-->

Notification

×

Indeks Berita

Iklan

Demokrasi Ala Bung Hatta Mesti Khas Indonesia

2022-08-12 | 20.43 WIB Last Updated 2022-08-12T13:43:17Z
Bung Hatta
Jakarta (WartaMerdeka) – Bung Hatta, Proklamator Kemerdekaan RI, beri dukungan atau favoritisme pada demokrasi, tetapi bukan demokrasi ala Barat yang individualistik. Karena individualisme yang terlalu kuat bisa memperlebar jurang kaya dan miskin.

Hal itu diungkapkan Denny JA, Ketua Umum Perkumpulan Penulis Indonesia, Satupena, saat webinar di Jakarta (11/8).

Webinar ini membahas tema “Karsa Bung Hatta Untuk Bangsa," dipandu Elza Peldi Taher dan Swary Utami Dewi.

Denny mengungkapkan, embrio pemikiran Bung Hatta terdiri dari tiga unsur. Yaitu: demokrasi (non-individualisme), sosialisme (non-komunisme), dan agama Islam (non-Negara Islam).

Bung Hatta juga mendukung Sosialisme, yang memberdayakan rakyat banyak dan memberi pemerataan ekonomi pada rakyat.

“Tetapi Bung Hatta tak suka jika sosialisme ini diwarnai komunisme yang mengarah ke diktator proletariat, dan tidak memberi tempat untuk demokrasi,” ujar Denny.

Bung Hatta juga sangat diwarnai oleh pengalaman hidup dan nilai-nilai keislaman. “Tetapi ia tidak pro pada perjuangan yang lebih keras lagi, yang mengarah ke Negara Islam,” tutur Denny.

Bung Hatta mendukung demokrasi sosial ala Indonesia. Yang dijadikan model adalah Negara Kesejahteraan Eropa Barat. Yakni, model negara-netara Nordik, seperti Finlandia, Denmark, Swedia, dan Norwegia, yang dimodifikasi.

Denny menjelaskan, sekarang sudah ada cara baru yang dikembangkan PBB, untuk mengukur kemajuan suatu negara, yang tidak semata-mata ditentukan oleh ekonomi. Tetapi oleh tingkat kebahagiaan warganya.

Ternyata, dengan kriteria baru itu, negara Nordik unggul dalam ukuran kebahagiaan warganya. Dalam data Indeks Kebahagiaan Dunia 2022, nomor 1 dipegang Finlandia dan nomor 2 Denmark. Nomor 3 dan 4 dipegang Swiss dan Islandia (bp).

Iklan

×
Berita Terbaru Update