loading...
Home » » Lombok Terapkan Protokol CHSE Sambut Pariwisata Berkelanjutan

Lombok Terapkan Protokol CHSE Sambut Pariwisata Berkelanjutan

Posted by WARTA MERDEKA on 2020-09-19

Wabah Covid-19 menjadikan manusia untuk lebih peduli untuk merawat bumi
Lombok (WartaMerdeka) – Lombok sebagai salah satu destinasi super prioritas menerapkan protokol kesehatan berbasis CHSE (Cleanliness, Health, Safety, and Environmental Sustainability) sebagai upaya wujudkan pariwisata berkelanjutan dan bangkit kembali di masa adaptasi kebiasaan baru.

Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggara Kegiatan (Event) Kemenparekraf/ Baparekraf, Rizki Handayani saat seminar daring bertajuk “Bincang-bincang Revitalisasi Bumi: Sinergi & Kolaborasi Menjaga Bumi” (18/9) menyebut, acara revitalisasi bumi ini bertujuan pulihkan destinasi wisata di Indonesia. Ketika tidak ada wisatawan yang datang berkunjung akibat pandemi, maka ini merupakan waktu yang tepat untuk menghidupkan kembali sekaligus membersihkan alam Indonesia.
“Karena yang bisa mencegah penyebaran Covid-19 ini di antaranya dengan menjaga kebersihan. Masalah kebersihan ini bukan hanya melibatkan diri sendiri, tetapi juga kebersihan lingkungan yang ada di sekitar kita,” ucap Rizki. Disamping itu, pola wisatawan kekinian berubah dari mass tourism ke quality tourism, yang mengedepankan hygiene sekaligus memberikan rasa aman dan nyaman dalam berwisata.
Sementara Analis Kebijakan Kemenparekraf, Noviendi Makalam mengatakan, “pandemi ini memberikan pelajaran yang berharga bahwa kita sebagai manusia harus menjaga dan merawat bumi ini dengan sebaik-baiknya.” Founder & Executive Director of Divers Clean Action, Swietenia Puspa Lestari, menambahkan, kegiatan revitalisasi bumi bukan hanya sekadar bersih-bersih pantai, tetapi memberikan insight mengenai langkah-langkah yang harus diterapkan untuk mewujudkan CHSE di setiap titik destinasi.
“Hal ini tercermin dari data-data hasil pembersihan sampah yang kita lakukan bersama lebih dari 1600 pekerja wisata bahari di 16 titik yang tersebar di Bali dan Lombok. Dari sampah yang dikumpulkan di area Bali dan Lombok, sekitar 3,11 ton berhasil ditangani,” jelas Swietenia. Karena revitalisasi bumi, tambahnya, tak sekedar seremonial saja, tetapi langkah awal untuk menentukan langkah selanjutnya guna melestarikan lingkungan alam Indonesia.
Sementara Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Nusa Tenggara Barat, Lalu Moh. Faozal memberikan apresiasi kepada Kemenparekraf dan seluruh stakeholders yang terlibat dalam penerapan protokol kesehatan berbasis CHSE. Faozal juga menjelaskan, empat destinasi wisata di Lombok yang siap melakukan standarisasi protokol kesehatan berbasis CHSE, yaitu Gili, Rinjani, Mandalika, dan Kota Mataram. “Empat area ini kami fokuskan untuk sertifikasi CHSE. Karena, CHSE ini merupakan acuan untuk kita dan harus diterapkan di seluruh destinasi wisata di Indonesia,” papar Faozal.
Musisi & Pemerhati Kelestarian Alam dan Lingkungan, Kaka Slank, berkomentar, pandemi ini memberikan alam untuk rehat sejenak. Setelah alam sudah mempercantik dirinya kembali, wisatawan harus memiliki pengetahuan mengenai how to travel supaya wisatawan bisa menghargai dan merawat alam Indonesia. Tentunya dengan selalu menerapkan protokol kesehatan secara disiplin.
“Sebetulnya kedisiplinan kita adalah bentuk rasa sayang kita terhadap orang lain dan juga terhadap alam. Untuk itu, marilalah kita cerdas dalam berwisata dan selalu memperhatikan protokol kesehatan,” ungkap Kaka Slank (vh/lw).

Terimakasih sudah membaca & membagikan link WARTA MERDEKA

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Warta Merdeka Indonesia