-->

Notification

×

Indeks Berita

Iklan

Naskah “La Galigo” Rebut Simpati Masyarakat Dunia

2021-12-12 | 18.25 WIB Last Updated 2021-12-12T11:27:28Z
 Denny JA, ketum Perkumpulan Penulis Indonesia SATUPENA
Jakarta (WartaMerdeka) – Naskah klasik “La Galigo” memiliki daya Tarik tersendiri, baik di dalam maupun luar negeri. Diantaranya pernah dipentaskan di teater oleh sutradara ternama Amerika, Robert Wilson, di berbagai negara di dunia. Seperti: Singapura, Italia, Spanyol, dan Belanda.

Saking istimewanya, sejak 2011 diakui oleh UNESCO sebagai salah satu kekayaan dunia yang perlu dilindungi, dan bisa diakses secara universal lewat digitalisasi. Ini diutarakan Denny JA, Ketua Umum Perkumpulan Penulis Indonesia, SATUPENA, saat sebagai penanggap Prof. Dr. Nurhayati Rahman, narasumber dalam diskusi membahas “La Galigo” di Webinar Obrolan Hati Pena #17 di Jakarta (12/12).

Dalam diskusi yang diadakan oleh SATUPENA itu, Denny mengatakan, keistimewaan “La Galigo” lainnya. adalah merupakan sastra kuno terpanjang di dunia. “La Galigo” terdiri dari 360 ribu bait dan 6.000 halaman. Panjang “La Galigo” mengalahkan “Mahabarata” dari India,” terang Denny. .

Selain itu, meski merupakan mitologi, “La Galigo” membawa nilai-nilai modern. Seperti: demokrasi dan kesetaraan gender. “Keistimewaan keempat, karya sastra yang berasal dari abad ke-14 ini dijadikan kitab suci agama lokal Tolotang di Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan,” lanjut Denny. Ia dijadikan ritus dan pandangan hidup.

Salah satu bentuk karya sastra La Galigo
Keistimewaan berikutnya dari “La Galigo”, memperkenalkan lima jenis gender. Yaitu: perempuan, laki-laki, calalai (bertubuh perempuan, tapi mengambil peran gender laki-laki), calabai (bertubuh laki-laki, tapi mengambil peran gender perempuan), dan bissu, gabungan dari semua gender (lw).

Iklan

×
Berita Terbaru Update