “Pengikut Penghayat kepercayaan Tuhan Yang Maha Esa yang memiliki KTP (-)” diminta membuat surat pernyataan, dengan isi “kalau ingin naik kelas, ia harus mau pindah ke agama Islam.”

Ini merupakan awal dari Hegemoni cara Berfikir ber-Agama. Kalau hal ini didiamkan akan menjadi preseden buruk bagi pendidikan di Indonesia secara menyeluruh.

Guru pun memberikan opsi hanya sebagai kamuflase agar tidak dibilang diktaktorian dalam memaksa orang lain untuk ber-Agama sama dengan apa yang dianutnya.
Ada tiga opsi yang diberikan kepada Zulfa :

Naik kelas tapi harus pindah sekolahan.
Masih boleh sekolah di SMK Negeri 7 Semarang dengan sarat mengikuti dan masuk agama Islam. Ia akan disyahadatkan dan disaksikan oleh orang banyak.
Naik kelas tetapi masuk Islam dan mengikuti pelajaran baik teori dan praktiknya.
Margono yang juga seorang pengikut penghayat kepercayaan terhadap Tuhan YME yang ber-KTP (-) di Semarang, menyatakan sebenarnya pihak orang tua akan menggugat kebijakan sekolah yang diskriminatif tersebut. Tetapi pihaknya kesulitan mencari pengacara yang mau berpihak pada pengikut kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Negara ini berdasarkan Pancasila, dan bukan negara hanya untuk agama tertentu, lanjut Margono.

SSM

Foto : nkrijayanews.blogspot.com/2016/09/ingin-naik-kelas-siswa-smk-n-7-semarang.html
Share: