loading...
Home » » Menteri Siti Beri Perhatian Khusus Di Hari Hutan Internasional

Menteri Siti Beri Perhatian Khusus Di Hari Hutan Internasional

Posted by WARTA MERDEKA on 2021-04-02

Penanaman mangrove bisa membantu perbaikan kualitas pelestarian lingkungan
Jakarta (WartaMerdeka) – Sambut Hari Hutan Internasional (HHI) tahun 2021 ini, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) gelar webinar secara telekonferensi dan siaran langsung pada kanal media sosialnya (31/3). Menteri LHK, Siti Nurbaya yang hadir menjadi pembicara kunci, menyampaikan beberapa pesan kepada masyarakat agar dapat turut serta menjaga kelestarian hutan.

Pertama, Siti berpesan, hutan harus dijaga karena dapat memberikan manfaat kesehatan bagi semua orang. Hutan dapat memberikan udara segar, makanan bergizi, air bersih dan ruang rekreasi. “Di negara maju, hingga 25 persen dari semua obat-obatan adalah nabati, di negara berkembang kontribusinya mencapai 80 persen,” ucapnya.

Pada beberapa waktu lalu, KLHK telah menyampaikan hasil penelitian berkerja sama dengan masyarakat sekitar kawasan hutan dalam melakukan bioprospecting atau pemanfaatan sumber daya genetik yang mendukung kebutuhan pangan dan farmasi. Contohnya, penelitian Candidaspongia sp. di Taman Wisata Alam (TWA) Teluk Kupang untuk anti kanker; mikroba yang berguna bagi tanaman di Taman Nasional (TN) Gunung Ciremai yaitu Cendawan (Hursutella sp dan Lecanicillium sp), Isolat bakteri pemacu pertumbuhan (C71, AKBr1, dan AKS), dan Isolat bakteri antifrost (PGMJ1 dan A1).

Kedua, hutan harus dijaga karena dapat menjadi sumber pangan bagi masyarakat sekitarnya. Daya saing sumber daya alam Indonesia ada di peringkat 17 dari 139 negara. Hutan tropis Indonesia adalah terbesar ketiga setelah Brazil dan Kongo. Sekitar 59% daratan di Indonesia merupakan hutan tropis yang merupakan 10% dari total luas hutan di dunia, sekitar 126 juta Hektare (Ha) hutan.

“Keberadaan hutan Indonesia telah memberikan kontribusi sebagai sumber pangan untuk 48,8 juta orang yang tinggal di dalam dan sekitar hutan, di mana 30% di antaranya benar-benar bergantung dari hasil hutan,” jelas Siti.

Ketiga, dengan menjaga dan memulihkan fungsi kawasan hutan akan meningkatkan kualitas lingkungan menjadi lebih baik. Deforestasi dan degradasi hutan mengemisi gas rumah kaca, dan setidaknya 8 persen tanaman hutan dan 5 persen hewan hutan berada pada risiko kepunahan sangat tinggi. Indonesia telah berhasil menurunkan deforestasi sebesar 75,03% pada 2019-2020, hingga 115,46 ribu Ha. Angka ini jauh lebih baik dibanding deforestasi 2018-2019 mencapai 462,46 ribu Ha.

“Restorasi dan pengelolaan hutan lestari akan mengatasi krisis perubahan iklim dan ancaman kehilangan keanekaragaman hayati, yang secara bersamaan juga dapat menghasilkan barang dan jasa lingkungan yang dibutuhkan untuk pembangunan berkelanjutan,” papar Siti.

Terakhir pesan Siti, pengelolaan hutan berkelanjutan akan menciptakan banyak mata pencaharian yang ramah lingkungan. Siti menerangkan, Indonesia memiliki 31.957 desa yang tersebar di seluruh penjuru Indonesia, kurang lebih 71,06% desa tersebut berinteraksi dengan hutan dan penduduknya menggantungkan hidupnya dari sumber daya hutan.

Hari Hutan Internasional (HHI) ditetapkan melalui Resolusi Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) Nomor 67 Tahun 2012. Selama 7 tahun, sejak 2014, setiap tanggal 21 Maret Indonesia memperingati HHI melalui serangkaian kegiatan yang bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran publik tentang pentingnya hutan, fungsi dan langkah-langkah pengelolaan hutan untuk menjaga kelestariannya.

Dari data PBB, sambung Siti, tercatat hutan menyediakan lebih dari 86 juta green jobs dan mendukung mata pencaharian lebih banyak orang. Kayu dari hutan yang dikelola dengan baik mendukung beragam industri, dari kertas hingga pembangunan gedung-gedung tinggi. Investasi dalam restorasi hutan akan membantu pemulihan ekonomi dari pandemi dengan menciptakan lebih banyak lapangan kerja.

Dalam upaya mengaktualisasikan empat pesan pokok tersebut, Siti menyebut ada beberapa prinsip pendekatan untuk dipahami. Pertama, melakukan upaya besar-besaran dalam rangka pemulihan lahan yang terdegredasi. Lahan kritis di Indonesia pada 2018 dengan kriteria sangat kritis dan kritis tercatat seluas 14,01 juta Ha. 

Pada periode 2015-2018, telah dilakukan penanaman seluas 788.400 Ha. Di 2019-2020 dilakukan percepatan penanaman pohon seluas 250 ribu Ha, juga penanaman mangrove seluas 63 ribu Ha serta  pemulihan dan tercatat  restorasi gambut sejak 2017-2020 seluas 3,438 juta Ha. Pada 2021 terus dilakukan penanaman mangrove seluas 81.000 Ha dan sedang disiapkan untuk penambahan luas penanaman menjadi 150.000 Ha mangrove.

Prinsip lainnya, adalah menekankan “setiap pohon sangat berarti”. Jadi, Siti mengajak, kegiatan penanaman dan pemulihan lahan meskipun dalam skala kecil dapat berdampak besar. Penghijauan kota dapat menciptakan udara lebih bersih, ruang lebih indah serta memiliki manfaat besar bagi kesehatan mental dan fisik penduduk perkotaan. PBB memperkirakan, pohon di perkotaan beri manfaat sangat bernilai dengan mengurangi polusi udara, mendinginkan bangunan, dan menyediakan layanan lainnya.

Lalu, prinsip tentang pelibatan dan pemberdayaan masyarakat untuk mengelola hutan secara berkelanjutan merupakan langkah penting menuju perubahan yang positif. Lingkungan yang sehat membutuhkan keterlibatan pemangku kepentingan, terutama di tingkat lokal sehingga masyarakat dapat mengatur dan mengelola lahan tempat mereka dengan lebih baik.

“Pada kesempatan ini, saya ingin menekankan pentingnya peningkatan kepedulian untuk menjaga lingkungan, hutan dan keanekaragaman hayati yang salah satunya melalui kegiatan penanaman pohon, mangrove dan pemulihan gambut, sebagai jalan menuju pemulihan dan kesejahteraan,” terang Siti (dh).

Foto: Dok.Kemenko Marves

Terimakasih sudah membaca & membagikan link WARTA MERDEKA

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Warta Merdeka Indonesia