-->

Notification

×

Indeks Berita

Era Digital, Tantangan Bagi Penerbit Buku

2022-06-17 | 07.30 WIB Last Updated 2022-06-17T00:30:47Z
Kebiasaan masyarakat kini yang serba digital tak bisa dihindari
Jakarta (WartaMerdeka) – Tren penurunan penjualan buku telah terjadi secara global, dan ini sudah diketahui pada 2013. Tahun ini dikonfirmasi, ledakan penjualan buku sudah berlalu. Salah satu penyebabnya adalah di era Internet atau digital, dimana kita menuju ke masyarakat tanpa kertas atau “paperless society.”

Hal itu diungkapkan Denny JA, Ketua Umum Perkumpulan Penulis Indonesia Satupena, dalam Webinar di Jakarta (16/6). Webinar ini mengulas tentang nasib dunia penerbitan dan perbukuan di Indonesia pasca-pandemi.

Denny menunjukkan, di era digital sekarang ini penyimpanan data tak lagi memerlukan kertas. Administrasi pemerintahan juga semakin tidak memerlukan kertas (paperless government). Tercatat pada 2021, Dubai telah menjadi “paperless government” pertama di dunia. “Interaksi di antara berbagai bagian pemerintahan semakin tidak menggunakan kertas,” ujar Denny.

Denny JA
Di bidang ekonomi, berbagai transaksi juga semakin meninggalkan uang kertas, seperti transaksi dengan uang digital. Misalnya, lewat aplikasi digital Pay Pal, Go Pay, Apple Pay, dan Google Pay. “Makin banyak orang belanja melalui Tokopedia, Shopee,” lanjut Denny.

Menurut Denny, tren serupa juga terjadi di dunia media. Berita pada koran cetak paling cepat hanya bisa di-update per hari. Padahal di era digital ini, update berita bahkan terjadi dalam hitungan detik. Tuntutan ini tak bisa lagi ditampung di koran cetak yang terbit harian.

Ditambahkan Denny, pandemi Covid-19 telah mempercepat hadirnya masyarakat tanpa kertas atau “paperless society.” Hal ini karena saat pandemi, publik menghindari kontak fisik untuk menghindari penularan virus (dh).

Foto: Istimewa

Keterangan Foto:

-          Kebiasaan masyarakat kini yang serba digital tak bisa dihindari

-          Denny JA
×
Berita Terbaru Update